Dokter kritik 'penentang vaksin'

Admin | Senin, 26 November 2012

12 orang pakar imunisasi terkemuka Australia memperingatkan orang tua bahwa kalau anakanak mereka tidak diberi vaksinasi, konsekuensinya bisa fatal.
Statistik menunjukkan, satu diantara 12 bayi di Australia tidak diimunisasi secara lengkap. Hal ini menurut para ahli bisa mengakibatkan penyakitpenyakit seperti campak, diphtheria dan batuk rejan kembali berjangkit. Jumlah orang yang dijuluki "penentang vaksin" telah meningkat enam kali lipat sejak tahun 1999, suatu trend yang menurut para dokter bisa membahayakan seluruh masyarakat. Sekarang the Australian Academy of Science, dengan dukungan Asosiasi Medis Australia, menerbitkan booklet yang menjelaskan mengapa vaksinasi sangat perlu dilakukan. Booklet itu ditulis oleh Professor Ian Frazer dan direview oleh mantan Australian of the Year lainnya, Professor Fiona Stanley. Australian Academy of Science mengatakan, imunisasi masih tetap merupakan perlindungan paling efektif terhadap penyakit, dan ketuanya, Suzanne Cory, mengatakan booklet itu bertujuan melawan "informasi keliru" yang telah mengakibatkan menurunnya tingkat imunisasi. "Vaksinasi sangat penting bagi masyarakat untuk menjaga kita terbebas dari penyakit menular," katanya. "Kita lihat saja Australia di jaman awal dulu, kalau melihat kuburan kita bisa lihat betapa banyak anak meninggal karena penyakit menular sebelum ada vaksin dan sebelum ada antibiotik. "Adalah memprihatinkan bahwa ada pihakpihak yang jumlahnya semakinberkembang,yang sangat menentang vaksinasi," tambahnya. "Saya rasa mereka tidak memahami bahwa mereka bukan sematamata membuat pilihan untuk anggota keluarga mereka sendiri, melainkan menempatkan masyarakat lebih luas dalam bahaya." Para ilmuwan mengatakan, internet dan informasi berlebihan serta berbagai pendapat tidaklah menolong dalam menyampaikan pesan mereka. Emeritus Professor Tony Basten dari lembaga riset medisdi Sydneymenuturkan kepada ABC, di tahun 1998 suatu makalah dalam jurnal medis bergengsi Inggris The Lancet menyiratkan ada kaitan antara autisme dan pemberian vaksin yang mengandung MMR. Katanya, makalah itu menyebutkan virus tersebut masuk ke dalam usus dan menghentikan diserapnya nutrien yang dibutuhkan bagi perkembangan otak yang normal. "Banyak studi telah dilakukan yang membandingkan tingkat autisme pada orangorang yang divaksinasi dan yang tidak. Tidak ada perbedaan." Dan Prof Basten menambahkan bahwa makalah tadi sekarang sudah dinyatakan kalangan ilmuwan sebagai tidak benar dan telah ditarik oleh penerbitnya." sumber : http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/20121126/dokterkritikpenentangvaksin/1051676

Tagged :