TV Pengaruhi Kualitas Tidur Anak Balita

Yuni | Selasa, 21 Mei 2019

Dalam penelitian ini, Spencer, yang dibantu mahasiswa pascasarjana, Abigail Helm, menemukan 36 persen anak berusia 3-5 tahun memiliki TV di kamar mereka dan sepertiganya tertidur dengan TV menyala. Hal yang mengejutkan, anak-anak itu terkadang menonton tayangan untuk orang dewasa yang penuh dengan kekerasan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal National Sleep Foundation, pekan lalu, ini menunjukkan TV dapat mempengaruhi kualitas dan durasi tidur anak-anak. Spencer menggunakan alat actiqraphy yang dikenakan di pergelangan tangan untuk memantau pola tidur anak-anak. Spencer mengatakan waktu tidur pada siang hari ternyata meningkat di antara anak-anak yang menonton TV. Hanya, hal itu tak sepenuhnya menggantikan tidur yang hilang pada malam hari. Sebab, manfaat tidur pada malam hari berbeda dengan tidur pada siang hari.

Kabar baiknya adalah masalah ini bisa diatasi," kata Spencer. "Selama ini orang tua berasumsi bahwa TV membantu anak-anak mereka menjadi lebih tenang saat akan tidur. Itu salah. Anak-anak malah tak bisa tidur nyenyak dan TV tak akan membantu mereka tidur lebih baik." Penelitian Spencer dan Helm ini dilakukan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis pedoman baru, yang menyatakan anak-anak berusia 2-4 tahun tak boleh berada didepan layar kaca lebih dari 1 jam setiap harinya. Durasi kurang dari itu atau bahkan samasekali tak menonton TV akan jauh lebih baik.

WHO menvatakan kualitas tidur anak balita berhubungan dengan kesehatan jangka panjang mereka. Namun sekitar 54 persen anak-anak dalam studi ini tak memenuhi pedoman menonton TV yang dikeluarkan WHO. "Angkanya melonjak menjadi 87 persen pada akhir pekan," kata Spencer. Sebanyak 470 anak prasekolah dari Western Massachusetts berpartisipasi dalam studi ini.Mereka diminta mengenakan actigraphy selama 16 hari. Orang tua atau pengasuh mereka meniawab kuesioner ihwal demografi, kesehatan, dan perilaku anak, termasuk kebiasaan menonton TV.

Hasilnya, anak-anak prasekolah yang menonton TV kurang dari 1 jam per hari mendapatkan 22 menit lebih banyak tidur pada malam hari atau hampir 2,5 jam per minggu. Ini lebih baik dibandingkan dengan mereka yang terbiasa menonton TV lebih dari 1 jam setiap hari. Anak-anak tanpa TV di kamar rata-rata tidur 30 menit lebih banyak pada malam hari daripada mereka yang punya TV di kamar. Meski anak-anak dengan TV di kamar tidur ratarata 12 menit lebih lama saat tidur siang, mereka masih tidur 17 menit lebih sedikit selama periode 24 jam daripada anak-anak tanpa TV di kamar.

Spencer berencana memperluas studi mengenai pola tidur anak-anak untuk melihat dampak perangkat digital lain, seperti tablet dan telepon seluler. Spencer menyayangkan kebiasaan anak-anak menonton TV berlama-lama, yang cenderung dibiarkan oleh para orang tua. "Saya pikir, TV dapat merusak masa depan anak-anak," kata dia.

Sumber : Koran Tempo 17 Mei 2019 

Tagged :