Preventif Efektif: Imunisasi dalam Sketsa Sejarah

 

Oleh: Ryan Prasetia Budiman

 

“Without immunization, an average of three out of every hundred children born will die from measles. Another will die from tetanus. One more will die from whooping cough. One out of every two hundred will be disabled by polio. It is therefore essential that all parents know why, when, where, and how many times, their infants should be immunized.”

Dua kali, Indonesia berhasil menghapuskan penyakit dari bumi Indonesia. Pertama dengan dihilangkannya penyakit cacar pada tahun 1974. Kedua, penyakit polio yang berhasil dieradikasi pada tahun 1995. Keberhasilan tersebut adalah upaya dan langkah panjang dalam membangun kesehatan Indonesia.

Kesadaran, itulah kuncinya. Kesadaran bagi pemangku kebijakan untuk membuat kebijakan dan program (top down), serta kesadaran bagi masyarakat untuk menghilangkan penyakit dan menjaga agar penyakit itu tidak kembali (bottom up). Jika keduanya telah terpenuhi, maka proses top down ataupun bottom up akan saling mendukung.

Namun sayangnya kenyataan tak seindah dalam teori. Setelah dinyatakan berhasil menghilangkan polio dari tanah Indonesia, pemerintah dan kita “kecolongan”. Pada tahun 2005 terjadi kejadian luar biasa (KLB) Polio di Sukabumi. Setelah penyakit ini tak ditemukan lagi sejak tahun 1995, lima anak dinyatakan positif terserang virus polio liar jenis P1. Apa pasal? Ternyata masih ada anak-anak yang tidak diimunisasi dengan berbagai alasan.

Jika dilihat dari perjalanan historisnya, jalan panjang untuk menjadikan masyarakat Indonesia menjadi pribadi yang sehat jasmani telah dirintis sejak lama. Sejak Indonesia merdeka, tahun 1950-an adalah waktu ketika pemerintah kita fokus untuk mengawal kesehatan rakyat. Namun saat itu upaya yang lebih diperhatikan adalah upaya kuratif (penanganan). Upaya ini lebih menekankan pengobatan setelah adanya kejadian penyakit yang mewabah. Kendala kemudian muncul, beberapa penyakit yang harus ditangani secara kuratif membutuhkan dana dan pembiayaan yang besar. Kemudian mulailah dicoba langkah preventif (pencegahan), tahap demi tahap.

Salah satu langkah preventif yang dilakukan pemerintah untuk mencegah beberapa penyakit adalah vaksinasi. Vaksinasi adalah tindakan untuk memperoleh kekebalan pada tubuh seorang individu dengan cara menyuntikan vaksin. Program untuk membuat kekebalan tubuh (imun) pada masyarakat dikenal dengan nama imunisasi.

Tercatat, berbagai penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok vaksin, yaitu vaksin yang tergabung dalam kelompok vaksin virus dan kelompok vaksin bakteri. Kelompok pertama misalnya Campak, Polio, Hepatitis B, Hepatitis A, Influenza, Rabies. Kelompok kedua seperti, Tuberkulosis, Difteri, Pertusi, Tetanus, Tipus, Kolera. Di Indonesia, vaksin yang diberikan secara gratis hanya untuk tujuh antigen imunisasi dasar, yakni Hepatitis B, Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio, BCG dan vaksin Campak. Selebihnya, masih menjadi vaksin yang berbayar.

Tulisan ini akan memaparkan mengenai proses dilakukannya vaksinasi (kemudian imunisasi) di Indonesia. Bagian pertama, yang diberi sub judul upaya mereduksi ancaman (lain) pembangunan akan menjelaskan mengenai penyakit-penyakit yang menjadi ancaman di Indonesia serta akan dipaparkan pula bagaimana penanggulangannya dari awal tahun 1950-an. Bagian kedua, yang diberi sub judul partner kuratif: imunisasi sebagai upaya preventif yang efektif, akan menjelaskan mengenai pengertian imunisasi dan imunisasi sebagai langkah pencegahan yang harus dijalankan hingga kini.

Upaya Mereduksi Ancaman (Lain) Pembangunan

Telah disadari sejak lama bahwa penyakit adalah penghambat dalam pembangunan. Penyakit akan menggerogoti kesehatan, dan jika seseorang dinyatakan sakit, maka waktunya akan lebih banyak digunakan untuk pengobatan. Dan jika waktu habis untuk upaya penyembuhan, maka produktivitas akan berkurang. Jika orang sakit mencapai ribuan bahkan puluhan atau ratusan ribu orang, maka tak akan ada yang menyangsikan bahwa produktivitas nasional akan terganggu. Maka dari itu segala macam penyakit harus dihilangkan, paling tidak dicegah kehadirannya, dan langkah efektif untuk pencegahan adalah imunisasi.

Sejarah imunisasi di Indonesia dimulai pada tahun 1956 dengan imunisasi cacar; dengan selang waktu yang cukup jauh yaitu pada tahun 1973 mulai dilakukan imunisasi BCG untuk tuberkulosis, disusul imunisasi tetanus toxoid pada ibu hamil pada tahun 1974; imunisasi DPT (difteri, pertusis, tetanus) pada bayi mulai diadakan pada tahun 1976. Pada tahun 1981 mulai dilakukan imunisasi polio, tahun 1982 imunisasi campak mulai diintensifkan, dan tahun 1997 imunisasi hepatitis mulai dilaksanakan.

Program imunisasi secara lengkap mulai dirintis pada Pelita I. Ini merupakan hasil dari seminar pengembangan program imunisasi dan pengamanan penyakit menular. Pada bulan Januari tahun 1977, telah disetujui bahwa dalam program imunisasi, selain cacar dan BCG juga akan ditambahkan kegiatan imunisasi dengan antigen DPT (termasuk TFT untuk mencegah tetanus). Telah ditetapkan pula bahwa program nasional dilaksanakan pada Pelita III.

Sejak dilaksanakannya program imunisasi campak pada tahun 1963, angka kesakitan dan angka kematian karena penyakit campak terus menurun dengan drastis sampai 86%, yaitu dengan didapatkannya angka kematian sebesar 800.000 per tahun pada 1995. Hal ini karena telah dilaksanakannya Expanded Program on Immunization (EPI) atau Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada tahun 1973 dan pada tahun 1974 yang meliputi pemberian imunisasi terhadap tujuh penyakit, diantaranya yaitu BCG, DPT, dan Polio.

Program Pengembangan Imunisasi adalah program pemerintah di bidang imunisasi dengan tujuan untuk mencapai komitmen internasional dalam universal child immunization (UCI), yang rencana awalnya sampai akhir tahun 1982. Namun UCI secara nasional baru dicapai Indonesia pada tahun 1990-an. Program imunisasi melalui PPI memiliki tujuan akhir yang sesuai dengan komitmen internasional, yaitu: eradikasi polio (ERAPO), eliminasi tetanus maternal dan neonatal (maternal and neonatal tetanus elimination = MNTE), reduksi campak (RECAM), peningkatan mutu pelayanan imunisasi, penetapan standar pemberian suntikan yang aman (safe injection practices), dan keamanan pengelolaan limbah tajam (safe waste dispotal management).

Secara tematis, ada proses yang berbeda dari program imunisasi dari tiap penyakit. Karena imunisasi sendiri tidak dijalankan serempak untuk setiap penyakit. Namun pelaksanaanya dilakukan bertahap pada penyakit-penyakit yang pada zamannya dianggap sebagai ancaman yang sangat membahayakan dan bersifat ancaman. Untuk imunisasi berdasarkan penyakit yang ditangani, Berikut ini akan diuraikan mengenai proses imunisasi cacar, polio, kolera dan tuberculosis.

Cacar sebenarnya sudah tidak berjangkit sejak 25 tahun sebelum Indonesia berdaulat. Namun sejak tahun 1948, cacar kembali mewabah di Indonesia melalui Singapura/Malaka. Menyebar dari Sumatera ke Pulau-pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Pada tahun 1951 diadakan pencacaran masal (pencacaran berarti vaksinasi). Namun tidak berhasil secara maksimal. Pencacaran dilakukan oleh juru cacar di Balai Desa, poliklinik-poliklinik, BKIA-BKIA (Badan Kesehatan Ibu Anak) dan rumah sakit-rumah sakit. Mereka yang dicacar terdiri dari bayi yang baru berumur 3 bulan. Agar pencegahan menjadi maksimal, maka dilakukan vaksinasi kembali atau revaksinasi dalam 5 tahun sekali. Vaksinasi rutin adalah tanggung jawab dari pemerintah daerah, baik dari segi personil maupun pembiayaannya. Karena itu pelaksanaannya menjadi tidak maksimal dan berbeda-beda di tiap daerah. Untuk mengkoordinasikannya, maka pada tahun 1963 diusahakan memasukkan semua tindakan ke dalam “Rencana 5 Tahun Pemberantasan Cacar”, dengan mengikutsertakan KOPEM (Komando Pemberantasan Malaria).

Kebijaksanaan pembasmian penyakit cacar di Indonesia adalah melalui peningkatan pengamatan dan kemudian melakukan pemberian kekebalan terhadap penyakit cacar kepada 1/3 penduduk tiap tahunnya. Dengan ikutnya Indonesia dalam Global Smallpox Eradication Program (SEP) pada tahun 1967 dengan WHO, maka mulai tahun 1969 program pembasmian penyakit cacar mengalami banyak kemajuan. Tercatat, hasil pemberantasan penyakit cacar: dari sasaran 126 juta orang, yang berhasil divaksinasi berjumlah 107.569.116 orang; penderita cacar terakhir ditemui dalam bulan januari 1972; dan Indonesia dinyatakan bebas cacar oleh WHO pada tanggal 25 April 1974.

Lain cacar, lain kolera. Sejak tahun 1928, kolera diperkirakan telah lenyap dari bumi Indonesia. Namun pada tahun 1957, ditemukan kasus kolera di Makassar. Kemudian terjadi dua peristiwa berjangkitnya penyakit kolera di Jakarta pada tahun 1958 disusul oleh laporan serupa dari Semarang dan Medan. Sebagai upaya pencegahan, sebenarnya telah diberikan vaksinasi rutin kepada anggota Angkatan Perang dan anak sekolah sejak tahun 1950. Vaksin yang diberikan adalah TCD (typhus, cholera, dysentrie) dan kemudian diubah menjadi vaksin CHOTYA (cholera, typhus, paratyphus A), karena vaksinasi anti-disentri dinilai tak berguna.

Penyakit lain yang dicegah dengan preventif adalah polio (poliomyelitis). Menurut Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia, antara tahun 1949 dan 1951 penyakit ini hampir menjadi wabah di Jakarta. Lebih mengkhawatirkan, wabah penyakit poliomyelitis terjadi di Bandung pada tahun 1954, namun tidak berlangsung lama. Penyakit ini adalah penyebab cacat badan pada anak sehingga anak menjadi lumpuh. Penyakit lain yang sejenis adalah Diphtheria. Untuk mencegah penyebaran penyakit ini maka diadakan vaksinasi. Vaksinasi anak-anak secara rutin terdiri dari vaksin Diphtheria, Tetanus dan Pertussis, sedang vaksin anti-poliomyelitis belum menjadi rutin. Hal yang kemudian menjadi program nasional pada dekade 1990-an dengan nama Pekan Imunisasi Nasional atau PIN. Pekan Imunisasi Nasional adalah pekan pada saat setiap anak balita umur 0-59 bulan mendapat dua tetes vaksin polio oral. Pekan imunisasi ini berlaku bagi setiap balita yang pada saat pelaksanaan program ini berada di wilayah Indonesia tanpa melihat status imunisasi dan kewarganegaraannya. Program ini dimulai pada 1995.

Selain penyakit yang telah disebutkan di atas, penyakit lain yang dianggap berbahaya penyebarannya adalah tuberkulose atau penyakit paru-paru. Tuberkulose adalah penyakit yang menarik perhatian. Upaya kuratifnya sangat memakan sumber daya seperti biaya, personil dan alat-alat modern. Cara perawatan bagi pasien yang terjangkit tuberkulose ditempuh dengan perawatan di Sanatorium atau perawatan di Rumah Sakit tuberkulose. Penderita penyakit ini juga ada yang dirawat di perkampungan khusus, seperti Tuberculosis Homes atau Tuberculosis Village yang dicetuskan oleh dr Trisulo. Pengobatan ini umumnya memerlukan biaya yang besar. Karena itu upaya dititikberatkan pada tindakan preventif. Berdasarkan persetujuan antara pemerintah Indonesia, WHO, dan UNICEF di Bandung pada Oktober 1952, dimulai suatu percontohan pemberantasan Tuberkulose di Indonesia termasuk dengan vaksin BCG (Bacil Calmette Guerin).

