Maret 2021, Bibit Vaksin Merah Putih Bisa Diserahkan ke Bio Farma untuk Uji Klinis

Yuni | Minggu, 13 September 2020

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro menyampaikan perkembangan terkini vaksin corona buatan Indonesia. Menurut Bambang, Vaksin Merah Putih yang dikembangkan Eijkman itu sudah mencapai 40 persen dari keseluruhan tahapan.

“Sedang disiapkan sel mamalia, sel ragi, dan akhir tahun uji pada hewan. Pada sekitar Maret 2021, bibit vaksin bisa diberikan kepada Bio Farma untuk scale up produksi dimulai uji klinis tahap I, II, III,” jelas Bambang dalam konferensi pers virtual Satuan Tugas Penanganan Covid-19, di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana Jakarta, Selasa (2/9).

Bambang mengungkapkan, setidaknya Indonesia membutuhkan 300-400 juta ampul vaksin Covid-19. Hal ini mengacu kondisi Indonesia yang memiliki penduduk 260 juta jiwa, yang semuanya tentu membutuhkan vaksin. Oleh karena itu, Bambang menyampaikan pentingnya kemandirian pengembangan vaksin Covid-19. Dia mengapresiasi banyak peneliti dari berbagai instansi terlibat berupaya mengembangkan dan melahirkan bibit vaksin yang nantinya siap untuk diproduksi.

Kemenristek mengidentifikasi lima institusi yang mengembangkan Vaksin Merah Putih untuk mengatasi pandemi Covid-19. Lembaga Eijkman mengembangkan vaksin berbasis platform subunit protein rekombinan dan inactivated virus atau virus yang dilemahkan. Universitas Indonesia mengembangkan vaksin dengan tiga platform yaitu DNA, RNA, dan virus like particle. Institut Teknologi Bandung dan Universitas Airlangga masing-masing mengembangkan vaksin dengan platform adenovirus. Sementara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan vaksin dengan platform protein rekombinan.

Kemenristek mengidentifikasi lima institusi yang mengembangkan Vaksin Merah Putih untuk mengatasi pandemi Covid-19. Lembaga Eijkman mengembangkan vaksin berbasis platform subunit protein rekombinan dan inactivated virus atau virus yang dilemahkan. Universitas Indonesia mengembangkan vaksin dengan tiga platform yaitu DNA, RNA, dan virus like particle. Institut Teknologi Bandung dan Universitas Airlangga masing-masing mengembangkan vaksin dengan platform adenovirus. Sementara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan vaksin dengan platform protein rekombinan.

Mutasi D614G
Bambang mengatakan, mutasi pada virus corona tipe SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 tidak akan mengganggu upaya pengembangan vaksin yang saat ini tengah dilakukan. Dia pun mengimbau masyarakat tidak panik berlebih terhadap mutasi D614G, namun harus tetap waspada penuh dan disiplin menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio membenarkan hal tersebut. Amin menjelaskan, mutasi virus ini tidak merubah struktur maupun fungsi dari receptor-binding domain (RBD) atau domain pengikat reseptor yang bertugas menjangkiti bagian protein manusia. Amin mengatakan kinerja vaksin tidak akan terganggu selama vaksin ditujukan pada RBD yang merupakan bagian dari virus spike yang dijadikan target vaksin.

“Meskipun perubahan terjadi pada spike protein, namun pada lokasi yang berbeda. Sehingga receptor-binding domain (RBD) tidak terganggu, selama vaksin ini ditujukan terhadap RBD maka tidak akan mengganggu kinerja vaksin,” terang Amin.

 

Sumber: rakyatmerdeka.co.id

Tagged :