Perspektif Islam tentang kesehatan

Bagaimana perspektif islam tentang kesehatan ? sebagai landasan normatif terhadap pencegahan dan pengobatan penyakit, bahwa pencegahan secara dini terhadap terjangkitnya suatu penyakit, seperti dengan imunisasi polio, campak, dan juga DPT serta BCG, adalah cermin perintah Allah agar tidak meninggalkan keluarga yang lemah

┘ê┘Ä┘ä┘Æ┘è┘ÄÏ«┘ÆÏ┤┘Ä Ïº┘ä┘Ä┘æÏ░┘É┘è┘å┘Ä ┘ä┘Ä┘ê┘Æ Ï¬┘ÄÏ▒┘Ä┘â┘Å┘êϺ┘Æ ┘à┘É┘å┘Æ Ï«┘Ä┘ä┘Æ┘ü┘É┘ç┘É┘à┘Æ Ï░┘ÅÏ▒┘É┘æ┘è┘Ä┘æÏ®┘ï ÏÂ┘ÉÏ╣┘ÄϺ┘üϺ

Secara operasional, pencegahan diwujudkan dalam dua aktifitas yaitu menjaga seluruh sarana, termasuk di dalamnya sanitasi , serta melakukan tindakan isolasi.

Adapun tindakan preventive, Isolasi dan Karantina, telah diatur dalam hadits riwayat Bukhari, sebagai berikut :

ÏÑÏ░Ϻ Ï│┘àÏ╣Ϭ┘à ϿϺ┘äÏÀϺÏ╣┘ê┘å Ï¿ÏúÏ▒Ï ┘ü┘äϺ Ϭϻϫ┘ä┘ê┘çϺ ┘êÏÑÏ░Ϻ ┘ê┘éÏ╣ Ï¿ÏúÏ▒Ï ┘êÏú┘åϬ┘à Ï¿┘çϺ ┘ü┘äϺ ϬϫÏ▒ϼ┘êϺ ┘à┘å┘çϺ

“Bila kalian mendengar ada wabah penyakit di suatu daerah maka jangan masuk ke daerah wabah tersebut. Dan bila wabah tersebut telah terjadi di suatu daerah sedang kalian berada di situ, maka jangan keluar dari daerah tersebut”. (HR. Bukhari)

Hadis ini menjelaskan dua hal; bahwa seruan untuk menjauhi daerah pandemic wabah penyakit untuk mencegah terjadinya penularan; dan yang kedua perihal karantina dan isolasi atas suatu wabah penyakit akan tidak terjadi penularan meluas, keluar dari daerah pandemic.

Dalam kajian hukum Islam, teori preventif dikenal dengan prinsip sadd aldzari’ah, bentuk perbuatan yang esensi perbuatan itu tidak dilarang tetapi dikhawatirkan dengan mengerjakan perbuatan tersebut, seseorang terjatuh kepada perbuatan yang dilarang. Di antara empat madzhab fikih yang besar, ada dua madzhab yang secara eksplisit menjadikan teori ini sebagai salah satu landasan dalam penetapan hukum

Kembali mengenai Imunitas dan kekebalan Tubuh, ada beberapa hal yang perlu ditegaskan antara lain, pertama keharusan memberikan air susu yang pertama keluar (colostrum, allibaÔÇÖϺ┘ä┘äÏ¿Ïú ) kepada anaknya ; kedua Kaedah fiqihiyyah, melalui kaidah ini dapat difahami bahwa menolak penyakit dengan daya kebal dan daya tangkal yang kuat itu lebih utama, lebih ampuh dan lebih mudah daripada menyembuhkan penyakit yang sudah terlanjur menempel pada badan manusia ; ketiga dalam konteks kesehatan ibu dan anak misalnya, imunisasi dan pemberian asi serta makanan bergizi harus mendapatkan perhatian utama dalam upaya menciptakan generasi yang sehat ; keempat untuk menghindari kegiatan luar biasa (KLB), maka Vaksin harus disosialisasikan, sehingga imunisasi dapat dilakukan dengan baik ; kelima dewasa ini MUI bersama pemangku kepentingan secara sungguhsungguh mencari alternatif vaksin 100 % halal; keenam kehalalan vaksin segera ditemukan, karena hingga kini Tim MUI telah melakukan langkahlangkah kongkrit.

Sebagai kesimpulan yang pertama bahwa Imunisasi dalam sudut pandang Islam pada dasarnya dibolehkan, untuk mencegah terjadinya penyakit. Kedua harus dibedakan antara substansi kebolehan pengobatan untuk kepentingan preventif, dengan substansi jenisjenis obat yang dibolehkan atau tidak dibolehkan untuk digunakan untuk imunisasi. Yang ketiga pengobatan penyakit untuk kepentingan imunisasi terikat oleh ketentuan standardisasi kehalalannya. Dan yang terakhir bahwa Pelaksanaan Imunisasi terkait pada dua hal; (i) materi atau bahan yang digunakan untuk imunisasi tidak boleh berupa unsur yang haram ; (ii). harus dipastikan bahwa jenis imunisasi yang diberikan aman dan sesuai bagi mereka yang hendak diimunisasi, termasuk daya tahuan tubuh.

 

**Dirangkum dari presentasi Dr. Amirsyah T, Wakil Sekjen MUI Pusat

 

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *