Tuberkulosis Kebal Obat Jadi Fokus Perhatian

JAKARTA, KOMPAS Tuberkulosis kebal obatobatan menjadi prioritas dalam penanganan tuberkulosis di Indonesia Panduan penanganan pengobatan tuberkulosis terns disosialisasikan agar kepedulian masyarakat meningkat.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan hal itu seusai membuka Simposium Peringatan Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia, Sabtu (30/3), di Jakarta. Tuberkulosis kebal obatobatan (multidrug resistant tuberculosis/ MDR TB) disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis yang kebal terhadap minimal dua obat Anti TB isoniazid (INH) dan rifampicin (RMP). Selain MDR. TB, pemerintah memberi prioritas pada TBHIV.
Berdasarkan data WHO Global Report 2012, Indonesia berada diperingkat ke9 dari 27 negara dengan beban MDR TB terbanyak di dunia Diperkirakan pasien MDR TB di Indonesia mencapai 6.620 orang. Rinciannya, MDR TB di antara TB kasus baru 5.700 kasus dan MDR TB di antara kasus TB yang pernah mendapat pengobatan 920 kasus.
Kepala Perwakilan WHO Indonesia Khancit Limpakarnjanarat mengatakan, saat ini perhatian terhadap penanganan tuberculosis di dunia fokus pada MDR TB. Hal yang menggembirakan, sudah ada laboratorium untuk pemeriksaan kultur sekaligus melaksanakan uji kepekaan obat antiTB lini pertama dan kedua.
“Di Indonesia sudah ada di beberapa provinsi. Harapannya penanganan MDR TB ke depan semakin baik,” katanya Laboratorium tersebut adalah Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya, Laboratorium Mikrobiologi FKUI, Laboratorium Mikrobiologi RS Persahabatan Jakarta, Balai Pengembangan Laboratorium Kesehatan Jawa Barat, dan Laboratorium NHCRUniversitas Hasanuddin, Makassar.
Direktur Utama RS Persahabatan Syahril Mansyur mengatakan, MDR TB sulit dideteksi
karena harus melalui uji sensitivitas. Kesulitan kedua terletak pada pengobatan. “Kalau pengobatan TB perlu waktu selama enam bulan, MDR TB perlu waktu 1824 bulan,” kata Syahril.
Selain RS Persahabatan, ada delapan RS yang menjadi rujukan MDR TB, yaitu RSU dr Soetomo, RSUD dr Saiful Anwar, RSUD dr Moewardi, RS Labuang Baji, RS Hasan Sadikin, RSUP Adam Malik, RS Sanglah, dan RSUP dr Sardjito.
Hingga tahun 2012, tercatat terjaring 4.297 suspek MDR TB dengan 1.005 pasien MDR TB. Sebanyak 825 pasien sudah menjalani pengobatan. Angka keberhasilan pengobatan pada pasien MDR TB 71 persen.

Sosialisasi panduan

Tjandra mengatakan, panduan penanganan pengobatan TB sudah ada. Pihaknya berupaya agar panduan itu disosialisasikan. “Melalui acara yang mengundang petugas kesehatan sebanyak 1.200 orang ini diharapkan panduan diketahui dengan baik dan benar. Harapannya, mereka yang sebagian datang dari daerah menyebarkan di daerah masingmasing,” kata Tjandra.
Dia menegaskan, hal yang sangat penting dalam penanganan TB MDR adalah bagaimana pasien TB sejak awal minum obat yang diberikan dengan benar. “Pasien TB harus minum obat
sampai penyakitnya sembuh dan tidak menulari orang lain sehingga tidak terjadi MDR TB dengan segala masalahnya,” kata Tjandra.
Menurut Untung Suseno, Ketua Country Coordinating Mechanism (tim yang mengelola dana bantuan global), dana yang dialokasikan untuk penanganan TB di Indonesia saat ini 90 juta
dollar AS. Tahun 20142016 jumlahnya 75 juta dollar AS. “Bantuan yang diberikan makin lama
makin kecil disesuaikan kemampuan Indonesia dengan ekonomi yang makin baik sehingga peran pemerintah pun semakin besar,” kata Untung. (DOE)

Sumber: Kompas, Senin, 1 April 2013

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *