Seberapa Penting Imunisasi Hib untuk Bayi?

Poetri | Minggu, 23 Juni 2019

Seberapa penting imunisasi Hib untuk bayi? Jelas penting karena kekebalan tubuh bayi belum sempurna perkembangannya, termasuk pada kekebalan tubuh. Oleh karena itu, bayak imunisasi atau vaksinasi yang dianjurkan untuk diterima bayi. Mulai dari hitungan jam setelah lahir, hingga bayi tumbuh lebih besar. Serangkaian vaksinasi penting untuk diberikan, mengingat beberapa jenis penyakit tak bisa dilawan dengan antibodi bayi yang belum sempurna.

Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai ialah yang ditimbulkan oleh Haemophilus influenzae (Hib). Bakteri Hib ini dapat menyebabkan berbagai jenis infeksi, mulai dari yang ringan sampai infeksi parah berisiko kematian.

Hib sendiri merupakan penyakit yang banyak merenggut nyawa anak-anak. Paling tidak per tahunnya, 200.000 anak menjadi korban dari Hib dan berbagai komplikasinya. Bakteri Hib ini berbahaya karena memiliki sifat invasif, atau cenderung akan menyerang bagian-bagian tubuh yang biasanya bebas dari kuman, seperti cairan tulang belakang, otak, aliran darah, atau paru-paru.

Pertanyaannya, perlukah vaksin untuk mencegah Hib? Memang vaksinasi Hib dimaksudkan untuk menghindari peradangan, terutama radang selaput otak. Di Indonesia memang kasus ini jarang terjadi, lebih banyak terjadi di negara beriklim dingin seperti negara-negara Eropa. Namun bukan berarti bayi di Indonesia sepenuhnya bebas dari risiko Hib ini.

Sebab bisa saja ketika berjalan-jalan atau berenang, dan kebetulan ada anak asal Eropa yang membawa kuman Hib, bisa saja bayi tertular. Jika belum mendapatkan imunisasi melawan bakteri invasif ini, akibatnya bisa fatal. Terlebih jika bakteri Hib menyerang selaput otak dan menyebabkan radang otak atau meningitis. Walaupun dapat sembuh, bayi yang terkena meningitis nantinya berisiko mengalami disabilitas.

Berikut penyakit-penyakit akibat bakteri Hib yang bisa menyerang bayi:

Jenis penyakit invasif yang paling umum disebabkan oleh Hib:

Pneumonia (infeksi paru-paru)

Bakteremia (infeksi aliran darah)

Meningitis (infeksi pada jaringan yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang)

Epiglotittis (bengkak di tenggorokan)

Cellulitis (infeksi kulit)

Artritis menular (radang sendi)

Oleh karena itu, sebaiknya imunisasi Hib untuk bayi tak dilewatkan. Terlebih saat ini telah ada vaksin yang lebih praktis, yakni Pentavalent. Tak hanya melawan bakteri Hib, Pentavalent merupakan vaksin kombinasi dengan lima antigen penyakit berbahaya bayi dan anak, yakni difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, serta Hib.

Vaksin ini bisa diberikan pada bayi melalui tiga dosis. Suntikan pertama pada bayi hingga usia dua bulan, kemudian diberikan lagi dalam jangka waktu minimal satu bulan tiap suntikan. Sebaiknya dilakukan pengulangan suntik vaksin lagi pada usia 15 bulan sampai 1 tahun 6 bulan.

Sumber

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20130822/048496/menkes-luncurkan-vaksin-pentavalen-dan-progran-imunisasi-lanjutan-bagi-batita/

http://vk.ovg.ox.ac.uk/5-1-dtapipvhib-vaccine

https://www.gavi.org/support/nvs/pentavalent/

https://lifestyle.kompas.com/read/2010/09/01/14422699/perlukah.bayi.imunisasi.hib