Vaksin Sebelum Hamil

Poetri | Senin, 24 Juni 2019

Vaksin sebelum hamil penting dilakukan untuk melindungi ibu hamil dan janin di dalam kandungan terbebas dari penyakit berisiko. Dengan melakukan vaksin sebelum hamil, tidak hanya melindungi kesehatan calon ibu itu sendiri, tetapi juga memberikan proteksi awal kepada bayi.

Namun, perlu diingat bahwa ada beberapa vaksin sebelum  hamil yang tidak aman diberikan pada perempuan hamil. Ini karena vaksin memiliki tiga varian: terbuat dari virus hidup, virus mati, dan toksoid (tidak berbahaya, merupakan protein yang diubah secara kimiawi dan diambil dari bakteri). Dengan kata lain, jenis vaksin yang berbahaya adalah vaksin yang terbuat dari virus yang masih hidup.

Ada beberapa vaksin yang perlu didapatkan sebelum kehamilan, dan sebaiknya beri jarak 4 minggu sebelum konsepsi karena vaksin dari virus hidup bisa berisiko bagi janin.

1. Vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella)

Vaksin Campak, Gondok dan Rubela/Campak Jerman (MMR) adalah penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus.
Gejala campak dimulai dengan demam, batuk dan pilek dan diikuti oleh ruam merah berbintik beberapa hari kemudian. Gondong juga merupakan penyakit virus menular yang menyebabkan kelenjar ludah membengkak. 

Jika seorang ibu terinfeksi salah satu dari penyakit ini selama kehamilan, risiko keguguran dapat meningkat, dan campak juga dapat meningkatkan kemungkinan persalinan prematur. 

Virus rubella, juga disebut campak Jerman, memberikan gejala mirip flu yang sering diikuti oleh ruam, dan ini bisa berbahaya selama kehamilan. Hingga 85% bayi dari ibu yang mengidap Rubella selama trimester pertama mengalami cacat lahir yang serius, seperti gangguan pendengaran dan cacat intelektual.

Vaksin MMR dapat diberikan sebelum hamil tetapi hindari konsepsi selama 4 minggu. Vaksin diberikan dalam dua dosis, dengan selang waktu setidaknya satu bulan antara dosis vaksin pertama dengan dosis vaksin kedua.

2. Vaksin Cacar Air 

Cacar air merupakan penyakit yang sangat menular, gejalanya menyebabkan demam dan ruam gatal yang tidak nyaman. Sekitar 2% bayi perempuan yang menderita cacar air selama lima bulan pertama kehamilan memiliki cacat lahir, termasuk anggota tubuh yang cacat dan lumpuh.

Terlebih lagi, seorang perempuan yang terkena cacar air pada saat persalinan juga dapat memberikan bentuk infeksi yang mengancam jiwa kepada bayinya. Vaksin cacar air dapat diberikan sebelum kehamilan dan hindari konsepsi selama 4 minggu. Dosis untuk vaksin cacar air dilakukan sebanyak dua kali untuk kekebalan tubuh yang maksimal.

3. Vaksin Hepatitis B

Hepatitis B adalah infeksi virus yang menyebabkan peradangan hati, mual, kelelahan, dan penyakit kuning (kulit dan mata menguning). Dalam beberapa kasus, dapat menyebabkan penyakit hati kronis, kanker hati, dan kematian. Seorang wanita hamil dengan hepatitis B dapat menularkan infeksi kepada bayinya selama persalinan, dan tanpa perawatan segera, bayi memiliki risiko tinggi tertular penyakit hati yang serius sebagai orang dewasa.

CDC merekomendasikan bahwa semua wanita hamil diskrining untuk hepatitis B karena bisa jadi memiliki penyakit ini tanpa mengetahuinya. Jika terdapat resiko, vaksin hepatitis B dapat diberikan sebelum kehamilan.

Dosis vaksin hepatitis B adalah sebanyak 3 kali bagi yang belum pernah mendapatkan vaksin hepatitis B, dosis kedua diberikan 1 bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga diberikan setidaknya 2 bulan setelah dosis kedua, atau setidaknya 4 bulan setelah dosis pertama.

Vaksin sebelum hamil penting dijalani agar ibu hamil dan calon bayinya sehat dan normal.

Sumber 

https://www.parents.com/pregnancy/my-body/pregnancy-health/pregnancy-vaccines/
https://www.cdc.gov/vaccines/pregnancy/pregnant-women/index.html
https://www.health.gov.il/English/Topics/Pregnancy/during/Pages/vaccine_pregnant.aspx
http://immunizationforwomen.org/providers/diseases-vaccines/hepatitis-b/vaccine-recommendations-safety.php