Waspada Pneumonia

Yuni | Senin, 20 Januari 2020

Akhir-akhir ini dunia digemparkan dengan penyakit pneumonia yang menyerang Kota Wuhan, Tiongkok. Puluhan orang dalam kondisi kritis karena penyebab pneumonia itu sendiri. Pneumonia sebenarnya bukan penyakit baru, tetapi keberadaanya harus diwaspadai oleh kita.

Pneumonia merupakan penyakit akut yang terjadi pada jaringan paru-paru (alveoll) sehingga paru-paru akan dipenuhi dengan nanah dan cairan sehingga membuat gangguan pernapasan terganggu. Penyakit ini biasa disebut dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang paling berat karena bisa menyebabkan kematian pada seseorang. 

Penyebab dari pneumonia bisa dari berbagai macam jamur, virus rhinovirus, respiratory syncytial virus (RSV), virus influenza. Virus campak (morbili) dan bakteri pneumokokus (Streptococcus pneumonia), HiB (Haemophilus influenza type b) dan stafilokokus (Staphylococcus aureus).

Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF memperkirakan bahwa penyakit ini menjadi pemicu 16% kematian anak-anak berusia di bawah 5 tahun, melebihi penyakit-penyakit  seperti campak, malaria serta AIDS. Di tahun 2018, angka kematian anak terus berlanjut sehingga penyakit ini lebih tinggi dibandingkan penyakit lainnya—diare menyebabkan kematian 437.000 anak balita, sedangkan malaria merenggut nyawa 272.000 anak.

Di Indonesia sendiri, lebih dari 500.000 balita menderita pneumonia dan telah merenggut hampir 2.000 jiwa balita pada tahun 2017. Tanda-tanda jika seseorang terkena pneumonia yaitu sering batuk dengan intensitas sering, demam, frekuensi nafas cepat terkadang cepat, sesak nafas, dan mudah lelah. Dari gejala tersebut kita harus selalu peka terhadap tanda-tanda penayakit pneumonia sehingga dengan mudah kita melakukan pencegahan.

Banyak faktor yang dapat berpengaruh terhadap meningkatnya penyakit ini seperti polusi udara dalam ruangan yang disebabkan oleh memasak dan memanaskan dengan bahan bakar biomassa (seperti kayu atau kotoran), tinggal dipermukiman yang kurang sehat, lingkungan sekitar perokok aktif dan sistem imun yang belum sempurna atau lemah.

Ada juga kita perlu melakukan pencegahan terhadap penyakit ini dengan menjaga kebersihan lingkungan, memberikan immunisasi (vaksin PCV berfungsi untuk melindungi tubuh dari infeksi bakteri pneumokokus), asi eksklusif selama enam bulan pertama, asupan gizi yang baik, terutama bagi anak usia 6 bulan hingga 2 tahun, dan mengurangi polusi udara di rumah (Merokok, Memasak Memakai Kayu/Arang).

Sumber :

https://data.unicef.org/topic/child-health/pneumonia/

https://www.unicef.org/indonesia/id/press-releases/lembaga-kesehatan-dan-anak-memeringatkan-satu-anak-meninggal-akibat-pneumonia-setiap

http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/memperingati-hari-pneumonia-dunia

http://www.pdpersi.co.id/content/news.php?mid=5&nid=866&catid=9