Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Penyakit Difteri pada Anak

Poetri | Minggu, 23 Juni 2019

Yuk, mengenal gejala, penyebab, dan pengobatan penyakit difteri pada anak. Difteri adalah infeksi bakteri serius yang biasanya memengaruhi selaput lendir hidung dan tenggorokan. Difteri biasanya menyebabkan sakit tenggorokan, demam, pembengkakan kelenjar dan melemahkan tubuh. Tetapi tanda ciri khasnya adalah adanya lendir abu-abu tebal yang menutupi bagian belakang tenggorokan, yang dapat menghalangi jalan napas sehingga menyebabkan kesulitan bernapas.

Obat tersedia untuk mengobati difteri. Namun, pada stadium lanjut, difteri dapat merusak jantung, ginjal, dan sistem saraf. Bahkan dengan pengobatan, difteri bisa jadi penyakit mematikan, hingga 3% orang yang menderita difteri meninggal karenanya. Angka ini lebih tinggi untuk anak di bawah 15 tahun.

Gejala dan Tanda

Ada dua area yang bisa terinfeksi oleh bakteri penyebab difteri, yaitu pernapasan dan kulit. Difteri pernapasan disebabkan bakteri yang biasanya berkembang biak di tenggorokan. Suatu membran dapat terbentuk di atas tenggorokan dan amandel, menyebabkan sakit tenggorokan. Gejala umum lainnya mungkin termasuk:

  • Kesulitan bernafas

  • Demam ringan

  • Suara serak

  • Stridor (suara nafas melengking terdengar saat menarik napas, atau bernapas dalam)

  • Pembesaran kelenjar getah bening di leher

  • Detak jantung meningkat

  • Drainase hidung

  • Pembengkakan langit-langit mulut (atap mulut)

Anak-anak dapat meninggal karena sesak napas ketika membran menghalangi pernapasan. Komplikasi lain dari difteri pernapasan disebabkan oleh toksin difteri yang dilepaskan dalam darah, yang menyebabkan gagal jantung.

Jenis kedua yaitu difteri kulit yang memengaruhi kulit, menyebabkan rasa sakit, kemerahan dan pembengkakan yang khas yang terkait dengan infeksi kulit bakteri lainnya. Ulkus yang ditutupi oleh membran abu-abu juga dapat berkembang pada difteri kulit. Biasanya gejala lebih ringan dan mungkin termasuk bintik-bintik kuning atau luka (mirip dengan impetigo) pada kulit.

Kondisi ini lebih umum di daerah beriklim tropis, terutama di antara orang-orang dengan kebersihan yang buruk yang hidup dalam lingkungan yang padat.

Penyebab Penyakit Difteri Pada Anak 

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini biasanya berkembang biak di atau dekat permukaan selaput lendir tenggorokan. C. diphtheriae menyebar melalui tiga cara:

Tetesan air. Ketika seseorang yang terinfeksi difteri bersin atau batuk, akan ada cairan tubuh yang terkontaminasi keluar dan orang di dekatnya dapat menghirup C. diphtheriae. 

Barang-barang pribadi yang terkontaminasi. Orang-orang bisa terinfeksi difteri dari mengakses barang-barang pribadi milik orang yang terinfeksi. Seperti minum dari gelas yang tidak dicuci atau melakukan kontak dekat dengan barang-barang lain.

Barang rumah tangga yang terkontaminasi. Dalam kasus yang jarang terjadi, difteri menyebar pada barang-barang rumah tangga bersama, seperti handuk atau mainan.

Orang yang telah terinfeksi oleh bakteri difteri dan yang belum diobati dapat menginfeksi orang yang tidak kebal selama enam minggu lamanya, bahkan jika mereka tidak menunjukkan gejala apa pun.

Pengobatan Penyakit Difteri pada Anak

Difteri bisa dicegah dengan melakukan vaksinasi. Ada beberapa jenis vaksin yang dapat mencegah difteri, beberapanya yaitu vaksin difteri jenis Tdap, Td, DtaP, DT, DPT, dan Pentavalent. Ini merupakan vaksin gabungan untuk mencegah penyakit difteri dan tetanus. Sementara vaksin DtaP, Tdap, dan DPT juga bisa mencegah penyakit pertusis (batuk rejan). Lalu vaksin Pentavalent dapat mencegah hepatitis B dan Hib.

Untuk bayi berusia dua bulan, diberikan tiga dosis. Pemberian melalui tiga kali suntikan dengan interval waktu minimal satu bulan tiap suntikan. Kemudian perlu dilakukan pengulangan suntik vaksin pada usia 15 bulan sampai dengan 1 tahun 6 bulan.

Namun, bila sudah terlanjur terinfeksi difteri, perlu segera ditangani oleh medis dengan beberapa langkah penanganan berikut:

Antitoksin. Jika dokter mencurigai difteri, anak yang terinfeksi menerima antitoksin. Antitoksin ini disuntikkan ke dalam pembuluh darah atau otot, menetralkan racun difteri yang sudah beredar di tubuh. Namun sebelum memberikan antitoksin, dokter mungkin melakukan tes alergi kulit untuk memastikan bahwa pasien tidak memiliki alergi terhadap antitoksin.

Antibiotik. Difteri juga diobati dengan antibiotik, seperti penisilin atau eritromisin. Antibiotik membantu membunuh bakteri dalam tubuh, dan membersihkan infeksi. Antibiotik berkurang menjadi hanya beberapa hari lamanya seseorang dengan difteri menular.

Anak-anak yang menderita difteri perlu dirawat di rumah sakit. Mereka diisolasi di unit perawatan intensif karena difteri dapat menyebar dengan mudah kepada siapa pun yang tidak melakukan vaksinasi terhadap penyakit tersebut. Selain itu, dokter dapat menghilangkan sebagian dari penutup abu-abu yang tebal di tenggorokan jika menghambat pernapasan. 

Sumber:

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diphtheria/symptoms-causes/syc-20351897

https://www.cdc.gov/diphtheria/about/prevention.html

https://www.verywellhealth.com/what-you-need-to-know-about-the-dtap-vaccine-4156747

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diphtheria/diagnosis-treatment/drc-20351903

https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=diphtheria-in-children-90-P02511

https://lifestyle.kompas.com/read/2013/08/20/1534312/Vaksin.Pentavalen.Resmi.Digunakan