Gerakan Antivaksinasi Dinilai Bermuatan Sekulerisme

Marak seruan antivaksinasi bermotifkan isu agama yang menyangkut kehalalan dan keamanan vaksin membuat keraguan sebagian masyarakat. Dalam member referensi tambahan, kami sajikan hasil wawancara dengan dr. Piprim Basarah Yanuarso dari Rumah Vaksinasi dan Sekretaris Jendral (Sekjen) IDAIIkatan Dokter Anak Indonesia.

Bagaimana pandangan masyarakat terhadap vaksinasi?

Ya seperti itu, adanya kelompok anti vaksinasi yang sangat giat menyebarkan pemahamannya baik di ranah media social seperti twitter dan facebookmaupun di pelosokpelosok melalui berbagi forum, seperti majelis taklim di mesjidmesjid kampong. Masyarakat awam pun mudah mengikuti seruan ini karena sensitifnya isu halal dan haram vaksin. Selain itu bahwa vaksin mengandung zat kimia beracun pun dihembus kencang. Jal ini diakhiri dengan himbauan agar masyarakat menggunakan pengobatan ala nabi (tibbunnabawy) dan melarang penggunaan obat kimia dan vaksin yang merupakan buatan manusia.

Memang seperti itu adanya?

Umat dihimbau agar menggunakan zat alamiah seperti herbal dan tidak lagi memakai obatobatan modern. Alasannya karena herbal itu buatan dan racikan Allah SWT, sedangkan obat modern dan vaksin murni buatan manusia.

Posisi vaksinasi?

Pengetahuan Islam terhadap ilmu pengetahuan Al QurÔÇÖan banyak menyebutkan keharusan seorang muslim mengeksporasi alam semesta. Di dalam islam tidak terdapat pemisahan antara aktifitas berdzikir dan bertafakkur atau berfikir secara mendalam. Jadi ringkasannya, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bereksplorasi alam semesta ini, baik dalam alam makrososmos dan mikrososmosnya. Hasil eksplorasi alam semesta tersebut ditunjukkankebaikan manusia itu sendiri di dunia sekaligus untuk mendekatkan diri kepad Allah SWT. Ada dua jalur yan diturunkan Allah yakni, ilmu yang diturunkan melalui para Nabi dan Rasul berupa wahyu Allah dan petunjuk nabi (ilmu qauliyah), dan yang kedua jalur tidak resmi berupa ilham yang diberikan langsung kepada manusia (ilmu kauniyah). Jika ilmu qauliyah kebenarannya mutlak, bersifat umum, berfungsi sebagai petunjuk manusia, ilmu kauniyah kebenaran relative, bersifat spesifik, dan untuk melengkapi sarana kehidupan manusia. Nah, kedua macam ilmu ini saling terkait dan tidak dapat dipisahkan agar kehidupan manusia harmonis dan seimbang termasuk vaksinasi merupakan salah satu ilmu kauniyah terbesar abad ini.

Mengapa vaksinasi sendiri sejarah awalnya sepertiapa?

Awalnya justru dari masyarakat muslim Turki di awal abad18. Mereka memiliki kebiasaan menggunakan nanah dari sapi yang menderita cacar sapi (cowpox) untuk melindungi mereka dari penyakit cacar (smallpox, variola). Kemudian trdisi ini dibawa ke Inggris dan diteliti serta dipublikasikan oleh Edward Jenner tahun 1798. Sejak saat itu konsep vaksinasi terus berkembang pesat.

Jadi tidak benar pemahaman jika kehalalan vaksin itu diragukan dlam Islam?

Amat keliru bila hasil penelitian selama dua abad itu ditolak dengan alasan amat sederhana. Pendikotomian buatan Allah dan buatan manusia seperti pemahaman sebagian kelompok muslim yang antivaksinasi pada hakikatnya adalah pemahaman yang amat sekuler. Pemahaman yang jauh menyimpang dari ajaran islam yang sebenarnya.

Hasil dari eksplorasi alam semesta yakni ilmu tentang vaksin (vaksinologi) telah menghasilkan manfaat yang luar biasa dalam bidang pencegahan penyakit pada manusia (dan pada hewan). Justru pandangan islam terhadap aspek pencegahan penyakit, islam mengutamakan aspek pencegahan dalam berbagai bidang kehidupan.

Lagipula, penelitian membuat vaksin membutuhkan penelitian yang panjang dan sangatlah memperhatikan aspek keamanan dan keakuratan data. Satu jenis vaksin bisa memerlukan belasan tahun untuk membuatnya. Diawali dengan uji laboratorium, kemudian uji pada hewan, relawan, orang dewasa, baru kemudian diterapkan pada bayi dan anak setelah terbukti produk vaksin tersebut aman dipakai.

Bila terbukti sebuah vaksin menimbulkan efek samping atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang berat dan fatal maka vaksin akan segera ditarik dari peredaran untuk diteliti ulang.

 

Sumber : Koran Republika

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *