Bagaimana Cara Mengetahui bahwa Sesuatu adalah KIPI atau Bukan ?

sumber: alamedahealthsystem.org
(sumber: alamedahealthsystem.org)

Perlu diketahui bahwa tidak ada satu tindakan kesehatan apapun yang tidak memiliki resiko. Begitupula vaksin. Maka dari itu ada mekanisme survaillance atau monitoring, yang bukan hanya berfungsi memonitor efektivitas obat atau vaksin tetapi juga memonitor setiap kejadian yang tidak menyenangkan atau rasa tidak nyaman pada saat pemberian obat atau vaksin. Agar menghasilkan imunogenitas tinggi vaksin harus berisi antigen yang efektif untuk merangsang respon imun si penerima vaksin sehingga tercapai antibodi diatas ambang pencegahan untuk jangka waktu yang panjang. Reaksi simpang atau dikenal dengan KIPI merupakan kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi ataupun efek simpang, reaksi sesitivitas, efek farmakologis, koinsidensi, reaksi suntikan atau belum diketahui hungan kausalnya.

Tiga kategori KIPI menurut WHO

  1. Program related, atau hal – hal yang berkaitan dengan kegiatan imunisasi. Misalnya timbul bengkak atau bahkan abses pada bekas suntikan vaksin.
  2. Reaction related to properties of vaccines, atau reaksi terhadap sifat – sifat yang dimiliki oleh vaksin yang bersangkutan. Misalnya reaksi terhadap campura bahan vaksin biasanya berupa kemerahan, demam, syncope (pingsan sejenak) dan gejalan anak pucat berkeringat.
  3. Coincidental atau koinsidensi, meripakan dua kejadian secara bersama tanpa adanya hubungan satu sama lain. Misalnya ketika menerima imunisasi anak sebenarnya sudah dalam keadaan mau sakit seperti batuk, pilek atau diare. Oleh karena itu pastikan bahwa anak anda dalam keadaan sehat sebelum melakukan imunisasi.

Formulir Pemantauan dan KOMNAS PP KIPI

Di Indonesia sendiri setiap ditemukan kasus KIPI harus dicatat, untuk itulah adanya formulir pemantauan KIPI. Para dokter ataupun bidan yang memberikan imunisasi harus memahami hal ini. Pengisian formulir adalah tugas petugas kesehatan. Formulir isian dikirim ke tingkat provinsi dan tingkat pusat untuk dievaluasi. Jika serius maka akan dilakukan penyelidikan. Informasi mengenai kasus KIPI atau dugaan kasus KIPI nantinya akan dianalisis oleh Komite Nasional Independen atau Komnas PP KIPI. Maka dari itu bagi petugas imunisasi harus memahami dan sadar akan terjadinya resiko serta cara penanggulangannya.

Pedoman seputar KIPI yang dikeluarkan WHO

(sumber : wikihow.com)
(sumber : wikihow.com)
  1. Dalam waktu 24 jam pasca imunisasi apakah ada reaksi anafilaksis yaitu syok / pingsan atau menangis keras lebih dari 3 jam.
  2. Setelah 5 hari apakah ada reaksi lokal yang berat seperti bengkak dan infeksi dan atau hingga timbul nanah.
  3. 15 hari setelah imunisasi apakah timbul kejang atau demam yang diikuti kejang. Sebagai pedoman meski tidak selamanya ada hubungan sebab akibat makan kejadian demam dan kejang dapat saja terjadi yaitu 6 – 12 hari pasca imunisasi campak atau MMR, dua hari pasca imunisasi DPT.
  4. Dalam kurun waku 3 bulan perhatian juga harus ditujukan pada KIPI pasca imunisasi polio, yakni Acute Flaccid Paralyses (AFP) atau lumpuh layuh pada 4 – 30 hari sesudah imunisasi, atau terjadi penurunan sel – sel pembeku darah pasca imunisasi campak atau MMR
  5. Sesudah imunisasi BCG kadang juga bisa terjadi limfadensitis atau osteitis, berupa TBC pada persendian tulang – tulang.

Namun, tentu saja tidak semua kejadian tersebut ada kaitannya dengan KIPI. Oleh karena itu, kebanyakan yang awalnya diduga sebagai kasus adalah kejadian koinsiden yang tidak ada hubungannya. Maka dari itu bagi masyarakat, terutama bagi orang tua yang anaknya baru mendapat imunisasi jika memiliki keraguan jangan segan bertanya pada dokter atau petugas kesehatan yang memberikan imunisasi.

sumber : Achmadi, Umar Fahmi. 2006. Imunisasi Mengapa Perlu ?. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara.

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *