Cegah Tetanus dengan Vaksinasi

Sumber: gatra.com
Sumber: gatra.com

Pada 1988, WHO memperkirakan sebanyak 787.000 bayi baru lahir meninggal akibat Tetanus Neonatorum. Pada tahun 2008, jumlah kasus Tetanus Neonatorum di dunia mengalami penurunan hingga 92% dibandingkan di akhir era 1980-an. Namun, masih terdapat 46 negara yang belum mencapai target eliminsasi dan Indonesia adalah salah satunya.

Survei Dasar Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup, dengan kematian tertinggi pada periode neonatal sebesar 19 dari 1.000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab utamanya adalah Tetanus Neonatorum.

Lalu, apakah Tetanus Neonatorum itu?

Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani yang masuk ke dalam tubuh melalui luka dan dapat menyebabkan kejang. Kuman ini bersifat anaerobik atau tidak bisa hidup dalam lngkungan beroksigen dan dapat menghasilkan toksin penyebab kekakuan otot. Toksin dengan nama tetanospasmin disebarkan melalui darah, aliran getah bening (limpa), lalu menjalar di saraf.

Gejala-gejalanya berupa kejang rangsang, yaitu tubuh penderita mengalami kejang spontan, dalam keadaan sadar, ketika mendengar bunyi/ suara atau disentuh; kekakuan pada otot dinding perut (perut papan); kekakuan pada otot rahang sehingga mulut sukar dibuka (trismus); kekakuan pada otot-otot saluran napas hingga penderita sulit bernapas; serta tetanus otak (penderita tidak sadar).

Kuman tetanus tidak ditularkan dari satu orang ke orang lainnya. Namun, bakteri ini tinggal di dalam tanah, lalu masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka, misalnya tertusuk paku berkarat atau pecahan kaca. Anak-anak cenderung aktif dan bermain di luar rumah sehingga memiliki risiko terluka akibat benda-benda tersebut.

Langkah utama untuk mencegah tetanus adalah dengan vaksinasi. Di Indonesia, vaksin tetanus termasuk dalam daftar imunisasi wajib untuk anak. Upaya pencegahan Tetanus melalui imunisasi tercakup dalam Vaksin DPT, Vaksin TT, Vaksin DT, dan Vaksin Td. Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya Eliminasi Tetanus Neonatorum (ETN) sejak tahun 1991 melalui peningkatan status imunisasi Toksoid Tetanus (TT) pada ibu hamil, asuhan persalinan yang sesuai standar, serta perawatan tali pusat. Kemenkes RI menyatakan upaya ETN dilaksanakan dalam tiga fase, yaitu fase jangka paendek dengan pemberian imunisasi TT pada hamil; fase jangka panjang dengan pemberian imunisasi DPT sebanyak tiga kali saat bayi, dilanjutkan ulangan DPT dan TT saat Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS); serta akselerasi melalui pemberian imunisasi TT untuk semua wanita usia subur yang berada dalam kelompok usia 15-39 tahun.

Selain dengan vaksinasi, pencegahan tetanus juga dapat dilakukan dengan selalu menjaga kebersihan, terutama ketika merawat luka agar tidak terkena infeksi. Infeksi tetanus yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi dan berakibat fatal. Beberapa komplikasi tetanus yang dapat terjadi adalah jantung yang tiba-tiba berhenti, emboli paru, pneumonia, dan gagal ginjal akut. (NNS)

 

Sumber:

Arifianto. 2014. Pro Kontra Imunisasi. Jakarta: Penerbit Noura Books.

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *