Isu Imunisasi yang Diangkat Pemerintah

Poetri | Senin, 17 Juni 2019

Saking pentingnya vaksinasi, ada beberapa isu imunisasi yang diangkat pemerintah. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), vaksin adalah persiapan biologis yang meningkatkan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Vaksinasi menjadi salah satu cara paling efektif untuk menghindari penyakit, yang mencegah 2-3 juta kematian setahun. Vaksin sendiri sudah membasmi beberapa penyakit mematikan, seperti cacar (smallpox), polio, campak, difteri, dan tetanus.

Di Indonesia, ada ragam topik terkait vaksin yang dibicarakan publik bahkan oleh pemerintah, beberapanya adalah: gerakan antivaksin, pro kontra soal kehalalan vaksin MR, dan Kejadian Luar Biasa (KLB) wabah difteri. Berikut isu imunisasi yang diangkat pemerintah: 

1. Gerakan Menolak Vaksinasi

Terlepas dari kemampuannya mengatasi penyakit berisiko yang mematikan, masih ada beberapa masyarakat yang menunjukkan keengganan untuk melakukan vaksinasi, baik untuk dirinya sendiri, maupun untuk anak-anaknya. Bahkan, WHO secara resmi menyebut gerakan anti vaksin ini sebagai salah satu dari 10 ancaman kesehatan dunia di tahun 2019.

Mengutip dari situs WHO, campak, misalnya, telah mengalami peningkatan 30% dalam kasus global. Alasan kenaikan ini sebetulnya sangat kompleks, dan tidak semua disebabkan oleh mereka yang enggan vaksinasi. Namun, beberapa negara yang hampir menghilangkan penyakit campak ini justru telah mengalami kenaikkan.

Pada laporan tersebut, dituliskan bahwa alasan orang memilih untuk tidak divaksinasi cukup rumit. Kelompok penasehat vaksin untuk WHO mengidentifikasi rasa puas diri, ketidaknyamanan dalam mengakses vaksin, dan kurangnya kepercayaan diri adalah alasan utama yang mendasari keraguan melakukan vaksinasi.

Gerakan antivaksin ini sendiri juga tak luput keberadaannya di Indonesia. Mengutip dari Tribun News, keraguan dan penolakan terhadap vaksin ini membuat Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila F. Moeloek, merasa prihatin. Namun, Nila tak mempermasalahkan jika ada sekelompok orang yang memiliki pikiran antivaksin. Ia berharap orang-orang yang antivaksin tidak menyebarkan bahkan memaksakan pikirannya kepada orang lain yang bisa berdampak pada kerugian, seperti meninggal dunia.

2. Pro kontra soal kehalalan vaksin MR

Isu lain terkait vaksin yang sempat jadi topik hangat di masyarakat, dan salah satu alasan beberapa orang enggan atau ragu melakukan vaksinasi adalah mengenai kandungan vaksin yang tidak halal, khususnya adalah vaksin MR (Measles-Rubella).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan mengeluarkan fatwa terkait penggunaan vaksin MR untuk imunisasi campak-Rubella. Ini karena pada awalnya masyarakat sempat ragu melakukan vaksinasi MR. Ketua Komisi Fatwa MUI, Hasanuddin AF, menyatakan bahwa penggunaan vaksin MR dari Serum Institute of India (SII) hukumnya haram karena proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi. Tetapi akhirnya MUI mengeluarkan fatwa bahwa vaksin MR boleh digunakan karena dalam kondisi terpaksa, dan belum ditemukan vaksin MR halal dan suci. Keputusan ini sudah tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR dari SII untuk imunisasi. Mengutip dari Kompas, MUI juga menyebutkan tiga alasan untuk sementara ini membolehkan penggunaan vaksin MR.

• Pertama, adanya kondisi keterpaksaan (darurat syar’iyyah). 

• Kedua, belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci. 

• Ketiga, ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak disuntik vaksin MR.

Menurut laporan terkait status campak dan rubella di Indonesia oleh WHO, penyebaran campak dan rubella di Indonesia sendiri dilaporkan dari tahun 2010-2015, diperkirakan terdapat 23.164 kasus campak, dan 30.463 kasus rubella. Di Indonesia, rubella merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan upaya pencegahan efektif. Penyakit campak dan rubella tidak dapat diobati, dan jenis pengobatannya hanya bersifat suportif. Namun, kedua penyakit ini bisa dicegah dengan vaksinasi.

3. Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri

Pada akhir tahun 2017 kemarin, terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di beberapa daerah di Indonesia. Difteri ini mulanya menyerang di Jawa Timur, dan dengan cepat menyebar ke daerah lain. Gubernur Soekarwo menyebutkan setidaknya difteri menyebar di 14 kabupaten dan kota, menurut catatan Dinas Kesehatan Jatim. Mengutip dari Kompas, Soekarwo mengatakan lima daerah dengan jumlah penderita tertinggi (lebih dari 21 pasien) berada di Kabupaten Sampang, Gresik, Nganjuk, Pasuruan, dan Kota Surabaya.

Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan kuman Corynebacterium diphtheriae yang sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Pada kejadian luar biasa (KLB), selain difteri farings, tonsil, dan larings, juga dilaporkan terjadinya difteri hidung dan difteri kulit. Penularan penyakit ini dapat terjadi tidak hanya dari penderita saja, namun juga dari karier (pembawa) baik anak maupun dewasa yang tampak sehat kepada orang-orang di sekitarnya.

Menurut laporan dari berbagai Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten, hingga 16 Desember 2017, difteri telah menyebar di 26 provinsi dan 130 kabupaten di Indonesia. Ketua PP IDAI, DR. Dr. Aman B. Pulungan Sp.A(K), mengatakan bahwa KLB difteri di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia, seperti dikutip dari Nakita.id.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila F. Moeloek, menjelaskan masalah KLB difteri sudah lama di Indonesia sebelum 1990, kemudian dapat diatasi hingga pada 1990 dinyatakan bebas difteri. Namun terjadi lagi dan dapat di atasi lagi pada 2013. Lalu terjadi lagi kasus difteri di tahun 2017. Menurut Menkes Nila, penyebab kemunculan kembali difteri di Indonesia bisa disebabkan karena ada yang tidak divaksinasi, atau yang melakukan vaksinasi namun tidak lengkap. Oleh karena itu, penting melakukan vaksinasi difteri agar kejadian luar biasa ini tidak kembali terjadi di Indonesia.

Sumber:

https://www.who.int/emergencies/ten-threats-to-global-health-in-2019
http://www.tribunnews.com/nasional/2018/01/12/menkes-prihatin-adanya-gerakan-antivaksin-di-indonesia?page=all
https://www.unicef.org/pon96/hevaccin.htm
http://www.tribunnews.com/kesehatan/2018/08/21/fatwa-mui-vaksin-mr-haram-karena-mengandung-babi-tapi-boleh-dipakai-jika-terpaksa?page=all
https://nasional.kompas.com/read/2018/08/21/06233661/menganggap-penuhi-unsur-kedaruratan-mui-bolehkan-penggunaan-vaksin-mr
http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/mr_measles_status.pdf?ua=1
https://regional.kompas.com/read/2018/01/18/09213571/menyebar-di-14-kabupaten-kota-jatim-klb-difteri
https://nakita.grid.id/read/0220980/selain-difteri-ternyata-hal-ini-jadi-sorotan-kementerian-kesehatan?page=all
http://www.depkes.go.id/article/view/17121200001/ini-makna-klb-difteri.html