Imunisasi Polio

12082015

Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan gejala polio dapat menimbulkan kelumpuhan atau lumpuh layu. Ini merupakan penyakit menular namun untungnya dapat dicegah memlaui imunisasi.

Di Indonesia telah dinyatakan bebas polio bersama dengan negara anggota WHO di South East Asia Region (SEAR) pada bulan Maret 2014. Untuk mempertahankan keberhasilan tersebut, dan sebagai bagian melaksanakan komitmen mewujudkan Dunia Bebas Polio, Indonesia perlu memperkuat pelaksanaan program imunisasi rutin polio dan kegiatan imunisasi tambahan yaitu Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio yang akan dilaksanakan pada tanggal 8-15 Maret 2016.

Di Indonesia, kampanye imunisasi masal dilakukan dengan mengadakan PIN (Pekan Imunisani Nasional). PIN adalah merupakan suatu imunisasi suplementasi, bertujuan untuk menghilangkan atau mempercepat pemutusan siklus kehidupan virus polio liar yang masih ada di wilayah yang bersangkutan (Pedoman Pelaksanaan PIN. 2005). Program PIN ini, semua anak usia 0-59 bulan (Balita), tanpa kecuali akan serentak diimunisasi, tanpa memandang apakah sudah pernah diimunisasi Polio atau belum. Imunisasi serentak dilakukan pada pos-pos PIN, seperti Posyandu dan Puskesmas. Selain itu, juga dilakukan kunjungan kesemua rumah untuk meyakinkan bahwa semua balita telah terimunisasi.

Poliomyelitis atau penyakit polio adalah penyakit serius yang disebabkan oleh infeksi salah satu dari tiga jenis virus polio. Virus ini menyebar melalui kontak dengan makanan, air atau tangan yang terkontaminasi dengan kotoran (tinja) atau sekresi tenggorokan dari orang yang terinfeksi. Gejala penyakit polio akan muncul dalam waktu tiga sampai 21 hari setelah virus polio masuk dan orang ini akan bisa menularkan pada tujuh sampai 10 hari sebelum dan setelah gejala muncul. Seseorang yang terinfeksi akan tetap menular selama virus terus dibuang melalui kotorannya, yang bisa berlanjut selama beberapa minggu. Biasanya, virus tetap di tenggorokan selama satu sampai dua minggu.

Penderita polio dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu polio non-paralisis, polio paralisis, dan sindrom pasca-polio.

  1. Polio non-paralisis

Polio non-paralisis adalah tipe polio yang tidak menyebabkan kelumpuhan. Gejalanya tergolong ringan. Berikut ini adalah gejala polio non-paralisis yang umumnya berlangsung antara satu hingga sepuluh hari.

  • Muntah
  • Lemah otot
  • Demam
  • Meningitis
  • Merasa letih
  • Sakit tenggorokan
  • sakit kepala
  • Kaki, tangan, leher, dan punggung terasa kaku dan sakit

 

  1. Polio paralisis

Polio paralisis adalah tipe polio yang paling parah dan dapat menyebabkan kelumpuhan. Polio paralisis bisa dibagi berdasarkan bagian tubuh yang terjangkit, seperti batang otak, saraf tulang belakang, atau keduanya.

Gejala awal polio paralisis sering kali sama dengan polio non-paralisis, seperti sakit kepala dan demam. Namun biasanya dalam jangka waktu sepekan, gejala polio paralisis akan muncul, di antaranya sakit atau lemah otot yang serius, kaki dan lengan terasa terkulai atau lemah, dan kehilangan refleks tubuh.

Beberapa penderita polio paralisis bisa mengalami kelumpuhan dengan sangat cepat atau bahkan dalam hitungan jam saja setelah terinfeksi dan kadang-kadang kelumpuhan hanya terjadi pada salah satu sisi tubuh. Saluran pernapasan mungkin bisa terhambat atau tidak berfungsi, sehingga membutuhkan penanganan medis darurat.

  1. Sindrom pasca-polio

Sindrom pasca-polio biasanya menimpa orang-orang yang rata-rata 30-40 tahun sebelumnya pernah menderita penyakit polio. Gejala yang sering terjadi di antaranya:

  • Sulit bernapas atau menelan.
  • Sulit berkonsentrasi atau mengingat.
  • Persendian atau otot makin lemah dan terasa sakit.
  • Depresi atau mudah berubah suasana hati.
  • Gangguan tidur dengan kesulitan bernapas.
  • Mudah lelah.
  • Massa otot tubuh menurun.

Kondisi yang menyebabkan Penyakit polio disebabkan oleh virus yang umumnya masuk melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan tinja dan virus polio. Sama halnya seperti cacar, polio hanya menjangkiti manusia. Dalam tubuh manusia, virus polio menjangkiti tenggorokan dan usus. Selain melalui kotoran, virus polio juga bisa menyebar melalui tetesan cairan yang keluar saat penderitanya batuk atau bersin.

Imunisasi atau pemberian vaksin polio dapat meminimalisasi terjangkit virus polio. Anak-anak, wanita hamil dan orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah, sangat rentan terkena virus polio jika di daerah mereka tidak terdapat program imunisasi atau tidak memiliki sistem sanitasi yang bersih dan baik. Orang-orang yang belum divaksinasi akan memiliki tingkat risiko terjangkit polio yang tinggi jika melakukan atau mengalami hal-hal seperti berikut ini.

  • Tinggal serumah dengan penderita polio.
  • Sistem kekebalan tubuh yang menurun.
  • Bepergian ke daerah di mana polio masih kerap terjadi.
  • Telah melakukan operasi pengangkatan amandel.

Pencegahan Polio

Kebersihan polio yang baik dan sanitasi public yang baik telah membantu mencegah penyebaran atau penularan penyakit polio, disamping itu langkah terbaik pencegah polio adalah melakukan vaksinasi atau imunisasi polio. Ikatan Dokter Anak (IDAI) telah  merekomendasikan jadwal imunisasi polio untuk anak-anak dan orang dewasa juga masih bisa mendapatkan vaksin polio.

Polio dapat dicegah dengan vaksinasi yang bisa memberikan kekebalan terhadap penyakit polio seumur hidup, terutama pada anak-anak. Anak-anak harus diberikan empat dosis vaksin polio tidak aktif, yaitu pada saat mereka berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan antara 1.5-2 tahun.

Vaksin polio dengan virus tidak aktif memiliki kemungkinan mendekati 100 persen untuk secara efektif mencegah polio setelah tiga kali penyuntikan, dan aman bagi orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah. Efek samping yang umumnya terjadi setelah pemberian suntikan adalah rasa sakit dan kemerahan pada titik penyuntikan.

Orang dewasa yang harus mendapatkan serangkaian vaksin polio adalah mereka yang belum pernah divaksinasi atau status vaksinasinya tidak jelas. Dosis vaksinasi polio pada orang dewasa adalah dua dosis pertama dengan jarak waktu antara 1-2 bulan, dan dosis ketiga antara 6-12 bulan setelah pemberian dosis kedua.

Sumber :

www.alodokter.com/polio

KVD

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *