Jumlah Penderita Hepatitis di Indonesia 3 Kali Lipat dari Warga Jakarta

Jakarta, Penyakit hepatitis umumnya disebabkan oleh virus yang menyerang hati atau liver. Walau gaungnya tak sekencang HIV atau flu burung, ternyata pengidap penyakit ini di Indonesia cukup banyak. Bahkan jika ditotal, jumlahnya bisa mencapai 3 kali lipat penduduk Jakarta.

“Jumlah penduduk Indonesia yang mengidap hepatitis B dan C diperkirakan sekitar 28 juta orang. Jumlah ini apabila dikumpulkan bisa memenuhi 3 kali lipat dari luas Jakarta,” kata Dr.dr. Rino Alvani, SpPD,KGEH, FINASIM, Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia.

Dalam acara temu media bertema ‘Waspadai Hepatitis: Kenali, Cegah, Obati’ yang diselenggarakan di Hotel Gran Melia, Jl. HR Rasuna Said Kav X0 kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (20/6/2013), dr Rino menerangkan bahwa hepatitis B dan C adalah jenis hepatitis yang paling perlu diwaspadai.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan menemukan bahwa di Indonesia, sekitar 9,4 persen penduduk atau sekitar 23 juta jiwa terinfeksi hepatitis B. Sedangkan yang terinfeksi hepatitis C ada sekitar 2 persen atau sekitar 4 5 juta jiwa.

Jika ditotal, jumlah orang yang terinfeksi hepatitis B maupun C adalah sebanyak 28 juta jiwa, atau hampir 3 kali lipat penduduk Jakarta yang berjumlah 10 juta jiwa. Bahkan pada orang yang terinfeksi hepatitis C saja, jumlahnya menyamai total penduduk Singapura, yaitu 5 juta jiwa. Untungnya, tak semua orang yang terinfeksi butuh pengobatan.

“Ada beberapa pasien yang terinfeksi tidak perlu diobati karena tidak menyebabkan masalah. Bahkan ada 1 2 persen pasien hepatitis B yang bisa sembuh sendiri, entah mengapa sebabnya. Namun sebaiknya perlu periksa setidaknya 6 bulan sekali untuk memantau,” kata dr Rino.

Berbeda dengan hepatitis A yang tergolong penyakit yang cukup ringan, hepatitis B dan C dapat berlanjut pada kerusakan hati parah hingga memicu kanker hati. Kedua jenis hepatitis ini juga seringkali tidak menimbulkan gejala, kecuali jika hati sudah kelewat rusak parah.

Kerusakan hati yang ditimbulkan akibat infeksi hepatitis B dan C berkembang secara bertahap. Biasanya muncul infeksi akut, lalu terjadi infeksi kronis atau menahun, barulah kemudian muncul sirosis hati yang berujung pada kegagalan fungsi hati hingga kanker.

“Sebanyak 50 persen di antaranya berkembang menjadi kronis dan 10 persen sisanya berkembang menjadi kanker hati. Saat ini belum ada vaksin untuk hepatitis C, baru ada untuk hepatitis B,” terang dr Rino.

Uniknya, hati masih dapat berfungsi dengan baik walaupun hanya 30 persen yang normal. Inilah yang membuat penyakit hati seringkali tak menimbulkan gejala. Kebanyakan pasien baru menyadari kerusakan hati setelah dalam keadaan sulit diobati.

Sumber : http://health.detik.com/read/2013/06/20/174033/2279365/763/jumlahpenderitahepatitisdiindonesia3kalilipatdariwargajakarta?l77

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *