Jadwal Imunisasi Dewasa

Poetri | Senin, 17 Juni 2019

Imunisasi tidak hanya dibutuhkan untuk bayi dan anak-anak saja, tetapi orang dewasa juga memerlukannya. Imunisasi pada orang dewasa sangat penting, karena efektif dalam mencegah berbagai penyakit. Yuk ketahui jadwal imunisasi dewasa.

Jika imunisasi tidak lengkap diberikan sewaktu kecil, maka perlu melakukan vaksinasi untuk penyakit tertentu yang belum didapatkan sebelumnya. Bahkan, vaksinasi untuk penyakit tertentu harus diulang secara berkala guna mempertahankan kekebalan tubuh.

Selain itu, ada pula vaksin tertentu yang diberikan kepada orang dewasa namun tidak untuk anak-anak. Ini karena dengan bertambahnya usia, tubuh menjadi lebih rentan terhadap penyakit serius yang disebabkan oleh infeksi umum (seperti flu atau pneumonia). Berikut jadwal imunisasi dewasa untuk mendapatkan vaksinasi yang dibutuhkan.

Vaksin tetanus-diphtheria-pertussis (Td / Tdap)

Orang dewasa yang berusia kurang dari 65 tahun dapat menerima vaksin tetanus, difteri, dan vaksin pertusis (Tdap). Atau Tetanus Difteri (Td).

Vaksin kombinasi (Tdap) terdiri dari vaksin untuk melawan difteri, tetanus (lockjaw), pertusis, penyakit bakteri lain (batuk rejan). Vaksin ini diberikan secara rutin kepada anak-anak dan direkomendasikan untuk orang dewasa di bawah 65 tahun yang belum pernah menerima dosis Tdap.

CDC merekomendasikan agar orang dewasa mendapatkan booster suntikan tetanus dan difteri setiap 10 tahun setelah seri primer di masa kanak-kanak. Karena tetanus dapat menyebabkan kematian, suntikan harus diberikan dalam tiga hari pertama dari cedera, atau jika terdapat luka yang mencurigakan, booster suntikan diberikan bila tidak mendapatkan vaksin selama lebih dari lima tahun sebelum cedera.

Vaksin pneumokokus

Vaksin pneumokokus merupakan vaksin berisi protein konjugasi yang bertujuan mencegah penyakit pneumokokus, yaitu semua jenis infeksi yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumonia. Vaksinasi pneumokokus biasanya diberikan untuk semua anak di bawah 2 tahun dan pada orang dewasa berusia 65 tahun atau lebih.

Penyakit pneumokokus biasanya sering terjadi pada anak, tetapi orang dewasa yang lebih tua berisiko lebih besar menderita penyakit ini. Vaksin ini ditujukan untuk mereka yang memiliki risiko tinggi terserang kuman pneumokokus. Adapun kelompok lain yang memiliki risiko tinggi terserang pneumokokus (meskipun dari segi usia bukan risiko tinggi), yaitu anak dengan penyakit jantung bawaan, HIV, thalassemia, dan anak dengan keganasan yang sedang mendapatkan kemoterapi serta kondisi medis lain yang menyebabkan kekebalan tubuh berkurang.

Vaksin pneumokokus pada anak diberikan dalam 3 kali dosis dasar dan 1 kali dosis boosting. Sementara pada orang dewasa, pemberian vaksin dibagi menjadi dua tahapan. Pertama, vaksin pneumokokus jenis konjugasi dan selanjutnya diberikan jenis vaksin pneumokokus polisakarida. Sedangkan pada anak diberikan pada usia di bawah 1 tahun dengan dosis 3 kali, yaitu pada usia 2, 4 dan 6 bulan. Prinsip pemberian vaksin pneumokokus pada anak yaitu vaksin diberikan pada anak usia 2 bulan dengan interval  4 – 8 minggu dan diberikan selama 3 kali.

Influenza

Ada dua jenis utama virus influenza, yang disebut A dan B. Virus influenza A cenderung berubah dari waktu ke waktu dan menjadi lebih kebal terhadap vaksin yang dikembangkan pada musim sebelumnya. Sementara virus influenza B menunjukkan lebih sedikit perubahan. Maka, pengembangan vaksin flu harus didasarkan pada jenis yang paling umum tahun sebelumnya.

Vaksin flu sebaiknya diberikan setiap tahun untuk semua orang dewasa berusia 50 tahun atau lebih, orang dengan penyakit kronis (seperti jantung, paru-paru, ginjal, diabetes, asma, atau penyakit darah), penghuni panti jompo dan fasilitas  umum dalam jangka waktu yang lama, hingga anak-anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Idealnya, vaksin diberikan satu tahun sekali pada bulan Oktober hingga November sebelum dimulainya musim flu.

Hepatitis A dan B

Umumnya orang dewasa membutuhkan vaksin hepatitis A dan B, terutama jika mereka memiliki risiko penyakit tersebut. Selain itu, vaksin ini juga diperlukan bagi pelancong di luar Amerika Serikat (kecuali untuk Eropa Barat, Selandia Baru, Australia, Kanada, Jepang), penderita penyakit hati kronis, pengguna narkoba, pekerja laboratorium tertentu, hingga orang yang baru didiagnosis terkena penyakit menular seksual.

Vaksin hepatitis A diberikan dua kali suntikan, dengan jarak setidaknya terpisah enam bulan. Bahkan, anak-anak juga dianjurkan mendapatkan vaksin hepatitis A pertama mereka mulai usia 12-24 bulan.

Sementara untuk vaksin hepatitis B, memerlukan tiga dosis suntikan. Setelah dosis pertama, empat minggu kemudian diperlukan antara dosis  1 dan 2, selanjutnya dosis 2 dan 3 setelah delapan minggu.

Campak, Gondong  dan Rubela (MMR)

Vaksin campak, gondong, dan rubela mengandung virus hidup. Setiap orang wajib mendapatkan vaksin MMR, setidaknya sekali seumur hidup. Vaksin MMR biasanya diberikan pertama kali ketika masa kanak-kanak berusia 12-15 bulan.

Namun untuk orang dewasa yang lahir pada tahun 1957 atau lebih, dan yang lebih tua dari 18 tahun harus menerima satu dosis suntikan vaksin MMR. Kelompok dengan pekerjaan yang berisiko tinggi, seperti pekerja layanan kesehatan, pendaftar perguruan tinggi, dan pelancong internasional, harus menerima dua suntikan penuh. Sedangkan wanita hamil tidak boleh menerima vaksinasi MMR.

Varicella (Cacar Air)

Orang dewasa dan remaja sebaiknya mendapatkan vaksin cacar air, terutama bagi mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah. Orang yang berusia lebih muda dari 13 tahun, memerlukan satu suntikan vaksin. Suntikan pertama harus diberikan ketika seorang anak berusia 12 hingga 18 bulan, dan suntikan kedua antara usia 4 hingga 6 tahun. Jika berusia lebih dari 13 tahun, maka memerlukan dua sampai empat suntikan dalam delapan minggu.

Meningitis Meningokokus

Meningitis Meningokokus merupakan satu penyakit infeksi menular yang menyerang selaput otak, yang disebabkan oleh Neisseria Meningitidis. Penularan penyakit ini dari manusia ke manusia melalui sekret saluran pernafasan (droplet) ataupun air liur (saliva). Masa inkubasi penyakit Meningitis Meningokokus adalah 3-4 hari (rentang waktu 2-10 hari). 

Seseorang yang terkena Meningitis Meningokokus, biasanya mengalami gejala demam tinggi, mual/muntah, sakit kepala, kaku kuduk, photofobio, ketahanan fisik yang melemah. Sementara itu, gejala awal penyakit ini hampir sama dengan flu biasa, namun akan bertambah berat disertai dengan panas tinggi dalam waktu yang singkat, yaitu 12-24 jam sejak muncul gejala awal.

Melansir laman depkes.go.id , vaksinasi Meningitis Meningokokus (radang selaput otak), biasanya diberikan bila akan berkunjung ke daerah endemis meningitis seperti ke Afrika, ke Arab Saudi saat ingin umrah atau haji. Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya penyakit ini, setiap Warga Negara Indonesia yang ingin pergi ke daerah endemis tersebut, perlu mendapatkan suntik vaksin.

Bahkan, pemberian vaksin Meningitis Meningokokus merupakan syarat mutlak bagi semua calon jemaah haji dan umrah yang akan memasuki kawasan Kerajaan Arab Saudi. Pemberian vaksin dilakukan maksimal dua minggu sebelum keberangkatan, karena efektifitas vaksin mulai terbentuk 10-14 hari setelah pemberian. 

Setelah memperoleh vaksinasi Meningitis Meningokokus, barulah calon jemaah umrah akan diberikan kartu International Certificate of Vaccination (ICV) sebagai syarat memperoleh izin visa dari Pemerintah Arab Saudi.

Vaksin Pentabio

Vaksin Pentabio merupakan gabungan dari 5 vaksin yaitu DTP (Difteri, Tetanus, Pertusis), HB (Hepatitis B), dan Hib (Haemophilus influenzae tipe b) berupa suspensi homogen yang mengandung toksoid tetanus dan difter-i murni, bakter-i pertusis (batuk rejan) inaktif,antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) murni yang tidak infeksius, dan komponen Hib sebagai vaksin bakteri sub unit berupa kapsul polisakarida Haemophilus influenzae tipe b tidak infeksius yang dikonjugasikan kepada protein toksoid tetanus. 

Cara pemberian vaksin Pentabio harus disuntikkan secara intramuskular. Penyuntikan sebaiknya dilakukan pada anterolateral paha atas. Penyuntikan pada bagian bokong anak dapat menyebabkan luka saraf siatik dan tidak dianjurkan. Suntikan tidak boleh diberikan ke dalam kulit karena dapat meningkatkan reaksi lokal. Satu dosis anak adalah 0,5 mL.

Pentabio  (Vaksin DTP-HB-Hib) tidak boleh digunakan pada nayi yang baru lahir. Di negara-negara dimana pertusis menjadi bahaya tertentu pada bayi, vaksin ini harus dimulai secepat mungkin dengan dosis pertama pada usia 6 minggu, dan dua dosis berikutnya diberikan dengan jarak waktu 4 minggu.

Vaksin ini aman dan efektif diberikan bersamaan dengan vaksin BCG, campak, polio (OPV atau IPV),yellow fever dan suplemen vitamin A. Jika vaksin ini diberikan bersamaan dengan vaksin lain, harus disuntikkan pada lokasi yang berlainan. Vaksin ini tidak boleh dicampur dalam satu vial atau syringe dengan vaksin lain.

Vaksin Human Papillomavirus (HPV)

Infeksi HPV dianggap sebagai infeksi menular seksual, meski tidak menimbulkan gejala, diketahui bahwa beberapa jenis HPV bisa menyebabkan perubahan prekanker pada serviks uterus dan juga kanker serviks.

Vaksin human papillomavirus direkomendasikan dalam jadwal tiga kali suntikan. Suntikan kedua dan ketiga diberikan dua dan enam bulan setelah suntikan pertama. Vaksin ini dianjurkan untuk semua wanita berusia hingga 26 tahun dan pria sampai usia 21 tahun.

Adapun suntikan pertama vaksin HPV biasanya diberikan mulai usia 11 hingga 12 tahun, tetapi vaksinasi juga dapat dimulai sejak usia 9 tahun. Baik anak perempuan maupun anak laki-laki, semua wajib mendapatkan tiga suntikan vaksin HPV.

Sumber:

https://www.emedicinehealth.com/immunization_schedule_adults/article_em.htm#for_more_information_on_adult_immunization_schedules
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/sekilas-vaksin-pneumokokus
https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/pneumo/public/index.html
https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/pneumo/index.html
http://www.depkes.go.id/article/print/2277/selamatkan-jemaah-haji-dan-umroh-dari-bahaya-meningitis-meningokokus.html
http://www.bumn.go.id/biofarma/halaman/123