Apa Itu KIPI?

Seiring dengan tingginya cakupan imunisasi dan meningkatnya penggunaan vaksin, maka reaksi vaksinasi yang tidak diinginkan juga meningkat. WHO kemudian menggolongkan reaksi vaksinasi ke dalam kelompok adverse events following immunization (AEFI) atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) adalah suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi. Untuk mengetahui hubungan antara pemberian imunisasi dengan KIPI diperlukan pelaporan dan pencatatan semua reaksi yang tidak diinginkan yang muncul setelah pemberian imunisasi.

sumber: www.child-encyclopedia.com
sumber: www.child-encyclopedia.com

WHO Western Pacific pada tahun 1999 mengungkapkan penyebab KIPI menurut klasifikasi lapangan yang dilakukannya, yaitu:

  1. Induksi vaksin (vaccine induced). Terjadinya KIPI disebabkan oleh karena faktor intrinsik vaksin terhadap individual resipien. Gejala KIPI yang disebabkan oleh iinduksi vaksin umumnya sudah dapat diprediksi terlebih dahulu karena merupakan reaksi simpang vaksin dan secara klinis biasanya ringan. Walaupun demikian, gejala klinis hebat seperti reaksi anafilaksis sitemik dengan risiko kematian juga dapat terjadi. Misalnya, seorang anak menderita poliomyelitis setelah mendapat vaksin polio oral.
  1. Provokasi vaksin (vaccine potentiated). Gejala klinis yang timbul dapat terjadi kapan saja. Contohnya kejang, demam pasca imunisasi yang terjadi pada anak yang mempunyai predisposisi kejang.
  1. Kesalahan pelaksanaan program (programmatic errors). Gejala KIPI timbul sebagai akibat kesalahan pada teknik pembuatan dan pengadaan vaksin atau teknik cara pemberian. Sebagian kasus KIPI berhubungan dengan masalah program dan teknis pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan program penyimpanan, pengelolaan, dan tata laksana pemberian vaksin. Contoh, terjadi indurasi pada bekas suntukan disebabkan vaksin yang seharusnya diberikan secara intramuscular diiberikan secara subkutan.
  1. Koinsidensi (coincidental). KIPI terjadi bersamaan dengan gejala penyakit lain yang sedang diderita. Indikator faktor koinsidensi ditandai dengan ditemukannya kejadian yang sama disaat bersamaan pada kelompok populasi setempat dengan karakteristik serupa tetapi tidak mendapatkan imunisasi. Contoh, bayi yang menderita penyakit jantung bawaan mendadak sianosis setelah diimunisasi.

 

Pada tahun 1991, melalui expanded programme of immunization (EPI), WHO telah mengajukan pelaporan KIPI oleh tiap negara. Untuk negara berkembang yang paling penting adalah bagaimana mengkontrol vaksin dan mengurangi programmatic errors, termasuk cara penggunaan alat suntuk dengan baik, alat sekali pakai atau alat suntuk auto-distruct, dan cara penyuntikan yang benar shingga transisi pathogen melalui darah dapat dihindari. Kemudian WHO juga menekankan bahwa untuk memperkecil terjadinya KIPI, harus diupayakan peningkatan ketelitian, pada pemberian imunisasi selama program imunisasi dilaksanakan.

Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik baik langsung maupun tidak langsung haris dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak, dan kemerahan pada tempat suntikan, sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual, sampai sinkope.

Pada pelaksanaannya, penyebab KIPI tidaklah mudah ditentukan. Untuk menentukan penyebab KIPI diperlukan keterangan rinci mengenai riwayat pemberian vaksin terdahulu, adakah ditemukan alternative penyebab, kerentanan individu terhadap vaksin, kapan KIPI terjadi (tanggal, hari, jam), bagaimana gejala yang timbul, berapa lama interval waktu sejak diberi vaksin sampai timbul gejala, apakah dilakukan pemeriksanaan fisis serta ditunjang dengan pemeriksaan laboratorium. Dari data yang tersedia, kemudian diperlukan analisis kasus untuk mengambil kesimpulan.

Risiko KIPI selalu ada pada setiap tindakan imunisasi, oleh karena itu, profesi kesehatan yang terkait perlu memahami KIPI serta penanggulannya. Dalam rangka meningkatkan kegiatan pelaporan dan pencatatan kasus KIPI, pemerintah telah membentuk Pokja KIPI Depkes yang terdiri dari klinisi, organisasi profesi (IDAI, POGI), pakar dalam bidang mikrobiologi, virology, vaksin, farmakologi, epidemiologi, dan pakar hukum. (NNS)

 

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *