Imunisasi Pada Bayi

Poetri | Senin, 17 Juni 2019

Setiap orangtua tentu ingin agar anaknya tumbuh dan berkembang dengan sehat. Tak hanya penting memerhatikan asupan nutrisi harian, tetapi juga perlu imunisasi pada bayi agar terhindar dari penyakit berbahaya. Salah satu caranya dengan melakukan vaksinasi. Sebagai orangtua, penting bagi anak untuk melakukan vaksinasi. Hal ini agar menjaga ia terlindungi dari penyakit berisiko yang bisa mematikan.

Tetapi di satu sisi, beberapa orangtua merasa enggan melakukan vaksinasi kepada anak karena alasan tertentu. Menurut data riset keseahatan (Riskesdas) 2013, disebutkan beberapa anak tidak diimunisasi antara lain karena takut anaknya panas, keluarga tidak mengizinkan, tempat imunisasi jauh, kesibukan orangtua, anak sering sakit, dan tidak tahu tempat imunisasi. Hal ini yang menyebabkan terjadinya risiko Kejadian Luar Biasa (KLB) dari Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).

Di sisi lain, orangtua mungkin khawatir bila terlalu banyak vaksin pada anak usia muda dapat "membebani" sistem kekebalan tubuhnya. Penelitian telah menunjukkan bahwa vaksin tidak melemahkan sistem kekebalan anak. Setelah bayi lahir, mereka bersentuhan dengan sejumlah besar bakteri dan virus berbeda setiap hari, dan sistem kekebalan tubuh mereka berhasil dengan baik. Ini karena vaksin menggunakan bakteri dan virus yang dilemahkan atau yang sudah inaktif.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI memiliki konsep imunisasi rutin lengkap, yang terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan. Imunisasi lanjutan dilakukan untuk mempertahankan tingkat kekebalan anak agar lebih optimal. Mengutip dari situs Departemen Kesehatan RI, berikut daftar imunisasi lengkap yang terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan:

Imunisasi Dasar Pada Bayi 

1. Bayi berusia 24 jam diberikan Hepatitis B (HB-0)

2. Bayi 1 bulan diberikan (BCG dan Polio 1)

3. Bayi usia 2 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 1 dan Polio 2)

4. Bayi usia 3 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 2 dan Polio 3)

5. Bayi usia 4 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 3, Polio 4 dan IPV atau Polio suntik)

6. Bayi usia 9 bulan diberikan (Campak atau MR).

Imunisasi Lanjutan Pada Bayi

1. Bayi bawah dua tahun (Baduta) atau usia 18 bulan diberikan imunisasi (DPT-HB-Hib dan Campak/MR)

2. Anak kelas 1 SD/madrasah/sederajat diberikan (DT dan Campak/MR)

3. Anak kelas 2 dan 5 SD/madrasah/sederajat diberikan (Td).

Vaksinasi ini murah dan efektif, sehingga tidak memerlukan banyak biaya. Orangtua bahkan bisa membawa anak ke Posyandu terdekat untuk mendapatkan vaksinasi gratis. Beberapa vaksin yang diberikan gratis di Posyandu, yaitu: vaksin Hepatitis B, BCG, Polio, DPT-HIB, serta campak.

1.  Vaksin Hepatitis B diberikan pada bayi baru lahir untuk mencegah penularan Hepatitis B dari ibu ke anak pada proses kelahiran. Hepatitis B dapat menyebabkan pengerasan hati yang berujung pada kegagalan fungsi hati dan kanker hati.

2. Vaksin BCG diberikan satu kali pada usia 1 bulan guna mencegah kuman tuberkulosis menyerang paru, dan selaput radang otak yang bisa menimbulkan kematian atau kecacatan

3. Vaksin Polio diberikan 4 kali pada usia 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan untuk mencegah lumpuh layu. Sehingga kekebalan tubuh terbentuk sempurna.

4. Vaksin Campak diberikan dua kali pada usia 9 bulan dan 24 bulan  untuk mencegah penyakit campak berat yang dapat mengakibatkan radang paru berat (pneumonia), diare atau menyerang otak. Vaksin MR diberikan untuk mencegah penyakit campak sekaligus Rubella.

5.  Vaksin DPT-HB-HIB diberikan 4 kali, pada usia 2, 3, 4 dan 18 bulan guna mencegah 6 penyakit, yaitu: Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, Pneumonia (radang paru) dan Meningitis (radang otak).

Difteri dapat menyebabkan pembengkakan dan sumbatan jalan nafas, serta mengeluarkan racun yang dapat melumpuhkan otot jantung. Penyakit Pertusis berat dapat menyebabkan infeksi saluran nafas berat (Pneumonia). Kuman Tetanus mengeluarkan racun yang menyerang syaraf otot tubuh, sehingga otot menjadi kaku, sulit bergerak dan bernapas. Kuman Haemophilus Influenza tipe B dapat menyebabkan Pneumonia dan Meningitis.

Namun, jika lebih banyak orangtua melakukan vaksinasi kepada anak-anaknya, maka lebih banyak anak-anak di masyarakat akan terlindungi dari penyakit. Hal ini yang dinamakan fenomena “herd immunity” atau “kekebalan kawanan”.

Ada hal-hal yang perlu diperhatikan orangtua mengenai vaksinasi jika anak memiliki kondisi kesehatan seperti berikut ini:

1. Vaksinasi anak ketika sehat

Orangtua harus menunda vaksinasi jika anak sakit dan demam (suhu tinggi). Penundaan vaksinasi dilakukan agar respon antibody yang dihasilkan setelah vaksinasi menjadi optimal. Sebaiknya konsultasikan ke dokter terlebih dahulu.

2. Perhatikan riwayat alergi anak

Jika anak pernah mengalami alergi berupa reaksi anafilaksis sebelumnya pada pemberian vaksin, maka pemberian vaksin selanjutnya menjadi kontraindikasi.

3. Jangan berikan vaksin "hidup" jika anak memiliki sistem kekebalan yang lemah

Vaksin hidup adalah vaksin yang mengandung virus atau bakteri hidup yang dilemahkan. Beberapa kondisi pada anak yang menjadi kontraindikasi pemberian vaksin hidup seperti BCG atau MR adalah:

Anak sedang mengonsumsi tablet steroid dosis tinggi, atau mengonsumsi dosis rendah bersama dengan obat lain atau dalam waktu lama

Anak sedang dirawat karena kanker dengan kemoterapi atau radioterapi, atau telah menjalani perawatan ini dalam enam bulan terakhir

Anak telah menjalani transplantasi organ dan menggunakan obat imunosupresan

Anak telah menjalani transplantasi sumsum tulang dan menyelesaikan semua terapi imunosupresif dalam 12 bulan terakhir

Namun, sebelum menyimpulkan sendiri, adalah cara terbaik berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk mendapatkan diagnosa yang tepat.

Sudah jelas kan manfaat imunisasi pada bayi. 

Sumber: 

http://www.depkes.go.id/article/view/15010200001/lindungi-ibu-dan-bayi-dengan-imunisasi.html

https://www.nhs.uk/conditions/vaccinations/reasons-to-have-your-child-vaccinated/

http://www.depkes.go.id/article/view/18043000011/berikan-anak-imunisasi-rutin-lengkap-ini-rinciannya.html

https://www.nhs.uk/conditions/vaccinations/myths-truths-kids-vaccines/