Pada Juli 1953 diadakan konferensi pemberantasan penyakit paru-paru di Kaliurang, Yogyakarta. Hasilnya, vaksinasi BCG merupakan langkah penting dalam upaya preventif pencegahan penyakit ini. Meskipun begitu, vaksinasi belum menjadi prioritas utama. Lima tahun kemudian, konferensi di tempat yang sama memutuskan untuk melanjutkan vaksinasi, hanya saja dilakukan di daerah-daerah yang kepadatan penduduknya diatas atau sama dengan 10.000 penduduk setiap km persegi dan memberikan perhatian khusus pada anak-anak sekolah. Vaksinasi masa dilanjutkan sampai tahun 1962. Setela tahun itu, vaksinasi BCG hanya diberikan pada kalangan tertentu yang dianggap mudah tertular penyakit ini, yaitu anak-anak, dan pekerja-pekerja yang tinggal di asrama-asrama padat. Penanganannya diintegrasikan dengan puskesmas. Pada awal pemerintahan orde baru, tujuan dari pemberantasan penyakit ini adalah menurunkan tuberculosis incidence dengan jalan memberikan suntikan BCG kepada semua anak 0-14 tahun. Mulai tahun ke-5 Pelita I telah dilakukan vaksinasi gabungan cacar dan BCG secara simultan.

Perkembangan dari imunisasi disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Ketika rambu-rambu kesehatan di masyarakat menunjukkan keadaan yang membahayakan kesehatan penduduk, maka tindakan kuratif yang biasanya dibarengi dengan tindakan preventif akan segera dilakukan. Karena itu, tindakan preventif seperti imunisasi tetap menjadi andalan dalam memutus rantai penyebaran penyakit.

Partner Kuratif: Imunisasi Sebagai Upaya Preventif yang Efektif

Pada dekade-dekade akhir abad ke-20 telah diperkirakan bahwa di negara sedang berkembang dari setiap 1000 anak yang lahir, “lima akan tumbuh pincang karena poliomyelitis, sepuluh meninggal karena tetanus neonatorum, 20 meninggal karena batuk rejan (pertusis) serta 30 atau lebih meninggal oleh morbili atau komplikasinya.”

Karena itu, diperlukan upaya berkesinambugan untuk mengurangi dan mencegah penyebaran penyakit-penyakit tersebut. Upaya yang difokuskan untuk menghalau berkembangnya penyakit tersebut adalah dengan imunisasi menggunakan vaksin.

Vaksin adalah suatu bahan yang berasal dari kuman atau virus yang menjadi penyebab penyakit yang bersangkutan, yang telah dilemahkan atau dimatikan, atau diambil sebagian, atau mungkin tiruan dari kuman penyebab penyakit, yang secara sengaja dimasukkan ke dalam tubuh, yang bertujuan untuk merangsang timbulnya zat anti-penyakit tertentu pada orang-orang tersebut. Sehingga kemudian orang tersebut akan memiliki kekebalan terhadap penyakit yang bersangkutan.

Awalnya, pada abad ke-10 hingga abad ke-18, di beberapa belahan bumi seperti di India dan China, upaya untuk memperoleh kekebalan dilakukan dengan upaya menggoreskan cairan luka penderita cacar atau variola. Cara ini disebut dengan variolation. Namun cara ini sangat tidak ilmiah. Seiring dengan berkembagnya ilmu pengetahuan, pada 1778, seorang Inggris bernama Edward Jenner mengembangkan vaksin cacar yang disebut cowpox. Cowpox (penyakit cacar sapi) ia gunakan untuk mencegah smallpox (penyakit cacar manusia). Pada 1796, James Phipp merupakan anak pertama yang divaksin.

Seratus tahun kemudian, seorang Prancis bernama Louis Pasteur, juga mengembangkan vaksin, hanya saja, vaksin yang ia kembangkan adalah vaksin untuk antrax pada sapi dan vaksin rabies. Ide Pasteur adalah attenuation atau teknik melemahkan kuman sebagai cikal bakal teknik pengembangan vaksin masa kini. Perkembangan memasukkan kekebalan pada tubuh manusia, jika dirunutkan, dimulai dari variolation, kemudian cara ilmiah seperti vaksinasi dan attenuation yang kemudian secara luas sekarang dikenal sebagai imunisasi.

Imunisasi merupakan andalan program kesehatan Indonesia. Dalam catatan internasional, pada akhir tahun 1990-an, Indonesia memiliki reputasi pencapaian program imunisasi yang mengesankan. Pemerintah secara nasional melakukan kontrol terhadap pelaksanaan imunisasi. Namun sejak dimulainya desentralisasi, terjadi penurunan capaian di beberapa daerah. Hal ini karena terkendala biaya yang berefek domino pada hal-hal lain seperti penyuluhan dan pembinaan pada masyarakat.

Namun dengan banyaknya isu kesehatan, apalagi yang disebabkan oleh virus-virus yang bersifat baru, seperti flu akibat H5N1, maka imunisasi selayaknya kembali menjadi program andalan pencegahan penyakit. Namun tentunya harus dibarengi dengan penyuluhan dan sosialisasi yang masif pada masyarakat. Sosialisasi ini penting, khususnya untuk meredam suara-suara miring tentang imunisasi, dan untuk mendorong masyarakat yang menjadi sasaran imunisasi untuk mengikuti program ini. Kita harus ingat bahwa Indonesia menghilangkan penyakit cacar pada tahun 1974, juga penyakit polio berhasil dieradikasi pada tahun 1995. Jadi, imunisasi tetap merupakan langkah preventif yang efektif.

***

Upaya untuk mereduksi penyakit pada dasarnya terbagi dalam dua kategori, preventif dan kuratif. Tindakan kuratif atau pengobatan lebih sering digunakan, karena memang ada gejala dan ada yang terlihat untuk diobati. Namun cara seperti ini lebih memakan banyak biaya. Berbeda dengan cara pencegahan atau preventif yang lebih low cost atau hemat biaya.

Salah satu langkah preventif adalah dengan menjalankan program imunisasi. Terlepas dari pro kontra seputar imunisasi, upaya ini telah terbukti ampuh dalam mengendalikan, bahkan menghilangkan penyakit mewabah.


Sumber :

P&LA. Facts for Life: A Communication Challenge. UNICEF/WHO/UNESCO/UNFPA, 1993. hal. 35

“KLB POLIO di Sukabumi: Jangan Panik Segera Imunisasi”. Kompas, 07 Mei 2005.

Hassan Shadily. Ensiklopedi Indonesia 7. Jakarta: Penerbit Buku Ichtiar Baru – Van Hoeve, 1984. hal. 3785.

Umar Fachmi Achmadi. Imunisasi Mengapa Perlu?. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006. hal. 52.

Enny Muchlastriningsih. “Penyakit-penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi di Indonesia” dalam Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005. diunduh dari http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/148_05PenyakitMenularDicegahImunisasi.pdf/148_05PenyakitMenularDicegahImunisasi.html. diakses pada Selasa, 21 Juni 2011 pkl. 23.13.

Dirjen P3M. Hasil-hasil Rapat Kerja Dirjen Pencegahan & Pemberantasan Penyakit Menular di Jakarta, 11 s/d 13 April 1977. Depkes RI. Hal. 137.

Prof. Dr. Harsono Salimo, dr, SpA(K). “Peran Imunisasi Untuk Menunjang Tumbuh Kembang Balita Anak Indonesia Berkualitas” Revisi pada Rabu, 8 April 2009. diunduh dari http://pustaka.uns.ac.id/?menu=news&nid=156&option=detail. Diakses pada Selasa, 21 Juni 2011 pkl. 22.00.

I.G.N. Ranuh, dkk. (Eds). Pedoman Imunisasi Di Indonesia. Jakarta: Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2005.

Depkes RI. Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia Jilid 2. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 1980. hal. 118.

Depkes RI. Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia Jilid 3. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 1980. hal 46-47.

Op. Cit Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia Jilid 2. hal 36.

Ibid. hal. 124-125.

Op Cit. Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia Jilid 3.

George Dick. Imunisasi dalam Praktik. Jakarta: Hipokrates, 1992. hal. 189.

Umar Fachmi Achmadi. Op, Cit. hal. 3.

Ibid. hal 4-5.

sumber : http://sejarah.kompasiana.com/2012/08/15/preventif-efektif-imunisasi-dalam-sketsa-sejarah/

 

Leave a Reply

WP Socializer Aakash Web