Benarkah Vaksin Mengandung Zat-zat Berbahaya?
Salah satu kekhawatiran yang mendasari penolakan terhadap vaksin untuk bayi adalah bahwa vaksin mengandung zat-zat berbahaya. Berikut ini penjelasan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) terkait kandungan bahan kimia dalam vaksin. Dalam penjelasan yang dikirim oleh Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi dari Satgas Imunisasi Pengurus Pusat IDAI kepada detikHealth, Rabu (20/6/2012), termuat beberapa penjelasan sebagai berikut:
1. Benarkah vaksin mengandung zat-zat berbahaya yang dapat merusak otak?
Dengan tegas Dr Sudjatmiko menjawab, tidak benar. Kandungan etil merkuri dalam zat trimetosal misalnya, hanya masuk ke tubuh bayi sebanyak 150 mcg/kgBB atau sekitar 6 mcg/kgBB/minggu. Sementara batas aman yang ditetapkan WHO jauh lebih tinggi yakni 159 mcg/kgBB/minggu.
2. Benarkah pernyataan bahwa ‘semua zat kimia’ berbahaya bagi bayi?
Lagi-lagi pertanyaan ini dibantah oleh Dr Sudjatmiko. Menurutnya, semua bahan yang dikonsumsi manusia sehari-hari seperti oksigen, air, nasi, buah, sayur, jahe, kunyit, lengkuas, semua tersusun dari zat kimia.
Misalnya oksigen memiliki rumus kimia O2, air H2O, sedangkan garam dapur NaCl. Zat kimia umumnya justru sangat dibutuhkan untuk manusia, dalam takaran yang aman, kecuali zat kimia yang berbahaya.
3. Benarkah vaksin dibuat dari nanah, dibiakkan di janin anjing, babi, atau manusia yang sengaja digugurkan?
Menurut Dr Sudjatmiko, pendapat ini bersumber dari tulisan yang dibuat 50 tahun lalu (antara tahun 1961-1962). Saat ini teknologi pembuatan vaksin sudah berkembang pesat dan sudah tidak ada lagi vaksin yang dibuat dari nanah maupun dibiakkan dalam embrio anjing, babi atau manusia.
4. Benarkah vaksin mengandung lemak babi?
Dr Sudjatmiko menjelaskan, 15-20 tahun lalu persinggungan dengan tripsin pankreas babi terjadi dalam proses penyemaian induk bibit vaksin tertentu. Tetapi induk bibit vaksin itu kemudian dicuci dan dibersihkan dengan metode ultrafilterisasi ratusan kali sehingga sesampainya ke pasien sudah bebas dari unsur babi.
Selama ini, banyak orang khawatir dengan keamanan vaksin karena mengira kandungannya terdiri dari bahan-bahan berbahaya. Apalagi dalam berbagai artikel di internet, banyak disebutkan kandungan vaksin yang tidak disertai keterangan lengkap sehingga terkesan menakutkan.
Sebagai contoh adalah informasi tentang kandungan salah satu vaksin yang diunggah salah seorang pembaca detikHealth di kolom komentar, sebagai berikut:
“Hepatitis A: Havrix SmithKline Beecham Pharmaceuticals. Produced using formalin, aluminum hydroxide, phenoxyethanol (antifreeze), polysorbate 20, residual MRC5 proteins (from medium) medium: human diploid cells (originating from human aborted fetal tissue).”
Tidak dijelaskan dalam informasi tersebut, bahwa bahan-bahan itu bukan cuma kandungan vaksin melainkan seluruh bahan yang dipakai selama proses pembuatan.
Dikutip dari situs Center of Disease Control and Prevention (CDC), bahan-bahan yang dipakai selama proses pembuatan sudah dihilangkan dari produk finalnya.
Pembuatan semua vaksin di Indonesia sendiri dilakukan oleh PT Bio Farma (Persero). Kelima vaksin dasar lengkap yakni Hepatitis B, Imunisasi BCG, Polio, Imunisasi DPT, Imunisasi Campak juga dibuat Bio Farma dan sudah diperbolehkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Versi pemerintah Amerika Serikat, bahan-bahan yang dipakai dalam pembuatan vaksin-vaksin dasar seperti dikutip dari CDC.gov antara lain sebagai berikut:
1. Hepatitis B
Hep B (Engerix-B)
aluminum hydroxide, yeast protein, phosphate buffers.
Hep B (Recombivax)
yeast protein, soy peptone, dextrose, amino acids, mineral salts, potassium aluminum sulfate, amorphous aluminum hydroxyphosphate sulfate, formaldehyde.
2. Imunisasi BCG
BCG (Tice)
glycerin, asparagine, citric acid, potassium phosphate, magnesium sulfate, Iron ammonium citrate, lactose
3. Polio
Polio (IPV – Ipol)
2-phenoxyethanol, formaldehyde, neomycin, streptomycin, polymyxin B, monkey kidney cells, Eagle MEM modified medium, calf serum protein
4. Imunisasi DPT
DTaP (Daptacel)
aluminum phosphate, formaldehyde, glutaraldehyde, 2-Phenoxyethanol, Stainer-Scholte medium, modified Mueller’s growth medium, modified Mueller-Miller casamino acid medium (without beef heart infusion)
DTaP (Infanrix)
formaldehyde, glutaraldehyde, aluminum hydroxide, polysorbate 80, Fenton medium (containing bovine extract), modified Latham medium (derived from bovine casein), modified Stainer-Scholte liquid medium
DTaP (Tripedia)
sodium phosphate, peptone, bovine extract (U.S. sourced), formaldehyde, ammonium sulfate, , aluminum potassium sulfate, thimerosal (trace), gelatin, polysorbate 80 (Tween 80), modified Mueller and Miller medium, modified Stainer-Scholte medium
5. Imunisasi campak
MMR (MMR-II)
vitamins, amino acids, fetal bovine serum, sucrose, sodium phosphate, glutamate, recombinant human albumin, neomycin, sorbitol, hydrolyzed gelatin, chick embryo cell culture, WI-38 human diploid lung fibroblasts. (up/ir)
sumber : http://health.detik.com/read/2012/06/20/150745/1946263/775/benarkah-vaksin-mengandung-zat-zat-berbahaya


























Bukankah raksa adalah zat yang seharusnya sama sekali tidak dikonsumsi…?
Faktanya, vaksin diberikan dari usia bayi hingga dewasa, jika vaksin2 itu mengandung raksa, berapa banyak raksa yang akan tertimbun di tubuh kita?? Bukankah raksa tidak akan diekskresi?? Mengapa WHO mentoleransinya?? Sebenarnya ada apa di balik kebijakan bolehnya vaksin yang mengandung raksa???
Selamat sore,
Apakah yang dimaksud anda disini adalah thimerosal?Thimerosal dalam vaksin berbeda dengan raksa yang ada di alam atau laut. Thimerosal yang ada dalam kemasan vaksin telah dipergunakan oleh produsen vaksin sejak 60 tahun yang lalu. Kandungan thimerosal pada vaksin berada di bawah batas yang telah ditetapkan oleh WHO maupun BPOM. Sebenarnya thimerosal yang diperoleh melalui makanan laut jauh lebih besar daripada yang masuk akibat vaksinasi. Thimerosal diperlukan sebagai stabilisator dan pengawet (pengamanan) terhadap kontaminasi bakteri & mikroba yang dapat mematikan, terutama pada vaksin dosis ganda (multi-dose vial). Beberapa studi telah menyatakan bahwa autism tidak berhubungan dengan thimerosal dalam vaksin dan membuktikan kandungan thimerosal dalam vaksin aman.
semoga jawaban ini dapat memenuhi rasa penasaran anda dan informasi ini dapat anda sebarkan kepada masyarakat.
terima kasih
hari ini sudah banyak tokoh, baik nisaonal maupun lokal yg tidak menggunakan imunisasi. meski sampe skrg saya melihat sendiri, banyak perangkat kesehatan termasuk bidan yg marah2 kalau ada ibu dan balita yg tidak mau imunisasi.untuk keluarga saya sendiri, masih menggunakan imunisasi, ga tau lagi, mungkin suatu saat akan berhenti.
apakah thimerosal tu cma sekali seumur hidup?
masih ada vaksin lai yang mngandung raksa?
Selamat pagi,
Anda bisa membaca terkait thimerosal dalam artikel : Komposisi, Proses Pembuatan & Kehalalan Vaksin.
Semoga informasinya bermanfaat.
Terima Kasih