Fakta Penyakit Polio di Indonesia

Poetri | Minggu, 23 Juni 2019

Fakta penyakit polio di Indonesia menarik dibahas. Sebab, dampak penyakit polio tidak main-main. Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, menyerang susunan saraf manusia sehingga bisa menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Namun, utamanya polio menyerang anak di bawah lima tahun (Balita) dan yang tidak diimunisasi polio.

Berikut beberapa fakta penyakit polio di Indonesia:

1. Cara penularan penyakit polio

Polio dapat ditularkan dari orang ke orang melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Jika anak terinfeksi virus polio, maka virus tersebut akan masuk ke tubuh anak dan berkembang di usus. Kemudian, virus ini akan dikeluarkan melalui tinja dan menyebar dengan cepat, terutama pada daerah dengan sanitasi lingkungan yang buruk.

2. Gejala penyakit polio

Gejala awal polio biasanya berupa demam, lelah, nyeri kepala, muntah, kaku di bagian leher, dan nyeri pada anggota tubuh.

3. Polio dapat dicegah dengan vaksin 

Sampai saat ini, tidak ada obat untuk mengobati penyakit polio. Namun, polio dapat dicegah dengan vaksin. Oleh karena itu, sangat penting pemberian imunisasi untuk mencegah penyakit ini.

4. Perkembangan penyakit polio di Indonesia

Sejak dilaksanakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) pada tahun 1995, 1996 dan 1997, virus polio asli Indonesia telah dinyatakan musnah. Kasus polio terakhir dilaporkan terjadi pada tahun 1995. Tetapi sejak saat itu, di Indonesia tidak pernah lagi ditemukan kasus polio.

Namun pada tahun 2005, dilaporkan jika ada seorang anak yang menderita polio. Berdasarkan penelitian dan penelusuran lebih lanjut, ternyata virus penyebarannya berasal dari Afrika dan sampai ke Indonesia melalui Timur Tengah. Virus ini kemudian menyebar, menginfeksi anak lain dan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan total 305 kasus.

Kejadian Luar Biasa (KLB) ini akhirnya dapat diatasi dengan melakukan 5 putaran Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan 4 putaran sub PIN. Kasus terakhir pun dilaporkan pada bulan Februari tahun 2006.

Untuk menghindari kasus serupa yang terjadi pada tahun 2005, maka penting bagi semua anak mendapatkan imunisasi polio. Selain itu, juga menemukan dan melaporkan semua kasus layuh mendadak (AFP) secara dini untuk menentukan apakah penyebabnya karena polio atau bukan.

5. Jenis imunisasi polio

Vaksin polio terdiri dari dua jenis, vaksin polio yang tidak aktif (IPV) atau vaksin suntik dan vaksin polio oral (OPV). 

Vaksin suntik atau vaksin polio tidak aktif (IPV), berisi komponen virus yang telah dimatikan yang diberikan melalui suntikan. Sementara vaksin polio oral (OPV) diberikan dengan cara diteteskan ke mulut.

6. Pemberian vaksin polio

Setiap anak harus mendapatkan imunisasi polio berupa vaksin polio tetes (OPV) pada usia 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan. Untuk imunisasi polio suntikan, anak harus diberi vaksin suntik pada usia 4 bulan, bersamaan dengan OPV 4. Vaksin polio tetes (OPV) dan vaksin polio suntik (IPV) tersedia di puskesmas, posyandu atau fasilitas kesehatan lain dan bisa didapatkan secara gratis.

Dengan fakta penyakit polio di Indonesia, kita bisa tahu pentingnya vaksin polio bagi anak. 

Sumber artikel:

http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/polio_advocacy_folder_v3.pdf

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/lembar-fakta-poliomielitis-rubela-campak

https://lifestyle.kompas.com/read/2018/10/24/193246420/infografik-sejumlah-fakta-mengenai-hari-polio-dunia

https://lifestyle.kompas.com/read/2016/03/10/160900623/Indonesia.Menuju.Vaksin.Polio.Suntik