Gejala dan Pencegahan Demam Tifoid (Tifus)

sumber foto: Google

Deman tifoid atau yang lebih dikenal dengan tifus merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi yang biasanya menyebar lewat makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. Tifus sering terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Hal tersebut didorong oleh tingkat sanitasi serta cakupan air bersih yang belum optimal. Gejala tifus ini bisa membahayakan nyawa bila tidak ditangani dengan baik dan cepat.

Gejala tifus sering menyerang anak-anak sebab sistem tubuh imun mereka yang belum terbentuk sempurna. Tifus dapat dideteksi jika pengidapnya menunjukan tanda-tanda gejala tifus seperti demam yang dapat meninggi suhunya di malam hari secara bertahap, otot terasa sakit, pembesaran ginjal dan hati, sakit kepala, sakit perut, kelelahan dan lemas, batuk kering, berkeringat, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan dan diare atau konstipasi. Biasanya gejala tifus mulai timbul pada 1-3 minggu setelah tubuh terinfeksi.

Dilansir dari Halodoc.com tifus biasanya berkembang dari minggu ke minggu dengan tanda-tanda gejala tifus berikut ini:

Minggu Pertama

Gejala tifus di awal-awal yang perlu diperhatikan adalah perkembangan suhu badan pengidap. Mula-mulanya demam yang diidap tidak tinggi, kemudian meningkat menjadi 39 derajat celcius – 40 deajat celcius. Lemas tidak enak badan, mimisan,  sakit kepala, dan batuk kering.

Minggu Kedua

Jika belum mendapat penanganan, pengidap akan masuk stadium kedua dengan mengalami gejala seperti demam tinggi yang terus memburuk di daerah perut dan dada, sakit perut, diare atau sembelit parah, feses umumnya berwarna kehijauan, mengigau, dan perut sangat kembung akibat adanya pembengkakan hati dan empedu.

Minggu Ketiga

Pada gejala tifus minggu ketiga, temperatur tubuh akan menurun, tapi jika tidak segera mendapat penanganan, kemungkinan akan muncul komplikasi, seperti pendarahan pada usus dan pecahnya usus.

Minggu Keempat

Ditandai dengan perlahan-lahan suhu demam akan menurun. Segera periksakan kondisi diri ke dokter jika Anda atau anak Anda merasakan beberapa gejala tifus di atas. Pemeriksaan sebaiknya juga dilakukan bila Anda atau anak Anda terserang demam sehabis berkunjung ke tempat yang mempunyai kasus penyebaran tifus. Bila tidak ditangani dengan baik, gejala tifus ini bisa makin parah dalam beberapa minggu seperti terjadinya komplikasi misalnya pendarahan internal atau pecahnya usus.

Tifus dapat dicegah dengan beberapa hal salah satunya melalui cara vaksinasi. Vaksinasi ini sangat dianjurkan untuk diberikan kepada anak berusia dua tahun untuk selanjutnya diulangi tiap tiga tahun sekali. Pemberian vaksin juga idealnya diberikan sebulan sebelum Anda berkunjung ke tempat yang merupakan endemi tifus. Untuk mencegah penyakit ini, vaksinasi tifus harus dipadukan dengan perbaikan sanitasi dan penyediaan air bersih, serta kebiasaan hidup sehat. Hal-hal berikut ini merupakan cara mencegah risiko terkena tifus dilansir dari alodokter.com, yaitu:

  • Cuci tangan sebelum dan sesudah mengolah makanan dan minuman, serta setelah buang air atau membersihkan kotoran, misalnya saat mencuci popok kain. Gunakan hand-sanitizer jika tidak tersedia air untuk mencuci tangan
  • Minimalkan konsumsi makanan yang dijual di pinggir jalan karena mudah terpapar bakteri
  • Hindari konsumsi buah dan sayuran mentah, kecuali Anda mengupas atau mencucinya sendiri dengan air bersih.
  • Batasi konsumsi makanan boga bahari (seafood), terutama yang belum dimasak.
  • Sebaiknya gunakan air matang untuk menggosok gigi atau berkumur, terutama jika Anda sedang berada di tempat yang tidak terjamin kebersihan airnya.
  • Bersihkan toilet secara teratur. Hindari bertukar barang pribadi, seperti handuk, sprei, dan alat mandi. Cuci benda-benda tersebut secara terpisah di dalam air hangat.
  • Hindari konsumsi susu yang tidak terpasteurisasi.
  • Bawalah selalu antibiotik yang telah diresepkan dokter dan ikutilah petunjuk yang telah diberikan. Pengobatan antibiotik harus dilakukan hingga periode pengobatan berakhir untuk mencegah resistensi obat.

Sumber:

Alodoc.com

Halodoc.com

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *