Batuk Rejan atau Pertusis pada Bayi dan Anak-Anak

2016.05.133.penularan-batuk-rejan

Batuk rejan atau pertusis adalah infeksi bakteri pada paru-paru dan saluran pernapasan yang mudah sekali menular. Batuk rejan sempat dianggap penyakit anak-anak saat vaksin pertusis belum ditemukan. Sebenarnya batuk rejan juga dapat diderita orang dewasa, namun penyakit ini dapat mengancam nyawa bila terjadi pada lansia dan anak-anak, khususnya bayi yang belum cukup umur untuk mendapat vaksin pertusis.

Penyakit ini punya ciri rentetan batuk keras terus menerus yang diawali tarikan napas panjang lewat mulut (whoop). Seseorang bisa menderita batuk rejan hingga tiga bulan lamanya, sehingga penyakit ini juga biasa disebut “batuk seratus hari”.

Di dunia terjadi sekitar 30 sampai 50 juta kasus per tahun, dan menyebabkan kematian pada 300.000 kasus (data dari WHO). Penyakit ini biasanya terjadi pada anak berusia di bawah 1 tahun, dan 90 persen kasus ini terjadi di negara berkembang. Penyakit ini biasanya diakibatkan oleh bakteri Bordetella pertussis, namun tidak jarang diakibatkan oleh B. parapertussis.

Bakteri Bordetella pertussis yang menyebar melalui udara adalah penyebab terjadinya serangan batuk rejan pada seseorang. Bakteri ini masuk dan kemudian menyerang dinding dari trakea dan bronkus (percabangan trakea yang menuju ke paru-paru kanan dan kiri).

Gejala Batuk Rejan

Umumnya, gejala batuk rejan akan muncul antara 7 hari hingga 21 hari usai bakteriBordetella pertussis masuk dalam saluran pernapasan seseorang. Perkembangan gejala batuk rejan ada tiga tahapan, terutama pada bayi dan anak kecil:

  • Tahap Pertama (masa gejala awal):

Munculnya gejala-gejala ringan seperti hidung berair dan tersumbat, bersin-bersin, mata berair, radang tenggorokan, batuk ringan, hingga demam. Tahap ini bisa bertahan hingga dua minggu, dan di tahap inilah penderita berisiko menularkan batuk rejan ke orang sekelilingnya.

  • Tahap Kedua (masa paroksismal):

Tahap ini ditandai dengan meredanya semua gejala-gejala flu, namun batuk justru bertambah parah, dan tak terkontrol. Di tahap inilah terjadi batuk keras terus menerus yang diawali tarikan napas panjang lewat mulut (whoop). Usai serangan batuk, penderita bisa mengalami muntah (umumnya pada bayi dan anak-anak) serta tubuh mengalami kelelahan. Tahap ini bisa berlangsung dua hingga empat minggu atau lebih.

  • Tahap Ketiga (masa penyembuhan):

Tahap inilah tubuh penderita mulai membaik, namun gejala batuk rejan tetap ada bahkan penderita bisa batuk lebih keras. Tahap pemulihan ini bisa bertahan hingga dua bulan atau lebih tergantung dari pengobatan.

Berikut ini beberapa kondisi yang harus segera menerima penanganan dokter:

  • Bayi berusia 0-6 bulan terlihat sangat tidak sehat.
  • Anda atau anak kesulitan untuk bernapas.
  • Anda atau anak mengalami komplikasi serius, seperti kejang atau pneumonia.
  • Mengeluarkan bunyi saat menarik napas.
  • Muntah akibat batuk rejan yang parah.
  • Tubuh menjadi memerah atau membiru.

Mengatasi pertusis pada bayi dan anak-anak yang mengalami batuk rejan akan ditempatkan di ruang isolasi untuk menghindari penyebaran infeksi. Pengobatan utama yang diberikan adalah antibiotik untuk melawan bakteri penyebab infeksi. Kortikosteroid akan diberikan untuk mengatasi peradangan pada saluran napas. Baik antibiotik dan kortikosteroid bisa diberikan melalui infus. Sungkup okasigen dapat diberikan untuk membantu pernapasan.

Pencegahan vaksinasi pertusis adalah cara terbaik untuk mencegah batuk rejan. Biasanya dokter memberikan vaksin pertusis bersamaan dengan vaksin difteri, tetanus, polio (vaksin DPT) dan Hib. Berikut ini adalah jadwal vaksinasi untuk pertusis:

  • Pada usia 2 bulan.
  • Pada usia 4 bulan.
  • Pada usia 6 bulan.
  • Pada usia 1,5 sampai 2 tahun.
  • Pada usia 5 tahun.

Sumber :

  • Alodoker.com
  • mediscastore.com

KVD

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *