Mitos Mengenai Vaksin dan Vaksinasi

Beberapa jam sejak seorang dilahirkan ke dunia, maka ibu atau orang tua bayi tersebut telah diberi informasi untuk segera memberikan vaksinasi pertama. Jadi, minimal 35 kali vaksinasi yang akan diberikan kepada seorang bayi. Saat ini, para orang tua memiliki kekhawatiran terkait kegiatan vaksinasi. Para orang tua mendapatkan berbagai informasi mengenai vaksin dan tindakan vaksinasi. Dengan kondisi itulah, Tim Info Imunisasi mencoba untuk mengumpulkan data terkait beberapa mitos mengenai vaksin dan vaksinasi.

 

1. Apakah bayi saya tidak mendapatkan vaksinasi yang terlalu banyak dikarenak umurnya yang masih muda?

Fakta :

Hal ini tidak perlu diragukan lagi, karena menurut jadwal vaksinasi yang direkomendasikan oleh Perhimpunan Dokter Anak Amerika (American Academy of Pediatrics) dan US CDC (United States Centers for Diseases Control and Prevention) kedua lembaga ini seperti Ditjen P2PL di Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di Indonesia. Bayi Anda akan menerima sejumlah 23 kali vaksinasi sampai saat dia berusia 2 tahun dan sebanyak 6 kali suntikan pada setiap kali bayi berkunjung ke dokternya. Jadi memang tidak heran kalau banyak orang tua menjadi kuatir tentang pengaruh vaksinasi terhadap perkembangan sistem pertahanan tubuh bayi mereka, dan ini menjadi salah satu alasan orang tua menolak vaksinasi untuk bayinya.

 

Seharusnya hal ini tidak perlu menjadi kekuatiran para orang tua, Anak anak mempunyai kemampuan yang cukup untuk menangani tantangan yang diberikan oleh vaksin terhadap sistim pertahanan tubuhnya secara aman kata Dr. Offit setiap hari sistim pertahanan tubuh bayi telah mengdapai begitu banyak tantangan bakteri dan kuman yang berasal dari alam sekitar, sehingga apa yang diberikan oleh vaksin itu ibarat setetes air dibandingkan dengan luasnya samudra, jadi sangat tidak berarti bagi sistim pertahan tubuh seorang bayi yang sehat. Dalam penelitian Dr. Offit, yang secara teoritis menggambarkan bahwa seorang bayi yang sehat bisa diberikan 100.000 vaksin pada saat yang sama, dan tetap aman.

 

*Catatan : Dr. Paul A Offit adalah salah seorang pengarang buku Vaccines yang terkenal.

Jadi adalah aman untuk memberikan beberapa jenis vaksin secara simultan bersamaan atau memberikan vaksin kombinasi, seperti yang sekarang kita mengenal vaccine fiveinone, yang terdiri dari gabungan vaksin difteritetanuspertusispoliohepatitis B yang saat ini banyak dipergunakan oleh para dokter anak, juga di Indonesia. Dan efektifitas vaksin kombinasi ini adalah sama baiknya dengan vaksin tunggal yang telah lama kita kenal dan kita pergunakan hingga saat ini.

2. Untuk apa vaksinasi ? Karena banyak penyakit infeksi yang telah dibasmi dan tidak ditemulan lagi dimuka bumi.

Fakta :

Jangan pernah bertaroh untuk ini, karena meskipun angka cakupan vaksinasi di Indonesia juga dunia telah cukup tinggi, namun tetap saja terjadi kejadian luar biasa suatu penyakit infeksi yang telah lama mereda atau hilang, tibatiba merebak dan terjadi di suatu tempat di Indonesia, misalnya pada tahun 2005, terjadi kejadian luar biasa, penyakit lumpuh polio yang terjadi di dusun Cidahu yang terpencil di Sukabumi, dan barubaru ini juga terjadi kejadian luar biasa penyakit difteri di Jawa Timur dan pulau Madura, yang menyebabkan bayi meninggal dan sekian ratus bayi dan anak yang harus dirawat dirumah sakit.

Kemudian, bayi atau anak yang tidak mendapatkan vaksinasi juga akan menyebarkan bibit penyakit kepada anggota keluarga lain yang rentan, misalnya menyebarakn bibit penyakit kepada bayi yang berusia dibawah 6 bulan hingga ke kakek atau neneknya yang sudah berusia lanjut diatas 60 tahun, yang sangat rentan terhadap penyakit infeksi.

Saat ini telah ditemukan angka penyakit batuk rejan atau batuk seratus hari yang meningkat, ini karena anak anak yang telah berusia diatas 10 tahun tidak memdapatkan suntikan vaksin batuk rejan penguat lagi (suntikan booster), sehingga mereka menjadi sumber infeksi dan menularkan kuman batuk rejan kepada anggota keluarga yang berusia lanjut ini. Maka US CDC juga Ikatan Dokter Anak sangat menganjurkan suntikan penguat vaksinasi batuk rejan pada anggota keluarga untuk mencegah penularan penyakit batuk rejan diantara anggota keluarga itu sendiri (cocoon strategy).

 

3. Vaksin bisa menimbulkan Autisme dan gangguan lainnya pada bayi

Ketakutan akan vaksin MMR yang diduga bisa menimbulkan kelainan Autisme bayi dan anak telah dimulai sejak ada publikasi di Inggris beberap tahun yang lalu, dan ketidakbenaran hubungan sebab akibat vaksin MMR dengan kejadian Autisme, telah dibuktikan dengan banyak penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan diseluruh dunia, dan banyak pernyataan resmi dari badan internasional seperti US FDA, US CDC dan juga di Indonesia seperti IDAI yang dengan tegas membantah hubungan sebab akibat vaksin MMR dengan kejadian Autisme ini.

Menurut Dr. Offit bahwa Autisme memang cenderung timbul pada tahun pertama kehidupan dan pertumbuhan bayi, sehingga pemberian vaksin MMR tidak otomatis menjadi penyebab timbulnya gangguan Autisme bayi. Juga terbukti dari 14 buah penelitian, bahwa setiap bayi baik yang mendapat atau yang tidak mendapat vaksin MMR, mempunyai kemungkinan dan kesempatan yang sama untuk mendapat gangguan Autisme.

Sama halnya dengan kekuatiran terhadap hubungan vaksin dengan kejadian Sudden Infant Death Syndrom (SID), setelah dilakukan penelitian mendalam, ternyata hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan pemberian vaksin, karena pada tahun pertama kehidupan seorang bayi, banyak hal dan perubahan yang bisa terjadi pada semua organ tubuh bayi yang sedang bertumbuh dan berkembang untuk menjadi lebih matang dan sempurna. Dan kebetulan pada masa tahun pertama kehidupan bayi telah diberikan beberapa jenis vaksin untuk melindungi dirinya terhadap serangan bibit penyakit infeksi yang bisa dicegah dengan mudah dengan pemberian vaksin, sehingga serta merta vaksin menjadi tudingan sebagai penyebab semua kejadian ini.

 

4. Ketakutan bayi akan tertular penyakit dari vaksin yang disuntikkan

Sejak dahulu hingga saat ini, hampir semua vaksin untuk bayi dan anakanak adalah vaksin yang antigen kuman atau virusnya telah dimatikan, sehingga tidak ada kemungkinan bibit penyakit yang dipakai sebagai antigen dalam vaksin ini akan mereplikasi memperbanyak diri, menjadi hidup dan menjadi patogen atau menjadi ganas dan menimbulkan penyakit pada bayi yang diberi suntikan vaksin ini.

Yang bisa, dan yang biasa terjdi adalah kejadian setelah vaksinasi adalah efek samping akibat vaksinasi, berupa reaksi sistemik seperti demam ringan dan reaksi lokal ditempat bekas penyuntikan vaksin yang menjadi sedikit merah, nyeri dan agak panas, namun semua efek baik yang sistemik maupun yang efek lokal ini akan menghilang sendiri dalam waktu hanya beberapa hari saja tanpa diperlukan pengobatan apaapa.

Saat ini memang ada vaksin Polio Oral (OPV) yang dibuat dari virus polio yang telah dilemahkan, yang diberikan dengan cara diminumkan kepada bayi yang mau divaksinasi polio. Karena ini mengandung virus polio hidup yang sudah dilemahkan (life attenuated vaccine), sehingga pada beberapa orang bayi yang sistim kekebalan tubuhnya sedang terganggu, akan ada kemungkinan bayi tersebut menderita kelumpuhan yang sama dengan penyakit polio, namun kasus ini sangat jarang, kemungkinan bayi mendapatkan ini adalah 1:750.000 kasus, untuk vaksinasi polio dosis pertama, dan selanjutnya akan semakin sangat jarang ditemukan. Ini yang dikenal sebagai VAPP (Vaccine Assosiated Paralytic Polio) karena vaksin Oral Polio Vaccine ini. Hal ini telah ditanggulangi dengan memberikan vaksin polio yang telah dimatikan virus polionya dengan cara pemberian yang disuntikkan (Inactivated Polio Vaccine =IPV).

 

 

 

 

5. Tidak boleh diberikan vaksinasi pada bayi yang sedang demam

Banyak orang tua beranggapan bahwa pada bayi atau anak yang sedang sakit sebaiknya tidak diberikan vaksinasi, karena kuatir vaksin akan memperberat kerja sistim daya tahan tubuh anak yang sedang melawan penyakit nya ini.

Anggapan ini tidak seluruhnya salah, namun juga tidak benar semuanya, karena kalau seorang anak atau bayi sedang menderita penyakit yang tidak serius, misalnya hanya demam yang ringan, ada sedikit batuk pilek atau gangguan salauran cerna seperti diare ringan, dimana hal ini bukan menjadi halangan untuk vaksinasi, maka bayi atau anak tersebut tetap bisa diberikan vaksinasi yang telah direnanakan, tidak perlu menundanya. Karena sistim pertahanan tubuh bayi tersebut tetap akan bekerja dengan baik untuk membuat zat antibody terhadap vaksin yang diberikan kepadanya.

Kecuali jika bayi atau anak datang dengan sakit yang cukup berat, memang sebaiknya bakan dianjurkan untuk menunda vaksinasi yang telah direncanakan hingga lain waktu saat bayi telah sehat kembali. Atau untuk vaksinasi polio oral, pada bayi yang sedang menderita gangguan aluran cerna seperti diare, maka vaksin OPV sebaiknya ditunda lebih dahulu hingga sembuh dari diare.

Karena vaksin itu sendiri juga bisa menimbulkan yang disebut efek samping setelah disuntikkan, misalnya ada reaksi sistemik berupa demam yang ringan hingga mencapai suhu 37 38 derajat Celsius, juga reaksi lokal ditempat bekas suntikan, misalnya tempat itu menjadi merah, ada rasa nyeri dan teraba hangat, yang mana semua efek samping ini akan hilang dalam waktu beberapa hari kemudian. Mengingat hal ini, juga agar supaya tidak mengacaukan antara gejalah penyakit yang sedang diderita dengan efek samping vaksin, maka pada bayi atau anak yang sakit, kita menghindarkan pemberian vaksin untuk menghindari efek samping akibat vaksinasi ini, baru vaksin diberikan setelah bayi atau anak menjadi sehat kembali.

 

6. Vaksin melindungi kita 100% terhadap penyakit yang ingin kita cegah

Hal ini tidak seluruhnya benar. Vaksin terbaik adalah vaksin yang dibuat dari virus atau bakteri hidup yang dilemahkan (life attenuated vaccines), seperti misalnya vaksin MMR, vaksin cacar air, yang memberikan efek perlindungan yang efektif hingga 95%. Sedang efektifitas vaksin yang terbuat dari virus atau bakteri yang telah dimatikan (killed vaccines), seperti vaksin demam typhus, influenza dan lain hanya sekitar 75 80% saja, ini berarti bahwa kita yang telah divaksinasi, masih ada kemungkinan sekian persen untuk menjadi sakit, namun dengan gejalah yang lebih ringan dan lama sakit yang lebih singkat.

Kalau begitu apa yang harus kita lakukan untuk menjaga agar kita benarbenar terhindar dari penyakit ini ? Jawabannya adalah sangat tergantung gaya hidup atau life style kita, misalnya kebiasaan hidup sehat, istirahat yang cukup, makan makanan bergizi dan pola hidup sehat dan berolah raga, ingat bahwa, vaksin tidak bisa melindungi diri kita 100%, tidak ada vaksin yang sedemikian ampuhnya hingga saat ini.

Ada yang disebut herd immunity, yang artinya adalah bila kita membuat sekelompok besar orang misalnya 80% menjadi kebal dengan membrikan vaksinasi, maka sisa kelompok orang yang 20% meskipun tidak diberikan vaksin apapun, mereka akan tetap sehat tidak sakit karena terlindungi oleh mayoritas populasi yang telah menjadi kebal terhadap penyakit. Maka meskipun vaksin tidak bisa memberikan efektifitas proteksi yang 100%, kita tetap terlindung karena adanya efek herd immunity /kekebalan kelompok ini.

 

7. Lebih baik menunggu bayi berusia lebih tua baru diberikan vaksinasi

Jadwal Imunisasi telah dirancang sedemikian rupa dengan tujuan melindungi bayi dari serangan penyakit infeksi tertentu sesuai dengan usia bayi, jadi bila kita mengundurkan jadwal imunisasi, ada kemungkinan kita lolos memberikan vaksin untuk melindunginya dari penyakit yang sangat diperlukan bayi tersebut pada usia bayi disaat itu. Karena setiap jenis penyakit infeksi mempunyai pola masa infeksi tersendiri sesuai dengan usia bayi tersebut. Misalnya penyakit difteritetanuspertusis mempunya angka infeksi tertinggi sewaktu bayi berusia sejak lahir hingga berusia sampai 2 tahun. Jadi kalau kita menunda vaksinasi bayi, berarti kita telah sengaja membiarkan bayi kita menghadapi resiko terkena penyakit infeksi yang seharusnya telah kita cegah dengan vaksinsi sesuai dengan jadwalnya. Lalu keuntungan apa yang akan kita peroleh dengan menunda jadwal vaksniasi bayi ?

Contoh konkrit penundaan jadwal vaksinasi, terjadi di Wisconsin, USA, terjadi kejadian luar biasa pertusis atau batuk rejan, dimana sebanyak 300 bayi berusia dibawah 1 tahun terkena penakit ini, diantaranya sebanyak 177 bayi berusia kurang dari 6 bulan, hampir 50% bayi dirawat dirumah sakit dan 3 bayi meninggal dunia. Dimana seharusnya bayi ini sudah kebal dengan penyakit pertusis atau batuk rejan bila mereka telah divaksinasi pada usia mereka sejak mereka berusia 2 bulan, sehingga cerita diatas bisa kita hindarkan.

 

8. Saya pernah sakit cacar air dan itu bukan penyakit yang harus ditakuti

Seperti beberapa penyakit infeksi masa kanakkanak, maka penyakit cacar air bukan penyakit yang berat bagi anakanak pada umumnya. Menurut Dr. Rennel. Sebelum ada vaksin cacar air, banyak anak yang harus dirawat dirumah sakit setiap tahun karena komplikasi serius dari penyakit cacar air, seperti radang paru atau pneumonia dan infeksi kulit yang berbahaya karena luka cacar air terkontaminasi dengan kuman staphilococus, atau bahkan dengan kuman necrotizing fasciitis sejenis kuman yang membusukkan dan memakan daging manusia.

Jadi dengan memberikan vaksin cacar air akan menghindarkan bayi dan anak kita dari halhal buruk tadi, dan penyakit cacar air akan menjadi lebih serius bila terjadi pada anak yang telah berusia lebih tua karena komplikasinya.

 

9. Vaksin mengandung zat pengawet yang berbahaya bagi bayi dan anak

Sejak timbulnya kekuatiran tetnag hubungan thimerosal dengan kejadian autisme bayi, maka sejak saat itu hingga sekarang ini sudah banyak vaksin yang proses pembuatannya sudah tidak meggunakan thimerosal lagi. Thimerosal sebenarnya dipergunakan untuk mencegah kontaminasi bakteri kedalam kemasan vaksin yang dosis multiple, yaitu satu vial berisi 5 hingga 10 dosis vaksin.

Sebenarnya yang mempunya efek jelek terhadap sel neuron otak itu adalah methylmercury, yaitu bentuk logam berat yang banyak ditemukan dalam lingkungan hidup kita, misalnya dalam udara yang terpolusi asap kendaraan dan pabrik yang kita hirup setiap saat, air yang kita minum dan ikan yang kita makan, yang telah terpolusi dan dicemari dengan logam berat methylmercury.

Tubuh bayi dan anak memiliki kemampuan untuk mengeliminasi ethylmercury dari vaksin lebih cepat daripada mengeliminasi methylmercury dari lingkungan hidup, demikian dikatakan oleh Dr. Offit.

Penelitian yang diakukan oleh Universitas Rochester, menemukan bahwa konsentrasi mercury dalam urine, darah dan kotoran bayi dan anak yang mendapatkan vaksinasi yang mengandung thimerosal dengan bayi yang mendapatkan vaksin yang bebas dari thimerosal, maka semua anak dan bayi dari dua kelompok ini mempunyai kadar mercury yang sama, yaitu dalam batas dibawah ketentuan dan batasan ketat US EPA (US Environmental Protection Agency)

Jadi meskipun bayi kita telah mendapatkan vaksin mengandung thimerosal, telah banyak data dan bukti yang memperlihatkan tidak adanya hubungan kausal antara zat thimerosal dengan kajadian autisme bayi dan anak, menurut Dr. Margaret Rennels, Ketua Komisi Penyakit Infeksi, dari Ikatan Dokter Anak Amerika. (America Academy of Pediatrics).

Kaarena logam berat mercury memang sudah banyak terdapat dilingkungan hidup kita, seperti udara, air dan makana laut yang telah tercemar dengan logam berat yang ada dalam asap kendaraan, pabrik dan buangan limbah industri disekeliling kita.

 

sumber : http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/07/28/mitosmengenaivaksindanvaksinasi/

 

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *