Vaksinasi Bukan Hanya Monopoli Bayi dan Anak

Siapa yang tak mengenal kata imunisasi. Bila mendengar istilah ini, mungkin gambaran yang muncul dalam setiap benak kita adalah kegiatan pemberian vaksin pada bayi dan anak, baik melalui suntikan ataupun dengan cara diminum. Tapi, tahukah Anda, sesungguhnya imunisasi tidak dimonopoli semata untuk bayi dan anak. Orang dewasa pun, ternyata butuh imunisasi.Selama ini mungkin berkembang asumsi bahwa tubuh orang dewasa sudah terbentuk sempurna sehingga tidak lagi memerlukan vaksinasi. Asumsi ini ternyata keliru. Mengapa? Ternyata dengan semakin bertambah nya usia, sistem kekebalan tubuh pun menurun sehingga dibutuhkan imunisasi untuk membentengi tubuh dari serangan penyakit.

Menurut American Society of Internal Medicine, diketahui bahwa imunisasi pada orang dewasa dapat mencegah kematian seratus kali lipat akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin dibandingkan dengan anak. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa terdapat peluang besar untuk mencegah kematian pada orang dewasa melalui imunisasi.

Sayangnya, tak banyak orang dewasa itu sendiri yang mengetahui tentang imunisasi dewasa. Pun, manfaat imunisasi pada orang dewasa ternyata belum sepenuhnya diyakini oleh petugas kesehatan, apalagi oleh orang awam. Selama ini, khususnya di Indonesia, kebijakan imunisasi lebih menitikberatkan pada masalah bayi dan anakanak. Memang tak dapat disalahkan sepenuhnya, mengingat masih tingginya angka kematian akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) pada bayi dan anak, yakni sekitar 1.7 juta kematian pada anak atau 5% pada balita di Indonesia. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) antara lain TBC, Diphteri, Pertusis, Campak, Tetanus, Polio, dan Hepatitis B merupakan salah satu penyebab kematian anak di negaranegara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini, tak pelak mengakibatkan peranan imunisasi dewasa menjadi terabaikan. Selain itu, kurangnya sosialisasi kepada masyarakat menyebabkan minimnya pengetahuan masyarakat pada imunisasi orang dewasa.

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI), pada tahun 2003, telah mengeluarkan sebuah panduan bersama mengenai imunisasi pada orang dewasa. Panduan ini dikenal sebagai Konsensus Imunisasi Dewasa. Konsensus ini sendiri telah diperbaharui pada tahun 2008.

Penyakit Apa Saja yang Dapat Dilakukan Imunisasi?

Imunisasi yang dibutuhkan orang dewasa, antara lain, agar terhindar dari penyakitpenyakit infeksi, seperti influenza, tetanus, difteri, hepatitis A, hepatitis B, tetanus, Measles Mumps Rubella, tifoid, pneumokokus, meningokok, yellow fever, Japanese encephalitis, rabies, dan kanker serviks.

Siapa Saja yang Perlu Diimunisasi?

Ada sejumlah kelompok orang dewasa yang sebaiknya mendapatkan vaksin. Misalnya orang dewasa yang berusia di atas 50 tahun (sebagian mengatakan usia di atas 65 tahun). Contoh vaksin yang diperlukan misalnya influenza. Kelompok usia ini rentan mendapatkan penyakit sebangsa flu karena sistem kekebalan tubuh yang sudah menurun.

Kelompok berikutnya adalah orang dewasa dengan penyakit menahun (kronik) meskipun usia mereka belum digolongkan usia lanjut. Mereka dengan penyakitpenyakit kronis misalnya penderita penyakit paruparu kronis, kencing manis (diabetes melitus), dan gagal ginjal, rentan mendapatkan penyakit dikarenakan sistem kekebalan tubuh yang menurun akibat penyakit ini.

Kelompok orang dewasa lainnya yang perlu mendapatkan imunisasi adalah para petugas kesehatan. Mereka ini memerlukan vaksinasi karena pekerjaan mereka sangat berisiko untuk tertular penyakit. Misalnya hepatitis B ataupun influenza.

Para pekerja yang bergerak di bidang industri makanan, khususnya yang berperan sebagai pengolah atau penyaji makanan. Mereka, terutama yang bekerja dengan tangan telanjang, sebaiknya mendapatkan vaksinasi karena mereka dapat menjadi sumber penularan penyakit tertentu misalnya tifoid.

Kelompok lainnya adalah orang dewasa yang akan berpergian ke luar negeri. Misalnya para calon jemaah haji yang perlu bahkan wajib, mendapatkan vaksinasi meningitis. Atau mereka yang akan berangkat ke Afrika Selatan, sebaiknya mendapatkan vaksinasi Yellow fever.

Secara ringkas dari panduan konsensus imunisasi dewasa 2008, jenis vaksinasi yang dapat diberikan didasarkan pada riwayat paparan penyakit tertentu, risiko penularan penyakit tertentu, usia lanjut, status kekebalan tubuh atau imunokompromais, pekerjaan, gaya hidup dan rencana bepergian.

Riwayat paparan : Tetanus toksoid., Rabies
Risiko penularan : Influenza, Hepatitis A, Tifoid, MMR.
Usia lanjut : Pneumokok, Influenza.
Risiko pekerjaan : Hepatitis B, Rabies.
Imunokompromais : Pneumokok, Influenza, Hepatitis B. Hemophilus influenza tipe B.
Rencana bepergian : Yellow fever, Japanese B encephalitis, Tifoid, Hepatitis A.
Jemaah haji : Meningokok ACYW 135., Influenza

Penting untuk diketahui, bahwa imunisasi dewasa belum ada program yang dibiayai oleh pemerintah seperti halnya kebijakan imunisasi pada anak. Karena itu penggunaan indikasi ini perlu mempertimbangkan keadaan individu yang akan diimunisasi. Misalnya, imunisasi pada usia lanjut perlu mendapat perhatian karena datadata tentang manfaat imunisasi influenza dan pnemokok pada usia lanjut menunjukkan bahwa imunisasi ini bermanfaat dan cost effective. Selain itu, imunisasi pada Heptitis B perlu mendapat perhatian meningat tingginya risiko penularan Hepatitis B di kalangan petugas kesehatan.

Kapan Imunisasi Diberikan?

Berikut adalah jadwal imunisasi dewasa yang direkomendasikan oleh PAPDI tahun 2010.

1. Tetanus dan Diphteria (Td):
Seluruh orang dewasa harus mendapat vaksinasi lengkap 3 dosis difteri dan toksoid tetanus, dengan 2 dosis diberikan paling tidak dengan jarak 4 minggu dan dosis ketiga diberikan 6 hingga 12 bulan setelah dosis kedua.
Jika orang dewasa belum pernah mendapat imunisasi tetanus dan difteri maka diberikan seri primer diikuti dosis penguat setiap 10 tahun.

2. Measles, Mumps, Rubella: (MMR)
Orang dewasa yang lahir sebelum 1957 dianggap telah mendapat imunitas secara alamiah.
Orang dewasa yang lahir pada tahun 1957 atau sesudahnya perlu mendapat 1 dosis vaksin MMR.
Beberapa kelompok orang dewasa yang berisiko terpapar mungkin memerlukan 2 dosis yang diberikan tidak kurang dari jarak 4 minggu. Misalnya mereka yang kerja di fasilitas kesehatan dan yang sering melakukan perjalanan.

3. Influenza
Dilakukan setiap tahun bagi orang dewasa dengan usia di atas 50 tahun; penghuni rumah jompo dan penghuni fasilitasfasilitas lain dalam waktu lama (misalnya biara, asrama dsb); orang muda dengan penyakit jantung, paru kronis, penyakit metabolisme (termasuk diabetes), gangguan ginjal, HIV juga untuk anggota rumah tangga, perawat dan petugaspetugas kesehatan di atas.
Vaksin ini juga dianjurkan untuk calon jemaah haji karena risiko paparan yang cukup tinggi. Di Amerika Serikat dan Australia, imunisasi influenza telah dijadikan program sehingga semua orang yang berumur 65 tahun atau lebih mendapat layanan imunisasi infuenza melalui program pemerintah.
Vaksin ini dianjurkan untuk usia di atas 50 tahun untuk individual, sedangkan jika diberikan sebagai program, diberikan untuk usia di atas 65 tahun.

4. Pneumokok
Diberikan pada orang dewasa usia > 65 tahun dan mereka yang berusia < 65 tahun dengan penyakit jantung kronis, penyakit paru kronis, diabetes melitus, infeksi HIV, keganasan darah (leukemia), gagal ginjal kronis, atau mereka yang mendapatkan kemoterapi. Vaksinasi ulang dianjurkan jika vaksinasi sebelumnya sudah > 5 tahun dan juga untuk:
1. Umur 65 th
2. Merupakan individu berisiko tinggi terjadinya infeksi pneumokok yang serius
3. Individu yang mempunyai tingkat kekebalan tubuh (antibodi) yang cepat sekali turun

5. Hepatitis A
Vaksin Hepatitis A diberikan dua dosis dengan jarak 6 hingga 12 bulan pada individu berisiko terjadinya infeksi virus Hepatitis A, seperti penyaji makanan (food handlers) dan mereka yang menginginkan kekebalan, populasi yang berisiko tinggi misal individu yang sering melakukan perjalanan atau bekerja di suatu negara yang mempunyai prevalensi tinggi Hepatitis A, homoseksual, pengguna narkoba, penderita penyakit hati, individu yang bekerja dengan hewan primata terinfeksi Hepatitis A atau peneliti virus Hepatitis A.

6. Hepatitis B
Diberikan untuk orang dewasa yang berisiko terinfeksi Hepatitis B misalnya Individu yang terpapar darah atau produk darah dalam kerjanya, klien dan staff dari institusi pendidikan manusia cacat, pasien yang mendapat terapi hemodialisis (cuci darah), rumah tangga atau kontak seksual dengan individu yang diketahui menderita hepatitis B, individu yang berencana pergi atau tinggal di suatu tempat dimana infeksi Hepatitis B sering dijumpai, pengguna obat narkoba suntik, homoseksual/biseksual aktif, individu heteroseksual aktif dengan pasangan bergantiganti, fasilitas penampungan korban narkoba.
Diberikan 3dosis dengan jadual 0, 1 dan 6 bulan.
Bila setelah imunisasi terdapat respons yang baik maka tidak perlu dilakukan pemberian imuniasasi penguat (booster).

7. Meningokok
Vaksin ini wajib diberikan pada calon haji. Vaksin ini juga dianjurkan untuk individu dengan gangguan sistem kekebalan tubuh, dan pelancong ke negara di mana terdapat kejadian penyakit meningokok (misalnya Meningitis belt di subSahara Afrika).
Pertimbangkan vaksinasi ulang setelah 3 tahun.

8. Varisela
Diberikan pada pada individu yang akan kontak dekat dengan pasien yang berisiko tinggi terjadinya komplikasi (misalnya petugas kesehatan).
Vaksinasi juga dapat diberikan bagi mereka yang berisiko tinggi terpapar virus varisela, seperti mereka yang pekerjaannya berisiko (misalnya guru yang mengajar anakanak, petugas kesehatan, dan residen serta staf di lingkungan institusi kesehatan), mahasiswa, penghuni serta staf institusi penyadaran (rehabilitasi) anggota militer, wanita usia subur yang belum hamil, dan mereka yang sering melakukan perjalanan kerja/ wisata.
Vaksinasi terdiri dari 2 dosis yang diberikan dengan jarak 4 8 minggu.

9. Demam Tifoid
Dianjurkan penggunaannya pada pekerja jasa boga, wisatawan yang berkunjung ke daerah dimana angka kejadian tifoid tinggi (endemis).
Pemberian vaksin perlu diulang setiap 3 tahun.

10. Yellow fever
Vaksin ini diwajibkan oleh WHO bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Afrika Selatan.
Ulangan vaksinasi setiap 10 tahun.

11.Japanese encephalitis
Untuk wisatawan yang akan bepergian ke daerah endemis (Asia) dan tinggal lebih daripada 30 hari atau akan tinggal lama di sana, terutama jika mereka melakukan aktivitas di pedesaan.

12. Rabies
Bukan merupakan imunisasi rutin, dianjurkan pada individu yang berisiko tingggi tertular (dokter hewan dan petugas yang bekerja dengan hewan, pekerja laboratorium ), wisatawan yang berkunjung ke daerah endemis yang berisiko kontak dengan hewan dan individu yang tergigit binatang tersangka rabies.

Referensi
1. PAPDI. Konsensus Imunisasi Dewasa.
2. Centers for Disease Control and Prevention. Recommended Adult Immunization Schedule [online]. February 2011 [cited 2011 March 10]; Available from: URL:http://www.cdc.gov/vaccines/recs/schedules/adultschedule.htm

Sumber : http://www.imunisasidewasa.com/index.php?option=com_content&view=article&id=57:vaksinasibukanhanyamonopolibayidananak&catid=3:populer&Itemid=27

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *