Mengenal Congenital Rubella Syndrome (Dampak Rubella Saat Hamil)

Poetri | Rabu, 8 Mei 2019

Rubella adalah infeksi yang disebabkan oleh virus. Penyakit Rubella ditularkan melalui saluran pernapasan saat batuk atau bersin. Virus dapat berkembang biak di nasofaring dan kelenjar getah bening regional, dan viremia terjadi pada 4 – 7 hari setelah virus masuk tubuh. Masa penularan diperkirakan terjadi pada 7 hari sebelum hingga 7 hari setelah ruam.

Masa inkubasi Rubella berkisar antara 14 – 21 hari. Gejala dan tanda Rubella ditandai dengan demam ringan (37,2°C) dan bercak merah/ruam makulopapuler disertai pembesaran kelenjar limfe di belakang telinga, leher belakang dan sub occipital.

Rubella biasanya berupa penyakit ringan pada anak, akan tetapi bila menulari ibu hamil pada trimester pertama atau awal kehamilan, dia memiliki peluang 90% untuk menularkan virus ke janinnya. Ini dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang dilahirkan. Kecacatan tersebut dikenal sebagai Congenital Rubella Syndrome (CRS).

Melansir laman depkes.go.id, berdasarkan Data Kementerian Kesehatan, angka infeksi Rubella dari tahun ke tahun yaitu, tahun 2014 tercatat 906 positif Rubella, tahun 2015 tercatat 1.474 positif Rubella, tahun 2016 tercatat 1.341 positif Rubella, tahun 2017 tercatat 1.284 positif Rubella, dan sampai dengan Juli 2018 tercatat 732 positif Rubella. Bahkan, data dari 12 rumah sakit yang menjadi sentinel pemantauan kasus CRS selama lima tahun terakhir s.d Juli 2018 telah menemukan 1.660 kasus suspek CRS.

Congenital Rubella Syndrome (CRS)

Congenital rubella syndrome (CRS) adalah suatu kondisi yang terjadi pada bayi yang sedang berkembang di dalam rahim, di mana ibunya terinfeksi virus Rubella. Wanita hamil yang tertular Rubella berisiko keguguran atau lahir mati, dan bayi di dalam kandungan bisa berisiko mengalami cacat lahir yang parah seumur hidupnya. CRS dapat memengaruhi hampir semua hal dalam tubuh bayi yang sedang berkembang.

Adapun bentuk kelainan pada Congenital rubella syndrome (CRS) :

1. Kelainan jantung :

- Patent ductus arteriosus

- Defek septum atrial

- Defek septum ventrikel

- Stenosis katup pulmonal

2. Kelainan pada mata :

- Katarak kongenital

- Glaukoma kongenital

- Pigmentary Retinopati

3. Kelainan pendengaran

4. Kelainan pada sistim saraf pusat :

- Retardasi mental

- Mikrocephalia

 - Meningoensefalitis

5. Kelainan lain :

- Purpura

- Splenomegali

- Ikterik yang muncul dalam 24 jam setelah lahir

- Radioluscent bone

Menurut IDAI, tidak ada pengobatan yang spesifik untuk virus Rubella. Terapi hanya diberikan untuk memperbaiki kelainan yang ditimbulkan. Bila anak terlahir dengan katarak atau penyakit jantung bawaan, dapat dilakukan operasi, sementara anak dengan gangguan pendengaran bisa dilakukan implantasi koklea (organ pendengaran di telinga tengah).

Sedangkan anak yang mengalami keterlambatan perkembangan yang sering menyertai SRK, dapat diterapi dengan berbagai macam terapi, seperti fisioterapi, terapi wicara, okupasi dan lain-lain. Tidak hanya itu, biasanya anak juga memerlukan sekolah khusus.

Pencegahan

Meskipun gejala spesifik dapat diobati, namun tidak ada obat khusus untuk Congenital rubella syndrome (CRS). Oleh karena itu, sangat penting bagi wanita untuk melakukan tindakan pencegahan dengan cara mendapatkan vaksinasi MR atau MMR sebelum hamil.

Vaksin MR adalah vaksin yang dapat mencegah dua penyakit sekaligus, Campak atau Measles dan Rubella. Sementara vaksin MMR merupakan vaksin yang mencegah penyakit Campak atau Measles, Rubella dan Gondongan.

 

Sumber artikel:

https://www.who.int/immunization/monitoring_surveillance/burden/vpd/surveillance_type/passive/rubella/en/

http://www.depkes.go.id/article/view/17072000002/imunisasi-measles-rubella-lindungi-anak-kita.html

http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/petunjuk_teknis_kampanye_dan_introduksi_mr.pdf?ua=1

https://www.cdc.gov/rubella/pregnancy.html#

http://www.depkes.go.id/article/view/18082400002/fatwa-mui-bolehkan-imunisasi-campak-dan-rubella-kemenkes-fokus-turunkan-beban-dan-dampak-penyakit-te.html

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/sindrom-rubela-kongenital

http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/leaflet_untuk_orangtua.pdf