Kenali Pertusis dan Ketahui Cara Pencegahannya

Data WHO tahun 1980 mencatat masih ada 32.999 kasus Pertusis dan sedikit menurun pada 1990, menjadi 30.014 kasus. Dalam kurun waktu satu dekade, kasus Pertusis menurun drastis, yaitu 142 kasus pada 2000. Namun, menjelang satu decade berikutnya – tepatnya pada 2009, kasus ini kembali meningkat menjadi 973 kasus dan angka tersebut terus merangkak naik hingga tercatat 1.941 kasus pada 2011. Berdasarkan data surveilans Kemenkes tahun 2012, angka kasus Pertusisi tertinggi didapatkan di insiden Papua (129,87 kasus) dan Aceh (56,61 kasus). Kasus Pertusis banyak dijumpai pada kelompok usia 20-44 tahun.

 

Sumber: todaysparent.com
Sumber: todaysparent.com

Pertusis adalah penyakit yang menyerang saluran napas yang disebabkan oleh bakteri bordetella pertussis. Penyakit ini juga biasa disebut dengan batuk rejan. Penyakit ini adalah infeksi bakteri pada paru-paru dan saluran pernapasan yang mudah sekali menular. Batuk rejan sempat dianggap penyakit anak-anak saat vaksin pertusis belum ditemukan. Sebenarnya batuk rejan juga dapat diderita orang dewasa, namun penyakit ini dapat mengancam nyawa bila terjadi pada lansia dan anak-anak, khususnya bayi yang belum cukup umur untuk mendapat vaksin pertusis.

Ciri dari penyakit ini adalah rentetan batuk keras terus menerus yang diawali tarikan napas panjang lewat mulut (whoop). Batuk rejan bisa berlangsung selama tiga bulan lamanya dan dapat membuat penderitanya kekurangan oksigen dalam darah. Selain itu, dari batuk rejan, dapat terjad berbagai komplikasi, misalnya pneumonia. Bahkan penderita batuk rejan bisa secara tidak sengaja melukai tulang rusuk mereka karena batuk yang sangat keras.

Umumnya, gejala batuk rejan akan muncul antara tujuh hingga 21 hari usai bakteri bordetella pertussis masuk dalam saluran pernapasan seseorang. Bakteri bordetella pertussis yang menyebar melalui udara adalah penyebab terjadinya serangan batuk rejan pada seseorang. Bakteri ini masuk dan kemudian menyerang dinding dari trakea dan bronkus (percabangan trakea yang menuju ke paru-paru kanan dan kiri).

Batuk rejan dapat menyebar dengan cepat dari orang ke orang. Vaksinasi pertusis adalah cara terbaik untuk mencegah batuk rejan. Biasanya, dokter memberikan vaksin pertusis bersamaan dengan vaksin difteri, tetanus, polio (vaksin DPT) dan Hib. Vaksin pertusis sangat aman, namun terdapat beberapa efek samping yang muncul setelah vaksinasi, seperti rasa nyeri, kulit memerah, dan pembengkakan pada bagian yang disuntuk. Kemungkinan bayi juga akan menjadi mudah marah, demam, dan sering menangis.

Untuk menghindari penularan batuk rejan, penderita sebaiknya beristirahat di rumah hingga menyelesaikan dosis antibiotic yang diberikan dokter. Orang-orang yang sering berinteraksi dengan penderita semestinya diberikan tindakan pencegahan agar tidak tertular. Tindakan pencegahan terhadap batuk rejan meliputi antibiotik. Dokter juga dapat memberikan booster vaksin pertusis. (NNS)

 

Sumber:

  • alodokter.com
  • Arifianto. 2014. Pro Kontra Imunisasi. Bandung: Mizan Media Utama.

 

 

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *