ASI Bukan Pengganti Imunisasi

Air Susu Ibu (ASI) merupakan cairan paling ampuh dalam membangun sistem imun anak. Namun, meski anak sudah mendapatkan kekebalan dari ASI, mereka tetap membutuhkan imunisasi. Karena ASI saja tidak cukup melindungi anak dari penyakitpenyakit ganas.

“Pendapat salah, bila seorang yang diberikan ASI eksklusif tidak perlu lagi diimunisasi. ASI tidak mampu menggantikan imunisasi,” kata Sekretaris 1 Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim B Yanuarso.

Menurut dr Piprim, pakar ASI biasanya berpendapat bahwa ASI mengandung komponenkomponen zat imun pencegah penyakit. Namun, ASI hanya melindungi bayi dari penyakit secara umum, karena perlindungannya bersifat pasif. Berbeda dengan imunisasi yang merangsang timbulnya kekebalan aktif.

ASI tidak bisa menggantikan imunisasi, karena tidak mencukupi untuk membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu. Bila jumlah kumannya banyak dan ganas, dikhawatirkan perlindungan alami tidak mampu melindungi kesehatan anak.

“Kekebalan yang diberikan ibu pada anak lewat ASI sifatnya sangat sementara. Apalagi halhal spesifik seperti polio tidak ada pada ASI,” kata dr Piprim.

Dalam imunisasi, bayi diberi antigen yang berfungsi merangsang sistem imun. Antigen tersebut dapat merupakan bakteri atau virus yang telah dilemahkan melalui rekayasa genetika. Setiap bakteri atau virus punya antigen yang khas, seperti vaksin cacar air (varicella) memiliki antigen khas untuk virus cacar air. Saat Antigen disuntikkan ke tubuh, sel memori akan timbul dan sistem imun akan mengenali. Kemudian tubuh akan mengingatnya seumur hidup. Jadi saat terkena cacar air lagi, maka tubuh sudah kebal.

Bagi orang yang belum divaksin cacar air, saat terjadi serangan virus cacar air, tubuh tidak memiliki memori tentangnya. Virus masuk dan sistem imun kerepotan menghadapinya sehingga kalah dan seseorang terserang penyakit.

“Vaksin yang terdiri dari virusvirus yang telah dilemahkan itu tidak bikin sakit, tapi menimbulkan kekebalan pada tubuh manusia. Latihan peperangan yang menyerupai infeksi alamiah itulah yang menimbulkan kekebalan aktif pada tubuh,” jelas dr Piprim.

Dr Piprim memberikan contoh kasus di Nigeria pada 2003 sebagai bukti nyata bahwa ASI tidak dapat menggantikan imunisasi. Pada saat itu ada beberapa kawasan yang menolak imunisasi polio, karena beredar isu bahwa vaksin polio mengakibatkan mandul dan mengandung virus HIV. Pemberian vaksin polio pun terhenti selama satu tahun. Akibatnya, ada ribuan bayi yang lumpuh terkena polio pada rentang waktu 2005 hingga 2006. Padahal, di negara tersebut bayibayinya diberikan ASI eksklusif.

“Itu bukti nyata bahwa bayi ASI eksklusif pun bisa terkena polio dan lumpuh jika tidak mendapat vaksin polio. Jadi, omong kosong kalau ada orang yang bilang ASI bisa melindungi seseorang dari penyakit polio,” ungkap dr Piprim. (Wtr4)

sumber : http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/11/28/115700/ASIBukanPenggantiImunisasi/11

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *