Vaksin dan Cara Pemberiannya

Proses pemberian vaksin ke dalam tubuh bervariasi. Lokasi penyuntikan vaksin dan cara pemberiannya menentukan efektivitas vaksin dalam merangsang terbentuknya kekebalan tubuh. Hendaknya kita mengetahui cara pemberian vaksin yang benar. Cara pemberian vaksin ditentukan oleh uji klinik, pengalaman praktis, dan pertimbangan teoritis. Pemberian vaksin dapat dilakukan dengan cara disuntikkan ke dalam otot (intramuskular), disuntikkan di bawah lapisan kulit (subkutan), atau disuntikkan ke dalam lapisan kulit terluar hingga menggembungkan kulit (intrakutan). Ada pula vaksin yang diberikan dengan cara diteteskan melalui mulut (oral).

 

Cara pemberian tersebut dapat ditentukan berdasarkan jenis vaksinnya, yaitu vaksin hidup dan vaksin mati. Umumnya, vaksin mati disuntikkan secara intramuskular, sedangkan vaksin hidup disuntikkan secara subkutan. Cara pemberian vaksin yang tersedia di Indonesia dijelaskan secara lebih rinci pada tabel.

 

Vaksin Volume Dosis Lokasi Pemberian
Difteri, Pertusis, dan Tetanus (DPT, DpaT, TT, Td, dan yang dikombinasikan dengan Hib, Hepatitis B, dan Polio Suntik) 0,5 ml Intramuskular (IM)
Haemophilus influenzae tipe b (Hib) 0,5 ml IM
Hepatitis A ≤ 18 tahun: 0,5 ml

≥ 19 tahun: 1ml

IM
Hepatitis B ≤ 19 tahun: 0,5 ml

≥ 20 tahun: 1ml

IM
Human papillomavirus (HPV) 0,5 ml IM
Influenza mati (trivalen) 6-35 bulan: 0,25ml

≥ 3 tahun: 0,5ml

IM
Campak, Gondongan, Rubella (Campak tunggal ataupun MMR) 0,5 ml Subkutan (SC)
Meningokokus konjugat (MCV) 0,5 ml IM
Meningokokus (polisakarida) (MPS) 0,5 ml SC
Pneumokokus konjugat (PCV) 0,5 ml IM
Pneumokokus (polisakarida) (PPS) 0,5 ml IM atau SC
Polio hidup (OPV) 2 tetes Oral
Polio (mati) (IPV) 0,5 ml IM atau SC
Rotavirus Rotarix: 1 ml

RotaTeq: 2 ml

Oral
Varisela (cacar air) 0,5 ml SC
BCG 0,05 ml Intrakutan

 

Untuk suntikan subkutan (SC), pada anak yang berusia dibawah 12 bulan, penyuntikan dilakukan di paha atas. Sedangkan anak yang berusia diatas 12 bulan, disuntik dibagian lengan atas. Namun, menyuntik anak berusia dibawah 12 bulan di bagian lengan atas dan anak di atas 12 bulan di paha atas tetap diperbolehkan.

 

Untuk suntikan intramuskular (IM), pada anak yang berusia dibawah 12 bulan, penyuntikan dapat dilakukan di paha atas. Pada anak berusia 1-2 tahun, penyuntikan dapat dilakukan di paha atad atau lengan atas (bahu). Begitu pula dengan anak berusia 3-18 tahun. Pada orang dewasa berusia 19 tahun keatas penyuntikan dilakukan di lengan atas (bahu). (FG)

 

Sumber : dr. Arifianto, Sp.A . 2014. Pro Kontra Imunisasi: Agar tak salah memilih demi kesehatan buah hati. Jakarta: PT. Mizan Republika

2 thoughts on “Vaksin dan Cara Pemberiannya

  1. Dokter saya punya anak usia 7 thn kmrn di suntik difteri yg ke 2 di sekolah, setelah di suntik bbrp saat anak saya kemudian seperti mau pingsan.. Keringat dingin bibir pucat dan lemes, waktu difteri pertama juga begitu tapi setelah bbrp hari penyuntikan, koq bisa bgt ya dokter?? Apakah benar itu reaksi obat??

    1. bisa jadi anak ibu mengalami ketakutan pada jarum suntik sehingga reaksi tegang yang muncul setelah mendapatkan vaksin.
      Sebaiknya sebelum dilakukan vaksinasi, anak diberikan dulu penjelasan secara pelan-pelan tidak perlu merasa takut.

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *