Radang Paru Masih Mengintai Balita

Bayi dan balita termasuk dalam kelompok yang paling rawan mengalami gangguan kesehatan. Salah satu penyakit yang menjadi pembunuh balita utama di Indonesia adalah penumonia atau radang paru. Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2007, pneumonia menjadi penyebab kematian balita terbesar kedua setelah diare.

“Ratarata anak kecil sistem kekebalan tubuhnya belum maksimal, sehingga mudah sekali kalau ada kuman masuk menjadi infeksi. Apalagi kalau kuman yang masuk itu sifatnya ganas,” ujar dr. Agus Dwi Susanto, dokter spesialis paru Rumah Sakit Persahabatan, Kamis, (28/6/2012).

Agus menjelaskan, Pneumonia adalah radang paruparu atau infeksi di jaringan paru yang disebabkan oleh kuman. Kuman tersebut bisa berupa bakteri, virus atau jamur yang sifatnya mikroorganisme. Cara penularannya melalui kontaminasi udara yang masuk melalui saluran napas, kemudian ke paruparu, sehingga menimbulkan peradangan.

Menurut Agus, peradangan yang berlangsung lama dan luas akan membuat pasokan oksigen yang masuk melalui paruparu berkurang karena ada jaringan yang terinfeksi. Tidak heran jika banyak pasien pneumonia meninggal karena kegagalan napas (oksigen yang masuk tidak maksimal).

Derajat penyakit pneumonia bisa bervariasi mulai dari ringan sampai berat. Gejala utama pneumonia, baik pneumonia yang disebabkan virus atau bakteri, antara lain demam tinggi, batuk, sesak napas, lemas, atau tampak kelelahan dan dada terasa sakit, terutama bila batuk.

Pada kasus berat bisa terjadi penurunan suhu tubuh, kejang, penurunan kesadaran, suara napas keras dan kasar, tidak dapat makan, serta anak tampak biru (terutama di sekitar mulut).

“Intinya, kalau ada tandatandanya anak mengalami batuk, demam dan sesak napas, kita harus berpikir ada infeksi di jaringan paru,” ucapnya.

Berdasarkan data WHO dan UNICEF, sekitar 50 persen pneumonia disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae (bakteri pneumokokus) dan 20 persen disebabkan Haemophilus influenzae tipe B (Hib). Sisanya disebabkan virus dan penyebab lain.

Strategi kunci dalam mengendalikan pneumonia adalah menurunkan angka kelahiran bayi prematur atau bayi berat lahir rendah, pemberian ASI eksklusif 6 bulan, gizi cukup dan seimbang di semua usia anak, imunisasi (khususnya DPT, campak, Hib, dan IPD), dan yang tak kalah penting menciptakan lingkungan bebas asap dan polusi.

“Tugas orang tua untuk memastikan dan menjaga agar anak mendapat asupan makanan yang cukup. Bayi juga harus mendapatkan ASI karena menguatkan sistem kekebalan tubuh,” imbaunya.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2003 menunjukkan, pneumonia tercatat menempati peringkat pertama penyebab kematian utama pada balita, lebih tinggi dibandingkan AIDS, Diare, TB, Malaria, dan Campak. Menurut UNICEF, pneumonia menjadi salah satu penyakit yang mengancam anakanak. Ada sekitar 155 juta kasus pneumonia anak setiap tahun di dunia. Editor : Lusia Kus Anna

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *