Thimerosal dalam vaksin, benarkah menyebabkan autisme?

Yuni | Kamis, 30 April 2020

Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi sang buah hati. Memberikan vaksin merupakan salah satu bentuk kasih sayang orang tua terhadap anak. Namun masih ada orang tua yang ragu dan bahkan tidak memberikan vaksin terhadap anaknya. Hal ini disebabkan banyaknya isu simpang siur yang beredar, salah satu isu yang beredar yaitu kandungan vaksin dapat menyebabkan autisme. Padahal isu itu adalah hoax, alias berita yang tidak benar.

Thiomersal biasa digunakan sebagai pengawet pada produk farmasi, seperti vaksin. Kandungan thiomersal, terutama dalam vaksin multi?dose yang beredar di masyarakat tergolong sangat kecil, dan memenuhi batas yang dipersyaratkan. Thiomersal mengandung etilmerkuri yang dapat dibuang dengan cepat oleh tubuh, artinya sangat kecil kemungkinan untuk terjadi penumpukan zat merkuri dalam tubuh. Studi keamanan juga menyatakan bahwa tidak ada efek merugikan yang timbul pada bayi, anak dan dewasa yang menerima thiomersal dalam vaksin.

Desas-desus vaksin menjadi penyebab dari autis ini sudah lama merebak pada dekade 1990-an. Dilansir dari suara.com, kabar itu disebarkan oleh peneliti mantan dokter bedah Andrew Wakefield yang melakukan penelitian dengan beberapa anak. Anak-anak itu disebut Wakefield menjadi autis lantaran menerima vaksin, tapi setelah diaudit, Wakefield ternyata melakukan sejumlah kecurangan dan kekeliruan dalam penelitiannya.

Sementara penelitian lain yang dipublikasikan pada tahun 2004 dan dilaksanakan di Inggris, Amerika, Denmark, dan Swedia menyatakan tidak ada hubungan sebab?akibat antara thiomersal dalam vaksin dan gangguan autisme. Jadi, dapat disimpulkan bahwa penggunaan thiomersal dalam vaksin adalah aman dan tidak benar bahwa thiomersal dalam vaksin menyebabkan gangguan autisme. Lindungi keluarga kita dengan vaksinasi ya moms.