Thimerosal Tidak Menyebabkan Autisme

Meningkatnya jumlah anak yang hidup dengan autisme pada beberapa dasawarsa terakhir menyebabkan kemunculan dugaan bahwa vaksin menjadi penyebabnya. Kekhawatiran ini dapat dipahami karena penyebab autisme hingga saat ini masih belum dapat dipastikan. Salah satu bahan yang dianggap sebagai penyebab autisme dalam vaksin adalah thimerosal.

Thimerosal adalah merupakan zat tambahan yang berfungsi mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur. Thimerosal sudah digunakan sebagai bahan tambahan pada sediaan biologi dan farmasi mulai dari tahun 1930. Senyawa ini digunakan sebagai pengganti Benzalkonium Klorida dan pengawet Fenilmerkuri lain, yang memiliki aktivitas antibakteri dan antifungi. Thimerosal  ini mengandung merkuri (air raksa). Merkuri dalam jumlah besar bersifat toksik dan dapat meracuni otak.

Merkuri adalah bagian dari permukaan bumi yang dilepaskan ke lingkungan oleh pembakaran batu bara, erosi batu, dan letusan gunung berapi. Merkuri yang dilepaskan akan tersebar ke permukaan danau, sungai, dan laut, yang akan diubah menjadi metilmerkuri oleh bakteri. Senyawa merkuri di alam dibedakan menjadi dua tipe yaitu Metil merkuri dan Etil merkuri. Metil merkuri ditemukan pada hampir semua jenis ikan laut, paparan metil merkuri dalam jumlah besar pada manusia dapat menyebabkan keracunan. Sementara etil merkuri memiliki sifat yang berbeda dengan metil merkuri, senyawa ini mudah untuk dieleminasi dari tubuh hingga tidak menyebabkan bahaya. Dan senyawa inilah yang terkandung dalam thimerosal.

Para peneliti pun mencoba untuk membuktikan adanya hubungan antara thimerosal dengan autisme, seperti beberapa penelitian berikut ini:

  1. Penelitian berjudul “Prenatal and Infant Exposure to Thimerosal From Vaccines and Immunoglobulins and Risk of Autisme” ini dipubliksikan oleh Jurnal Pediatrics (Oct 2010; 126(4):656-664) dan merupakan studi kasus-kontrol dari VSD. Penelitian ini melibatkan 256 anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dan 752 kontrol. Hasilnya disimpulkan bahwa peningkatan paparan etilmerkuri dari thimerosal dalam vaksin tidak meningkatkan risiko terjadinya ASD.
  2. Penelitian berjudul “Autism and Thimerosal-Containing Vaccines: Lack of Consistent Evidence for an Association” oleh Kohort ini dipublikasikan dalam American Journal of Preventive Medicine, (Aug 2003: 25(2):101-6). Penelitian ini menggunakan data dari Denmark dan Swedia yang telah menghentikan penggunaan thimerosal dalam vaksin pada tahun 1992, tepatnya sebelum isu merebak. Ternyata, kasus autisme meningkat dari tahun 1987-1999. Hal tersebut menunjukkan penghilangan thimerosal tidak mengurangi kasus autisme.
  3. Penelitian berjudul “Safety of Thimerosal-Containing Vaccines: A Two Phased Study of Computerized Health Maintenance Organization Databases” oleh Kornot ini dipublikasikan dalam Jurnal Pediatrics, (Nov 2003; 112(5): 1039-48). Data VSD digunakan dalam penelitian ini untuk menilai adanya hubungan antara paparan thimerosal dengan berbagai kelainan pada ginjal, saraf, dan perkembangan otak. Penelitian tahap pertama menemukan hubungan yang lemah terhadap kedua faktor ini, sedangkan penelitian tahap kedua tidak menemukan adanya hubungan diantara kedua faktor tersebut.
  4. Penelitian berjudul “Neuropsychological Performance 10 Years After Immunization in Infancy With Thimerosal-Containing Vaccines” ini dipublikasikan dalam Jurnal Pediatrics, (Feb 2009; 123(2): 475-482) dan merupakan sebuah uji klinis yang dilakukan di Italia. Penelitian ini membandingkan luaran kelainan neuropsikologi antara kelompok yang mendapatkan Vaksin DPaT yang mengandung thimerosal dengan kelompok yang mendapatkan Vaksin DPaT yang megandung 2-fenoksietanol. Hasilnya adalah kelompok pertama mempunyai kandungan etilmerkuri lebih tinggi (137,5 mikrogram) dibandingkan dengan kelompok kedua (62,5 mikrogram). Uji neuropsikologis yang dilakukan dalam selang waktu 10 tahun setelah imunisasi tidak menunjukkan adanya kelainan perkembangan otak atau saraf.

Penelitian-penelitian diatas menunjukkan dengan sangat jelas bahwa tidak ada hubungan antara thimerosal dengan autisme. Keberadaan vaksin dengan thimerosal tidak perlu dikhawatirkan. Prinsipnya adalah semua manusia di planet ini memiliki kandungan berbagai logam berat di dalam tubuhnya. Kandungan logam berat dalam jumlah besar, tentunya dapat membahayakan tubuh, tetapi kandungan dengan jumlah yang sangat sedikit di dalam tubuh manusia tidak akan menimbulkan masalah kesehatan.

Sumber: Arifianto. 2014. Pro Kontra Imunisasi Agar Tak salah Memilih Demi Kesehatan Buah Hati. Jakarta: PT Mizan Publika dan http://www.cdc.gov/vaccinesafety/concerns/thimerosal/

Please Post Your Comments & Reviews

Your email address will not be published. Required fields are marked *