Darurat Campak bagi Ribuan Warga Eropa

Yuni | Rabu, 15 Mei 2019

LONDON - Lebih dari 34 ribu orang di seluruh Eropa menderita campak dalam dua bulan pertama pada 2019, dan sebagian besar kasus terjadi di Ukraina. Organisasi Kesehatan Duma atau World Health Organization (WHO) mendesak otoritas setempat memastikan orang yang rentan agar mendapatkan vaksinasi.

"Jika respons wabah tidak tepat waktu dan komprehensif, virus akan rentan ke lebih banyak individu dan berpotensi menyebar ke negara-negara lain di dalam dan di luar kawasan," ujar WHO dalam pernyataannya, kemarin. "Setiap kesempatan harus digunakan untuk memvaksinasi anak-anak, remaja, dan orang dewasa yang rentan."

Jumlah korban tewas di 42 negara di kawasan Eropa mencapai 13 orang, di antara 34.300 kasus yang dilaporkan. Virus membunuh orang di Ukraina, yang menderita epidemi campak, serta di Rumania dan Albania. WHO memperingatkan, risiko wabah dapat terus menyebar. Campak adalah penyakit sangat menular yang dapat membunuh dan menyebabkan kebutaan, tuli, atau kerusakan otak. Ini dapat dicegah dengan dua dosis vaksin yang ef ektif.Tapi, karena sebagian orang tidak divaksin, saat ini campak menyebar di banyak bagian dunia, termasuk di Amerika Serikat, Filipina, dan Thailand. Di Amerika terdapat 764 kasus campak telah dilaporkan sejak 1 Januari, menurut data terbaru Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC (Centers for Disease Control and Prevention).

Ukraina mengalami wabah terburuk di Eropa, dengan lebih dari 25 ribu kasus tercatat dalam dua bulan pertama pada 2019. Angka-angka ini didasarkan pada data yang diterima hingga 28 Maret 2019, dan dapat berubah jika ada kasus lain yang belum dilaporkan. Kasus campak meningkat di Eropa dalam beberapa tahun terakhir, mencapai 83.540 pada 2018, dengan 74 kematian. Jumlah ini meningkat dibanding pada 2017 dengan 25.869 kasus dan 42 kematian, serta 5.273 kasus dan 13 kematian pada 2016.

WHO menilai sejumlah faktor menjadi penyebab meningkatnya jumlah kasus, seperti penurunan cakupan imunisasi, cakupan rendah di tingkat lokal dan regional, dan kesenjangan vaksin kekebalan di antara orang yang lebih tua. WHO merekomendasikan 95 persen cakupan imunisasi untuk mencapai kekebalan tubuh. WHO menyatakan, tidak ada pengobatan antivirus khusus untuk campak. "Vaksinasi adalah satu-satunya cara untuk mencegahnya," ujar WHO.

Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock, mengkritik para pengkampanye anti-vaksin. Dia menilai secara moral mereka tercela dan tidak bertanggung jawab. Komentar Hancock dilontarkan setelah ia membaca penelitian UNICEF, Badan PBB untuk Kesejahteraan Anak, yang menemukan bahwa kematian akibat campak naik secara global sebesar 22 persen pada 2017. Salah satu penyebab kurangnya vaksinasi adalah ketakutan akan vaksin."Vaksinasi adalah kewajiban,"ujar dia.

Jerman menerapkan denda US$ 2.800 (Rp 42 juta) bagi orang tua yang gagal memvaksinasi anak-anak mereka terhadap campak. "Siapa pun yang pergi ke taman kanak-kanak atau sekolah harus divaksinasi campak," ujar Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn kepada surat kabar Bild am Sonntag.

 

Sumber : Koran Tempo 09 Mei 2019

 

Tagged :