Vaksin Apa Saja yang Perlu dan Tidak Diperlukan Bayi?

Semua vaksin pada dasarnya memberikan perlindungan dan punya posisi penting. Tapi diantara sekian banyak imunisasi tersebut, ada vaksin yang benar-benar wajib diberikan pada bayi dan yang bisa diberikan kalau kondisinya mampu.

“Saat ini ada 5 imunisasi dasar yang diberikan yaitu hepatitis B, BCG, polio, DPT dan campak,” ujar dr Rifan Fauzie, SpA dari RSAB Harapan Kita Jakarta, saat dihubungi detikHealth, Rabu (20/6/2012).

Kelima imunisasi dasar ini merupakan vaksin yang memang dianjurkan oleh pemerintah dan bisa dilakukan di Puskesmas maupun rumah sakit secara gratis. Kelima imunisasi dasar tersebut adalah:

1. Hepatitis B untuk mencegah penyakit akibat infeksi hepatitis B yang dapat menyerang dan merusak hati, bila berlangsung sampai dewasa dapat menjadi kanker hati. dan sebaiknya diberikan beberapa jam setelah bayi lahir, lalu diulang pada usia 1 bulan dan 6 bulan.

2. Imunisasi BCG untuk mencegah tuberkulosis paru, kelenjar, tulang dan radang otak yang bisa menimbulkan kematian atau kecacatan. Imunisasi BCG hanya dilakukan sekali yakni ketika bayi berusia 2-3 bulan.

3. Polio untuk mencegah penyakit polio yang bisa menyebabkan kelumpuhan permanen. Vaksin polio pertama diberikan setelah lahir. Kemudian diberikan 3 kali, saat bayi berumur 2, 4, dan 6 bulan. Pemberian vaksin ini bisa diulang pada usia 3 tahun dan 6 tahun.

4. Imunisasi DPT untuk mencegah penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Vaksin ini diberikan sebanyak 5 kali yaitu pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 1,5-2 tahun dan 5 tahun.

5. Imunisasi campak untuk mencegah radang paru, diare, dan radang otak karena virus campak. Vaksin ini diberikan pada usia 9 bulan dan 6 tahun.

Menurut Bidan Maria DS, yang biasa menangani bayi baru lahir memang untuk 5 vaksin dasar itu diwajibkan pemerintah. Kenapa pemerintah mewajibkan 5 vaksin dasar ini, karena sifatnya bisa mewabah, mematikan, dan bisa menimbulkan kecacatan seumur hidup untuk polio.

Tapi lanjut bidan Maria, di luar 5 vaksin dasar itu, ada vaksin yang juga penting tapi tidak diwajibkan pemerintah karena penyakitnya bisa dicegah, tidak mewabah dan tidak mematikan.

“Vaksin-vaksin tambahan itu harus dilakukan berulang, dan ini tidak semua orang mampu melakukannya karena vaksin tambahan itu biayanya mahal. Kalau tidak divaksin untuk vaksin tambahan itu karena penyakitnya bisa dicegah. Tapi kalau pun terkena misalnya cacar maka tubuh setelah sakit akan membentuk kekebalannya sendiri,” jelas Bidan Maria dalam perbincangannya dengan detikHealth.

Contoh kasus adalah wabah Hepatitis A di suatu daerah, maka orang yang terkena hepatitis A tubuhnya akan membuat antibodi sendiri setelah ia terkena. Tapi orang yang belum terkena dan berada di lingkungan itu bisa mencegahnya dengan vaksinasi dari luar tubuh. Karena beberapa antibodi baru muncul setelah orang itu sakit.

Sementara itu dr Rifan menjelaskan untuk vaksin lain seperti pneumokokus, influenza atau Hib (Haemophilus influenza) meski tidak termasuk dalam 5 imunisasi dasar tapi vaksin ini sangat dianjurkan atau tetap diperlukan.

“Jika memang secara geografis dan ekonomis mampu itu bisa dilakukan maka sebaiknya vaksin ini diberikan,” ujar dokter yang juga anggota IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dibagian bisa etika profesi.

dr Rifan juga mengungkapkan saat ini di jadwal imunisasi IDAI terdapat imunisasi untuk anak berusia 0-18 tahun dan semua vaksin ini sama pentingnya, tinggal didasarkan pada usianya saja untuk melihat vaksin mana yang diperlukan.

Sementara Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi, Sekretaris Satgas Imunisasi PP IDAI, dalam penjelasannya ke detikHealth mengungkapkan imunisasi lain yang belum disediakan oleh pemerintah adalah:

1. Hib dan Pneumokokus untuk mencegah penyebaran bakteri Hib, pneumokokus dalam darah (bakteriemia), infeksi saluran napas berat (pneumonia) dan radang otak (meningitis). Vaksin Hib diberikan pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan dan 15-18 bulan, pneumokokus diberikan pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan dan diulang saat usia 12-15 bulan.

2. Influenza yang dapat mencegah influenza berat yang bisa mengakibatkan radang paru berat (pneumonia). Vaksin influenza bisa diberikan mulai usia 6 bulan.

3. MMR dapat mencegah penyakit mumps (gondongan, radang buah zakar), morbili (campak) dan rubella (campak Jerman). Vaksin ini diberikan pada usia 15 bulan dan diulang saat usia 5-6 tahun.

4. Demam Tifoid untuk mencegah penyakit demam tifoid berat. Vaksin tifoid diberikan mulai usia 24 bulan dan diulang tiap 3 tahun.

5. Cacar air (varisela) untuk mencegah penyakit cacar air. Vaksin varisela diberikan sekali mulai usia 12 bulan.

6. Hepatitis A untuk mencegah radang hati karena virus hepatitis A. Vaksin hepatitis A mulai usia 24 bulan dan diberikan 2 kali dengan interval 6-12 bulan.

7. Rotavirus untuk mencegah diare berat pada bayi akibat Rotavirus. Vaksin ini diberikan pada usia 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan.

Untuk vaksin tambahan ini jika orangtua mampu boleh saja diberikan sebagai pencegahan. Atau melakukan pencegahan yang lebih murah dengan melakukan hidup sehat sehingga kekebalan tubuh terus terjaga.

Meski begitu, beberapa bayi saat ini banyak yang terkena meningitis dan pneumonia yang sangat membahayakan. Bayi yang terkena meningitis bisa menimbulkan kecacatan atau meninggal, sehingga di dunia barat banyak orang rela mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan vaksin pneumokokus. (ver/ir)

sumber : http://health.detik.com/read/2012/06/20/125512/1946052/775/vaksin-apa-saja-yang-perlu-dan-tidak-diperlukan-bayi

2 Comments

  1. dcgloria  /  July 15, 2012, 2:38 am Reply

    MERCK DITUNTUT KARENA MENIPU DAN PEMALSUAN TERKAIT VAKSIN GONDONG/MUMPS http://www.naturalnews.com/036328_Merck_mumps_vaccine_False_Claims_Act.html#ixzz20RCxnfZ8

    MEMANG BETUL MENCEGAH PENYAKIT LEBIH MURAH DARIPADA MENGOBATI. TETAPI MENCEGAH PENYAKIT DENGAN VAKSIN BELUM ADA DATA PASTI TENTANG KEAMANANNYA BAHKAN WABAH TERJADI DI ANTARA MEREKA YAN SUDAH PERNAH DI VAKSIN. SAYA LEBIH PERCAYA DOKTER2 AMERIKA YANG SUDAH MEMPELAJARI LEBIH DARI 4500 ARSIP MENGENAI KEBENARAN VAKSIN.

    http://www.vran.org

    http://vran.org/legacy/docs/VRAN-Immunization-Fact-Sheet-v6.pdf

    salam dan doa+

    • admin  /  July 18, 2012, 5:01 pm Reply

      Selamat sore,

      Untuk kasus Merck, Kami sarankan Anda dapat memilih berita dari situs yang terpercaya, seperti FDA. Kalau di Indonesia proses registrasi vaksin melalui tahapan yang cukup panjang dan evaluasi yang berkali-kali dari Badan POM. Sehingga vaksin yang sudah dipasarkan di Indonesia telah terjamin kualitasnya.

      Untuk pencegahan lebih baik daripada mengobati, Anda silakan melihat link berita yang ada di situs ini. Banyak berita yang membuktikan data mengenai kesuksesan vaksin. Bangsa Indonesia termasuk bangsa yang patut bersyukur karena berhasil mengeradikasi penyakit cacar api (virus variola) dengan vaksinasi. Penyakit polio pun telah turun dari 125 negara endemis pada tahun 1988 menjadi hanya 3 negara yang endemis pada tahun 2012.Sebenarnya mau mengambil data dari negara manapun sah-sah saja, mau dari Indonesia, Amerika atau yang lainnya. Yang perlu kita cermati adalah dari mana data itu diambil. Anda perlu cermat dalam memilih mana yang merupakan berita dan data palsu, mana yang merupakan data atau jurnal yang valid. Salah memilih data, maka anda akan salah mendapatkan informasi dan salah melangkah.

      demikian informasi yang dapat kami sampaikan. semoga informasi ini bermanfaat bagi anda.

      terima kasih

Leave a Reply

WP Socializer Aakash Web