Pakai Masker dan Jaga Imun Tubuh

Yuni | Kamis, 16 Mei 2019

SETIABUDI - Ruang publik sangat berisiko menjadi tempat penularan penyakit tuberkulosis (TB). Mycobacterium tuberculosis, kuman penyebab TB, sangat mudah terbawa udara.

Sayang, hampir 70 persen pengguna ruang publik tak menyadari adanya penularan penyakit sehingga mengabaikan pencegahan. Padahal, menurut Erlina Burhan, dokter spesialis paruparu, dalam setahun, seorang pasien TB bisa menularkan penyakitnya kepada 10-15 orang. Karena itu, awareness sangat penting. Cara yang bisa dilakukan adalah menggunakan masker saat berada di kerumunan masyarakat dan menjaga imun tubuh. Sebab, ketika imun menurun, risiko tertular semakin besar. Dalam penularannya, kuman mycobacterium tuberculosis tidak bakal langsung aktif ketika masuk tubuh. Saat daya tahan tubuh baik, kuman akan dilumpuhkan dan dibuat tidak aktif.

Kuman itu baru aktif saat daya tahan tubuh menurun. "Kuman ini dorman. Tidur. Jadi, bisa saja aktif nanti," papar dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta tersebut. Ketika sudah terserang dan aktif menggerogoti lokasi bertumbuh, biasanya gejala muncul. Bagian paru-paru, misalnya. Pasien akan mengalami batuk tiga minggu berturut-turut. Kemudian, sakit dada, batuk berdarah, mudah lelah, berat badan menurun drastis, dan keringatan saat malam. Bila sudah positif terserang, lanjut Erlina, pasien wajib langsung berobat. Kemudian, harus patuh pada pengobatan yang biasanya berlangsung selama enam bulan. "Obat harus diminum setiap hari. Tidak boleh putus. Nanti resisten," tegasnya.

Permasalahan resistensi obat sempat dialami Paran Sarimita. Dia pernah terserang TB dua kali. Yakni, pada 2008 dan 2012. Namun, dia mengalami resistensi obat bukan lantaran dirinya malas mengonsumsi obat. Namun, penjelasan dan diagnosis dokter diduga kurang tepat. "Pada 2010, sempat dinyatakan sembuh. Stop obat. Setahun kemudian, muncul gejala sama," ungkapnya. Alhasil, dia harus mendapat penanganan yang lebih berat. Pasien multidrug-resistant tuberculosis (MDR) bakal mengonsumsi obatyang jauh lebih banyak. Belum lagi obat suntiknya. "Sebanyak 15 tablet sehari selama 20 bulan. Berat banget. Apalagi, efek sampingnya," ucapnya. Masa-masa sulit itu kini sudah dilewati. Paran dinyatakan sembuh total setelah mengikuti semua anjuran dokter dan memiliki semangat kuat untuk sembuh. (mia/co4/flq)

Sumber : Pikiran Rakyat 09 Mei 2019

Tagged :