Ternyata Ustadzah Wirianingsih Memberikan Vaksin kepada 10 Anaknya yang Hafal AlQur’an

10 anak hafiz alq web

Tuduhan bahwa vaksin dapat melemahkan generasi tidak dapat dibuktikan, bahkan sebaliknya dengan memberikan vaksin kepada anak akan meningkatkan daya imun anak dan membuat anak semakin sehat sehingga akan mempengaruhi kecerdasanya.

Salah seorang dokter bernama Piprim Yanuarso menampilkan sebuah fakta bahwa Ustadzah Wirianingsih ternyata memberikan vaksin kepada semua putraputrinya yang merupakan penghafal AlQur’an. (baca: Anggota DPR Ini Dikaruniai 10 Anak Penghafal AlQur’an)

“Ini adalah ibu istimewa, Ibu Wirianingsih, putraputrinya menjadi Hafizh dan Hafizhah (penghafal Al Qur’an). Beliau memvaksinasi putraputrinya dan ternyata dengan vaksinasi membuat menjadi anakanak sehat, cerdas, dan shalih yang sanggup jadi penghafal Al Qur’an. Biidznillah, dengan izin Allah” tulis dokter piprim di akun facebook pribadinya.[islamedia/piprim]

Islamedia Sudah sedemikian sering kita mendengar hal negatif dari anggota DPR, mulai dari korupsi sampai adegan mesum. Wakil rakyat yang seharusnya menjadi contoh bagi rakyat, yang terjadi, jangankan menjadi teladan yang ada justru rakyat seringkali dibuat sakit hati dengan perbuatan para wakil rakyat.

Namun sosok Pasangan Mutammimul Ula dan Dra Wirianingsih, Bc HK seolah seperti oase dipadang pasir, keduanya adalah suami istri anggota DPR dari PKS, sosoknya dapat dijadikan sebagai teladan dalam membangun keluarga kita. Mutammimul Ula mampu mengatur dan membina keluarganya dengan baik, kalau dikeluarganya berhasil tentu saja bisa menjadi tolak ukur komitmennya untuk membangun dan membela rakyat.

Pertanyaannya sederhananya, jika keluarganya saja tidak terurus bagaimana mungkin bisa mengurus rakyat?
Mutammimul Ula di karunia 11 orang anak yang semuanya mengukir prestasi menjadi penghafal Al Quran di usia muda

  1. Afzalurahman Assalam

Hafal AlQuran pada usia 13 tahun. Usia 23 tahun, semester akhir Teknik Geofisika ITB. Juara I MTQ Putra Pelajar SMU seSolo, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai pesertaPertamina Youth Programme 2007.

  1. Faris Jihady Hanifa

Hafal AlQuran pada usia 10 tahun dengan predikat mumtaz. Usia 21 tahun dan duduk di semester 7 Fakultas Syariat LIPIA. Peraih juara I lomba tahfiz AlQuran yang diselenggarakan oleh kerajaan Saudi di Jakarta tahun 2003, juara olimpiade IPS tingkat SMA yang diselenggarakan UNJ tahun 2004, dan sekarang menjadi Sekretaris Umum KAMMI Jakarta.

  1. Maryam Qonitat

Hafal AlQuran sejak usia 16 tahun. Usia 19 tahun dan duduk di semester V Fakultas Ushuluddin Universitas AlAzhar Kairo. Pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul Khatimah 2006. Sekarang juga menghafal hadits dan mendapatkan sanad Rasulullah dari Syaikh AlAzhar.

  1. Scientia Afifah Taibah

Hafal 29 juz sejak SMA. Usia 19 tahun dan duduk di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Saat SMP menjadi pelajar teladan dan saat SMA
memperoleh juara III lomba Murottal AlQuran tingkat SMA seJakarta Selatan.

  1. Ahmad Rasikh Ilmi

Hafal 15 juz AlQuran, dan duduk di MA Husnul Khatimah, Kuningan. Ia lulusan terbaik SMPIT AlKahfi, juara I Kompetisi English Club AlKahfi dan menjadi musyrif bahasa Arab MA Husnul Khatimah.

  1. Ismail Ghulam Halim

Hafal 13 juz AlQuran, dan duduk di SMAIT AlKahfi Bogor. Ia lulusan terbaik SMPIT AlKahfi, juara lomba pidato bahasa Arab SMP seJawa Barat, serta santri teladan, santri favorit, juara umum dan tahfiz terbaik tiga tahun berturutturut di SMPIT AlKahfi.

  1. Yusuf Zaim Hakim

Hafal 9 juz AlQuran dan duduk di SMPIT AlKahfi, Bogor. Prestasinya antara lain: peringkat I di SDIT, peringkat I SMP, juara harapan I Olimpiade Fisika tingkat Kabupaten Bogor, dan finalis Kompetisi tingkat Kabupaten Bogor.

  1. Muhammad Syaihul Basyir

Hafal AlQuran 30 juz pada saat kelas 6 SD. Kelas I MTs Darul Quran, Bogor.

  1. Hadi Sabila Rosyad

SDIT AlHikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz AlQuran. Diantara prestasinya dalah juara I lomba membaca puisi.

  1. Himmaty Muyassarah

SDIT AlHikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz AlQuran.

  1. Hasna wafat usia 3 tahun, bulan Juli 2OO6

Tentu saja ini adalah prestasi yang perlu kita jadikan teladan, bahkan bagi para da’i sekalipun keberhasilan Keluarga Mutammimul Ula perlu dicontoh. Dengan berbagai macam kesibukan baik sebagai seorang wakil rakyat dan da’i Mutammimul Ula mampu membagi waktunya dengan baik untuk mendampingi perkembangan anakanaknya, apalagi mereka berdua melakukan semuanya sendiri, tanpa pembantu rumah tangga.

  1. Mengajarkan Al Quran sejak usia 4 tahun.
  2. Doktrin keluarga = Al Quran adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat
  3. Jangan terlalu mengandalkan sekolah
  4. dua per tiga keberhasilan Pendidikan itu ada di rumah
  5. Keberhasilan adalah hasil integrasi kedua orang tuanya. Lebih besar tanggung jawab seorang ayah dibanding ibu
  6. Rasulullah memanggil ayah dari anak yang mencuri.( berarti tanggung jawab orang tua sangat besar pada anak )
  7. Suami yang membangun visi dan istri yang mengisi kerangka itu.
  8. Imam Syafi’i ditinggal wafat ayahnya ketika berusia 6 tahun. Namun isi kepala sang ayah sudah pindah ke sang ibu. ( betapa penting peran visioner seorang ayah )
  9. Al Banna dan sentuhan pendidikan sang ayah
  10. Qordhowi berkata, dahulu saya tidak tahu mengapa ayah mengkondisikan saya hafal al quran usia 1O tahun
  11. Ihtimam atau perhatian yang tinggi terhadap anak dan pendidikannya
  12. Perhatian dari A sd Z, potong kuku, bersihkan telinga dll
  13. File file khusus yang menyimpan catatan tentang anak, hasil ulangan dll
  14. Kekayaan kami adalah anak dan buku. Setiap liburan, selalu mengajak anak anak ke toko buku.ada 4000 buku di rumah
  15. Visi yang ada di kepala kami adalah anak anak kami semuanya harus menjadi hafidz quran
  16. Keliling Jawa dan Madura untuk melihat pesantren tahfidz terbaik. Pilihan jatuh di Kudus. Orang mencibir untuk apa menjadi hafidz Quran dan menitipkan anak di pesantren.
  17. Tujuh tahun pernikahan tanpa televisi
  18. Setiap hari diperdengarkan murottal
  19. Sang ibu mengajar sendiri dengan Qiroati

  20. Menjelang tidur selalu diceritakan kisah kisah para nabi dan rasul

  21. Jadwal dalam papan besar untuk belajar Al quran bagi 11 anak kami
  22. Bakda maghrib dan Bakda subuh adalah waktu interaksi dengan Al Qur an.
  23. Selalu menyemangati anak Nak ibu bangga sekali dengan kamu, meskipun sulit tapi kamu disiplin menyetorkan hafalan 2 ayat setiap hari.
  24. Anak pertama dan kedua sejak usia 5 dan 4 tahun terbiasa bangun sebelum subuh dan diajak sholat berjamaah, di Komplek perumahan DPRRI si kecil sudah bisa menghafal siapa saja anggota dewan yang jarang sholat subuh berjamaah
  25. Jangan lupakan membangun dakwah di keluarga besar. Saat kami all out keluar rumah, keluarga besar kamilah, yang terlibat mengawasi anak anak
  26. Kami rutin berkunjung ke keluarga besar untuk menjalin hubungan baik dengan mereka
  27. Kesulitan di masa pembentukan adalah faktor keistiqomahan. Harus konsisten mengontrol
  28. Memagari anak anak dari pengaruh negatif. Ada agreement dengan anak anak kapan saat menonton TV dan ada hukuman bila dilanggar
  29. Nak, hafalanmu banyak, TV itu bisa memakan bagian pikiranmu
  30. Syukur kami tiada henti padamu ya Robbi atas karunia anak anak kami

Wirianingsih, Berbagi Pengalaman menjadi Ibu dari 10 anak Penghafal AlQuran

Terkadang saya suka bertanya sendiri, apa hal yang paling membuat saya bahagia dalam hidup ini? Ternyata jawabannya adalah sesaat setelah saya melahirkan.

Menjadi ibu dari sepuluh anak bukanlah bagian hidup yang saya rencanakan. Meski hal tersebut pernah diutarakan oleh suami, tapi saya hanya menjalani, dan ternyata benar Allah menghendaki saya memiliki sepuluh buah hati tersebut.

Seperti para ibu lainnya, tentulah masa ketika anakanak masih kecil sangat merepotkan. Terlebih saya tidak mempunyai pembantu, sehingga sebelum tidur saya harus sudah menyiapkan bahanbahan yang akan dimasak, kemudian disimpan di kulkas. Sebelum subuh saya sudah bangun, menyusui anak dulu, lalu setelah itu langsung ke dapur dan mulai memasak. Kalau si kecil bangun, saya terpaksa harus masak sambil menggendong bayi.

Kerepotan tersebut semakin terasa ketika anakanak sudah banyak dan hampir semua sekolah. Saya menyiapkan anakanak sebelum berangkat ke sekolah dengan keterbatasan yang ada, tapi saya selalu berusaha untuk tidak mengeluh. Dan hal tersebut juga saya wariskan pada anakanak agar tidak mengeluh. Jalani saja! Alhamdulillah, anakanak bisa mengerti kondisi, mereka tidak mengeluh sedikitpun walau harus makan seadanya. Padahal, saat itu saya menyiapkan makan siang mereka di subuh hari, dan mereka baru menyantapnya di waktu zuhur. Rasanya pasti sudah tidak seenak masakan baru matang, tapi alhamdulillah mereka bisa menerima.

Dengan segala kondisi yang ada, anakanak tidak ada yang mengeluh, mereka memahami segala keterbatasan yang dimiliki oleh orangtua mereka. Dan menurut saya, itulah pentingnya berbagi perasaan kepada anak, sehingga anak pun bisa paham dengan kondisi yang ada.

Setelah anak yang paling besar berangkat sekolah, pekerjaan pun masih belum selesai. Saya masih harus mengurus dan menyuapi anakanak yang masih kecil. Semua itu saya jalani sekitar tujuh tahun lamanya.

Keluhankeluhan pribadi pastilah ada. Namun keluhan tersebut nyatanya bukan karena saya capek mengurusi mereka, melainkan karena banyak sekali akhirnya yang tertunda ketika anakanak sakit. Setiap bulan dari kesepuluh anak saya, ada saja yang sakit: masuk rumah sakit, diopname, bahkan pernah juga dalam satu bulan ada dua anak yang sakit sekaligus.

Alhamdulillah, kerepotan tersebut bisa saya lewati dengan baik. Semua bisa saya jalani berkat dukungan keluarga, baik keluarga saya maupun keluarga suami. Mereka selalu memberikan kontribusi baik moril maupun materiil. Yang membuat saya dan suami bisa sabar menjalani semuanya.

Memang sangat repot memiliki banyak anak, namun kerepotan tersebut akan hilang seketika dengan apa yang selalu saya rasakan jika melihat mereka. Jika malam hari anakanak sedang ngumpul, saya suka merenung sendiri, apa sih hal yang membuat saya merasa bahagia di dunia ini?
Ternyata jawabannya adalah ketika saya selesai melahirkan. Ya, setelah saya selesai melalui perjuangan melahirkan, dan melihat anak saya menangis, adalah hal yang amat membahagiakan. Saya kira perasaan ini hanya muncul pada anak pertama, tapi ternyata hal itu terjadi juga pada anak kedua, ketiga, bahkan anak kesepuluh. Saat itu saya merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini.

Pengalaman Pertama Menjadi Ibu

Pada 1985 saya mengalami hamil yang pertama. Saya baru saya saat saya sedang mengisi acara training di Sumatera Selatan. Saya sendirian, mebawa koper, berangkat sendiri, dan di saat itulah saya sadar kalau ternyata saya sudah telat 2 minggu. Saya periksa ke dokter. Dan begitu saya tahu bahwa Allah mengizinkan saya hamil, saya langsung memiliki banyak citacita. Saya mengajak ngobrol jabang bayi saya setiap hari. Saya utarakan mimpimimpi indah saya kepadanya.

Harapan pertama pada jabang bayi pertama saya saat itu adalah dia harus jago matematika. Saat itu sama sekali tidak kepikiran dia harus hafal AlQuran. Justru saat itu saya ingin anak saya harus jago matematika. Kenapa? Sebab saya ingat sekali waktu kelas 3 SD, saya diomeli oleh guru saya garagara tidak bisa mengerjakan soal matematika. Jadi, ketika saya hamil saya langsung punya citacita anak ini harus jago matematika. Dan apa bukti dia jago matematika? Buktinya adalah ketika kelak dia melanjutkan kuliahnya, dia harus masuk ITB. Belum lahir saja saya sudah punya obsesi anak saya harus masuk ITB. Dan alhamdulillah tercapai, anak pertama saya, Aaf, memang paling bagus matematikanya dibandingkan yang lain.

Ketika dia memilih perguruan tinggi, saya sempat bernazar, Kalau anak ini benar bisa masuk ITB, saya mau ajak dia umrah. Akhirnya saya pun menabung untuk dia. Saya bertahajud setiap malam. Dan ketika ujian masuk perguruan tinggi berlangsung, saya tidak hentihentinya berdoa. Alhamdulillah, citacita pertama saya itu tercapai. Saat ini anak pertama saya sedang menyelesaikan tugas akhirnya di ITB.

Citacita kedua saya, yaitu anak ini harus menjadi AlQuran berjalan.Keberhasilan itu bukan tercapainya tujuan tapi pada proses yaitu Komitmen dan konsistensi kita menjalaninya. Kepada Allah kembali segala urusan

(mbcsukses)

sumber : http://www.islamedia.co/2015/01/ternyataustadzahwirianingsih.html

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *